Anggota DEN Pantau Dampak Konflik Iran: Indonesia Mitigasi Lewat Pengurangan Impor Minyak

Anggota DEN Septian Hario Seto mewaspadai eskalasi konflik di Iran yang berpotensi memicu volatilitas harga energi global, terutama jika Selat Hormuz ditutup.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) tengah memantau ketat dampak eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent ke level USD 78,2 per barel. Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi melalui penguatan program biodiesel guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengaku masih memantau dampak serangan AS dan Israel ke Iran. Utamanya terkait dampaknya ke harga energi global. Seto masih menunggu kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut. Setidaknya, dampaknya bisa terlihat jelas dalam sepekan ke depan.

"Kalau menurut saya uncertainty-nya masih cukup tinggi. Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan, terutama seminggu ke depan ini, bagaimana eskalasinya di sana," ungkap Seto, ditemui di Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Jakarta, Senin (2/3/2026).

Jika tidak ada eskalasi perang lanjutan, menurutnya dampaknya tidak akan memukul terlalu berat. Meski, pada awal-awal serangan ini harga minyak mentah Brent sudah naik ke USD 78,2 per barel.

"Jadi kalau ini bisa selesai cepat, mungkin naiknya enggak akan tinggi lagi. Tapi kalau ini berlarut-larut, ya itu yang dikhawatirkan. Itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain dan volatilitas harga di energinya bisa akan lebih tinggi," tuturnya.

Anak Buah Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan banyak negara akan terdampak eskalasi ketegangan di Iran tersebut.

 

Negara Importir Minyak Bakal Terdampak

Seto menuturkan, negara yang mengimpor minyak mentah akan merasakan dampak eskalasi perang, apalagi jika penutupan Selat Hormuz dilakukan dalam waktu yang lebih lama.

"Secara umum, secara keseluruhan ke seluruh negara, saya kira dampaknya adalah transmisinya itu akan mungkin dilihat nanti dari harga energi. Jadi itu yang mungkin akan mempengaruhi kondisinya banyak negara, terutama yang impor minyak," ujar dia.

Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup banyak mengimpor minyak mentah. "Kalau LNG mungkin kalau ke Indonesia enggak terlalu kali ya. Tapi itu kan ada tiga kalau enggak salah LNG terminal yang dekat di situ. Jadi mungkin kita harus lihat seberapa besar pengaruhnya terhadap pasokannya," jelasnya.

 

RI Berupaya Kurangi Impor

Sementara itu, Seto menyampaikan pemerintah Indonesia mulai mengurangi ketergantungan akan impor tersebut. Misalnya dengan strategi yang dibawa Presiden Prabowo Subianto.

"Tapi kalau kita lihat strateginya Bapak Presiden, dari awal kita sudah coba mengurangi dependensi terhadap impor," ucapnya.

"Tadi salah satunya biodiesel, kebijakan dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi. Jadi kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya," sambung Seto.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6