Neraca Perdagangan Juli 2026 Surplus, Ekspor Tumbuh 6,05 Persen

Neraca perdagangan Indonesia Juli 2026 surplus USD 0,12 miliar, ditopang ekspor nonmigas yang terus tumbuh.

Diterbitkan 03 September 2026, 12:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar USD 0,12 miliar. Kinerja tersebut ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 3,10 miliar yang mampu mengimbangi defisit sektor migas senilai USD 2,98 miliar.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekspor Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Nilai ekspor Juli 2026 mencapai USD 26,22 miliar atau meningkat 2,98 persen dibandingkan Juni 2026. Secara tahunan, ekspor tumbuh 6,05 persen.

Sementara itu, secara kumulatif Januari-Juli 2026, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,70 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar USD 22,45 miliar, sedangkan perdagangan migas masih mengalami defisit USD 18,75 miliar. Data tersebut sejalan dengan catatan BPS dan Kementerian Perdagangan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia tetap terjaga.

“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas. Pemerintah akan terus mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang di berbagai pasar tujuan serta memperluas pasar ekspor produk Indonesia,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

Berdasarkan negara mitra, AS menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada Januari-Juli 2026 dengan nilai USD 12,81 miliar. Berikutnya India USD 7,96 miliar, Filipina USD 4,72 miliar, Malaysia USD 3,39 miliar, dan Vietnam USD 2,95 miliar.

 

Ekspor Indonesia Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Penopang

Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD 26,22 miliar, naik 2,98 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,05 persen dibandingkan Juli 2025.

Kinerja tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai USD 25,43 miliar. Nilainya meningkat 4,25 persen secara bulanan dan 6,84 persen secara tahunan.

Sejumlah komoditas mencatat pertumbuhan ekspor nonmigas cukup tinggi pada Juli 2026. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) naik 23,05 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) tumbuh 21,20 persen, sedangkan pakaian dan aksesorinya bukan rajutan (HS 62) meningkat 20,65 persen.

Sebaliknya, ekspor logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) turun 45,07 persen. Ekspor nikel dan barang daripadanya (HS 75) juga turun 38,25 persen, sementara lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) turun 6,21 persen.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Juli 2026 mencapai USD 167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai USD 160,01 miliar atau tumbuh 5,21 persen.

Industri pengolahan menjadi penopang utama. Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor sektor ini tumbuh 7,16 persen dengan kontribusi 82,18 persen terhadap total ekspor Indonesia.

“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” kata Mendag Busan.

Impor Indonesia Naik 19,94 Persen, Bahan Baku Mendominasi

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD 26,09 miliar, naik 0,72 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 27,02 persen dibandingkan Juli 2025.

Impor nonmigas tercatat USD 22,33 miliar atau naik 4,57 persen secara bulanan. Sementara impor migas turun 17,33 persen menjadi USD 3,77 miliar.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, impor mencapai USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas naik 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar.

Berdasarkan penggunaan barang, bahan baku dan penolong masih mendominasi impor dengan pangsa 71,45 persen. Barang modal menyumbang 19,88 persen dan barang konsumsi 8,67 persen.

Dengan demikian, bahan baku dan penolong serta barang modal mencapai 91,33 persen dari total impor Indonesia. Kondisi ini menunjukkan sebagian besar impor digunakan untuk menopang kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.

“Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya,” kata Mendag Busan.

Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari-Juli 2026 dengan pangsa 42,38 persen.

Pemerintah selanjutnya akan menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan domestik dan peningkatan ekspor melalui peningkatan daya saing, hilirisasi, serta diversifikasi pasar.

“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor, sehingga kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan,” ujar Mendag Busan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6