Industri China Bangkit Usai Tarif Trump, Pabrik dan Pelabuhan Ramai Lagi

Industri di China kembali sibuk akibat lonjakan aktivitas kontainer dan produksi barang, terutama menjelang liburan Tahun Baru Imlek.

Diterbitkan 16 Februari 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas Industri pabrik di China tetap melonjak meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menerapkan tarif yang tinggi pada China. Para produsen berlomba untuk memenuhi pesanan dan mengirimkan barang sebelum negara tersebut memasuki liburan panjang Tahun Baru Imlek.

Pendiri dan CEO Agilian Technology, produsen elektronik yang berbasis di Guangdong, Renaud Anjoran mengatakan, pabriknya beroperasi hampir pada kapasitas penuh setelah setahun mengalami ancaman tarif yang naik turun.

"Kami sangat sibuk,” ujar dia dikutip dari CNBC, Senin, (16/2/20260.

"Situasinya kembali seperti tidak ada tarif. Pelanggan Amerika tidak berpikir untuk membeli dari tempat lain,” ia menambahkan.

Pabriknya mengekspor lebih dari separuh produksinya ke Amerika Serikat, dengan volume pengiriman yang tetap setara seperti sebelum tarif era Trump diberlakukan tahun lalu.

Menurut China Beige Book, pabrik-pabrik melihat Tahun Baru Imlek adala fenomena yang menguntungka di mana pesanan, produksi, dan pendapatan melonjak pesat.

Menurut analis transportasi dan logistik HSBC, pelabuhan-pelabuhan utama di China mencatat volume kontainer melonjak sebesar 40% secara tahunan pada akhir 1 Februari.

Capaian itu menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam lebih dari setahun dan jauh melampaui rata-rata kenaikan mingguan sekitar 10% sepanjang 2025.

Dekan di Ningbo China Institute for Supply Chain Innovation, Jay Guo mengatakan, pelabuhan di Ningbo melebihi kapasitas, dengan masing-masing kapal kelebihan pemesanan lebih dari 20%, dan masuknya kontainer telah ditangguhkan.

Biaya Transportasi Meningkat

Guo menjelaskan kemacetan parah yang disebabkan oleh truk mendorong kenaikan tarif hingga 80%.

Ahli rantai pasokan dan logistik global Wolfgang Lehmacher menuturkan, laporan khusus untuk pengirim barang di Eropa, Amerika Utara, dan Asia yang berfokus pada Tahun Baru Imlek menunjukkan adanya peningkatan pemesanan dari China menjelang liburan.

Namun, kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh efek basis rendah karena perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini jatuh pada pertengahan Februari, lebih lambat dibandingkan 2025 yang berlangsung pada akhir Januari.

Lonjakan aktivitas akibat peningkatan pesanan menjelang musim liburan mendorong kenaikan tarif angkutan barang.  Laporan pemantauan angkutan HSBC yang dirilis Senin, 9 Februari 2026 mencatat Indeks Angkutan Kontainer Shanghai berada di kisaran 1.400 hingga 1.656 pada awal Januari, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 15 tahun terakhir yang berada di rentang 1.337 hingga 1.568.

Suku bunga mencapai puncaknya tiga minggu lebih awal dari pola historis yang diperkirakan, menandakan peningkatan penawaran sebelum liburan yang terjadi lebih awal tahun ini, kata analis HSBC dalam catatannya.

Laporan angkutan barang HSBC menunjukkan pengiriman kontainer besar ke AS berada di atas level periode yang sama pada 2024 dan 2025 untuk sebagian besar bulan Januari dan hingga Februari.

Tarif angkutan udara untuk rute Amerika Serikat dan Eropa tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara indeks ekspor Shanghai Pudong di Bursa Efek Baltik naik 5,3% pada pekan yang berakhir 2 Februari dibandingkan pekan sebelumnya.

Perusahaan-perusahaan tetap meluncurkan produk baru seiring meredanya ketegangan tarif. Usai pertemuan tingkat tinggi pada Oktober, China dan Amerika Serikat menyepakati gencatan dagang selama satu tahun yang mempertahankan tarif ekspor China ke AS tetap rendah.

Sebagian besar pada 2025, China mengurangi pengiriman langsungnya ke Amerika Serikat sambil meningkatkan ekspor ke pasar alternatif termasuk Asia Tenggara dan negara-negara Eropa.

Fokus Kurangi Risiko

Meski banyak perusahaan berupaya mendiversifikasi rantai pasokan, aktivitas pabrik di China tetap ramai. Sejumlah perusahaan multinasional mempercepat strategi pengadaan “China-plus-one” ke Asia Tenggara serta memindahkan sebagian produksi ke pasar yang lebih dekat seperti Meksiko dan Eropa. 

Namun, menurut Lehmacher, mereka masih mempertahankan porsi produksi dan pengadaan yang signifikan di Tiongkok.

Menurut mitra senior di Tidalwave Solutions,  Cameron Johnson produsen otomotif, barang konsumsi, dan perlengkapan olahraga di Tiongkok selatan kini kembali sibuk karena tengah menyelesaikan pesanan yang sempat tertunda sekaligus merespons permintaan dari pembeli luar negeri, termasuk dari Amerika Serikat.

Para pemilik bisnis “menunggu selama mungkin agar ketidakpastian ini berakhir, tetapi sekarang mereka harus mencari cara untuk melangkah maju,” kata Johnson.

Menurut Anjoran, minat dari pelanggan Amerika  Serikat untuk mengembangkan produk baru telah pulih secara signifikan sejak saat itu. “Banyak orang memiliki produk baru dalam pikiran tetapi membekukan proyek tersebut karena ketidakpastian,” katanya.

"Sekarang tampaknya keadaan relatif stabil.”

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6