India Resmi Gabung Aliansi 'Pax Silica' Pimpinan AS, Perkuat Rantai Pasokan Chip AI Global

India resmi bergabung dalam aliansi teknologi 'Pax Silica' pimpinan AS. Langkah strategis ini memperkuat rantai pasokan chip AI global dan dominasi teknologi

Diterbitkan 19 Februari 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - India resmi bergabung dalam inisiatif Pax Silica, sebuah aliansi teknologi strategis yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Langkah ini disebut-sebut sebagai kemenangan diplomatik terbesar Amerika Serikat (AS) dalam persaingan global memperebutkan kendali atas semikonduktor canggih dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Pax Silica merupakan inisiatif di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dirancang khusus untuk mengamankan rantai pasokan global teknologi berbasis silikon. Dengan masuknya India, negara ini resmi bersanding dengan anggota inti lainnya antara lain Jepang, Korea Selatan, Singapura, Belanda, Israel, Inggris, Australia, hingga Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Demikian dikutip dari CNBC, Kamis, (19/2/2026).

Membendung Risiko dan Diversifikasi

Partisipasi India diresmikan dalam gelaran India AI Impact Summit di New Delhi, membawa salah satu pasar teknologi terbesar di dunia, dan anggota aliansi BRICS, ke Pax Silica pada saat persaingan atas perangkat keras AI semakin intensif di seluruh blok geopolitik.

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, Jacob Helberg, menegaskan aliansi ini bukan semata-mata untuk menyerang pihak tertentu, melainkan bentuk pertahanan ekonomi.

"Pax Silica sebenarnya bukan tentang China, melainkan tentang Amerika. Kami ingin mengamankan rantai pasokan kami," ujar Helberg dalam wawancara dengan CNBC. Ia menambahkan, India dipandang sebagai mitra kunci untuk mengurangi risiko serta diversifikasi rantai pasokan agar tidak bertumpu pada satu wilayah saja.

 

 

Kontroversi di Balik Akses Chip AI

Meski disambut positif sebagai langkah strategis bisnis, masuknya anggota baru ke Pax Silica tidak lepas dari sorotan. Washington tengah menghadapi pengawasan ketat terkait bagaimana izin akses terhadap chip AI canggih diberikan kepada mitra asing.

Laporan terbaru dari The Wall Street Journal memicu kekhawatiran di Kongres AS mengenai potensi konflik kepentingan. Sorotan tertuju pada Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan dari UEA yang membeli 49 persen saham rahasia di perusahaan kripto milik keluarga Trump, World Liberty Financial, senilai USD 500 juta.

Tak lama setelah transaksi tersebut, AS menyetujui akses UEA terhadap 500.000 unit chip AI tercanggih Amerika setiap tahunnya.

Strategi "Layanan Pendamping" Diplomatik

Untuk memperlancar kerja sama ini, Departemen Luar Negeri AS meluncurkan uji coba "layanan pendamping" chip AI. Program ini bertujuan membantu negara penandatangan Pax Silica mendapatkan buatan AS dengan lebih efisien.

Helberg menjelaskan bahwa para diplomat AS nantinya akan berperan layaknya konsultan bisnis bagi sekutu mereka, memberikan dukungan konsultatif untuk membantu pemerintah dan pemimpin industri yang terpercaya dalam menavigasi jadwal pengadaan dan pengiriman chip canggih.

"Ini benar-benar bagian dari strategi kami untuk memenangkan perlombaan AI," pungkas Helberg.

Dengan dukungan diplomatik yang agresif, AS berharap teknologi silikon mereka tetap menjadi standar utama di tengah geopolitik yang kian memanas.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6