CEO Strategy Tak Menyesal Jual Bitcoin Murah dan Beli Lagi Lebih Mahal

Meski terlihat rugi di atas kertas, CEO Strategy menilai keputusan jual Bitcoin di US$ 60.000 tetap tepat.

Diterbitkan 03 September 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - CEO Strategy Phong Le mengatakan dirinya tidak menyesal menjual Bitcoin di sekitar US$ 60.000 sebelum kembali membelinya pada harga yang lebih tinggi.

Dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (3/9/2026), keputusan tersebut memang terlihat seperti transaksi yang merugikan jika hanya dilihat dari harga jual dan harga beli kembali. Namun, CEO Strategy menilai langkah tersebut tetap merupakan keputusan yang tepat.

Pernyataan itu disampaikan ketika sang CEO menjelaskan keputusan perusahaan menjual Bitcoin di kisaran US$ 60.000 dan kemudian membelinya kembali sekitar US$ 80.000.

Urutan transaksi tersebut menjadi sorotan karena Strategy menjual Bitcoin terlebih dahulu pada harga lebih rendah, kemudian masuk kembali ketika harganya sudah naik.

Secara sederhana, strategi jual murah lalu beli mahal berlawanan dengan prinsip dasar perdagangan di pasar.

Namun, CEO Strategy tidak meminta maaf atas keputusan tersebut. Ia justru menegaskan tidak menyesal dengan langkah yang diambil perusahaan.

Strategi serupa sebelumnya juga terlihat ketika Strategy menjual 1.690 Bitcoin untuk membeli kembali saham STRC.

Bagi perusahaan, transaksi tersebut bukan berarti meninggalkan Bitcoin, melainkan bagian dari pengelolaan aset dan modal perusahaan.

 

Harga Beli Kembali Lebih Tinggi Tak Berarti Keputusan Salah

Argumen CEO Strategy berfokus pada perbedaan antara hasil sebuah transaksi dan kualitas keputusan ketika transaksi tersebut dibuat.

Penjualan Bitcoin di sekitar US$ 60.000 yang kemudian diikuti pembelian kembali sekitar US$ 80.000 memang membuat perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memperoleh Bitcoin dalam jumlah yang sama.

Namun, menurut pandangan tersebut, kondisi itu tidak otomatis membuktikan keputusan awal menjual Bitcoin merupakan sebuah kesalahan.

Sebuah keputusan dapat dibuat berdasarkan alasan dan kondisi tertentu pada suatu waktu. Pergerakan harga setelah keputusan tersebut diambil tidak selalu dapat menjadi ukuran untuk menilai apakah keputusan tersebut benar atau salah.

Menilai keputusan hanya berdasarkan harga saat pembelian kembali berarti melihatnya dengan kacamata hindsight atau pengetahuan yang baru diketahui setelah peristiwa terjadi.

Strategy sebelumnya juga menggunakan logika serupa dalam menjelaskan kepemilikan Bitcoinnya.

Perusahaan menilai posisi Bitcoin yang dimilikinya memiliki daya tahan jangka panjang. Strategy juga pernah menggambarkan penjualan Bitcoin tertentu sebagai langkah taktis, bukan tanda perusahaan mundur dari aset kripto tersebut.

Salah satunya adalah ketika Strategy menjual 1.690 Bitcoin untuk membeli kembali saham STRC.

 

Strategy Tetap Pertahankan Keyakinan pada Bitcoin

Bagi investor Bitcoin, sikap tanpa penyesalan dari CEO Strategy lebih menunjukkan bagaimana perusahaan memandang keyakinan terhadap Bitcoin dan strategi pengelolaan aset.

CEO Strategy memberi sinyal bahwa membeli atau menjual Bitcoin merupakan bagian dari instrumen pengelolaan modal, bukan berarti perusahaan mengubah pandangan jangka panjangnya terhadap Bitcoin.

Pesan tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden Strategy, Phong Le, yang sebelumnya mengatakan penjualan ribuan Bitcoin tidak akan menggerakkan harga pasar secara signifikan.

Hal itu menunjukkan perusahaan melihat kepemilikan Bitcoin sebagai aset yang dapat dikelola secara aktif tanpa harus meninggalkan strategi jangka panjang.

Strategy juga tidak selalu berada dalam mode membeli Bitcoin secara terus-menerus. Perusahaan sebelumnya sempat menghentikan pembelian Bitcoin hingga saham preferennya kembali mengalami pemulihan.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas pembelian Bitcoin Strategy dapat menyesuaikan dengan kondisi permodalan perusahaan, bukan dilakukan secara otomatis.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam kerangka modal kredit digital milik perusahaan yang menjelaskan bagaimana Strategy membangun strategi permodalannya dengan Bitcoin sebagai aset utama.

Pada akhirnya, pernyataan tanpa penyesalan tersebut menyisakan satu pertanyaan:

jika menjual Bitcoin di US$ 60.000 lalu membelinya kembali dengan harga lebih tinggi tetap dianggap sebagai keputusan yang tepat, seperti apa keputusan yang dianggap salah oleh CEO Strategy?