ILO Ungkap Perkembangan UMKM Peternak Sapi di Bandung Selatan

ILO menyatakan, skala usaha koperasi dapat memakai pendekatan ekosistem dengan mengintegrasikan akkses pasar.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Project Manager Promise II Impact ILO, Djauhari Sitorus, menyatakan skala usaha koperasi untuk peternak sapi bisa sangat bersaing untuk level selanjutnya. Lantaran, inklusi keuangan dan produk UMKM  dinilai cukup besar. 

Ia menyebut, koperasi menjual susu ke perusahaan besar seperti Ultrajaya dan industri pengolah susu lainnya, serta memproduksi yoghurt dan keju mozzarella untuk pasar lokal.

"Kemudian mengenai koperasi sapi ini, skalanya itu lumayan besar. Jadi mereka menjual ke perusahaan besar seperti ultrajaya, mereka jual ke industri pengolah susu yang besar-besar, dan sebagian mereka produksi sendiri jadi yoghurt, jadi keju mozzarella untuk lokal,” ujar dia, saat diskusi Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui PROMISE II IMPACT, di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Djauhari menegaskan proyek tersebut menggunakan pendekatan ekosistem dengan mengintegrasikan akses pasar, pembiayaan, dan digitalisasi. Menurut dia, lembaga keuangan lebih tertarik membiayai usaha yang telah memiliki pembeli tetap karena kepastian pasar menjamin kemampuan pembayaran pinjaman.

“Kalau mereka sudah ada, kami membantu penguatan, akses keuangan dan juga digitalisasi itu akan lebih efektif untuk membantu skalanya. Jadi sirkular ekonominya kami harapkan juga jalan,” ucapnya.

Tidak berhenti di sana, pihaknya juga mendorong pengolahan kotoran sapi kepada peternak menjadi biogas untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Namun, ia mengakui pemanfaatan limbah tersebut belum berjalan luas karena peternak memerlukan investasi dan pembelian alat pendukung.

 

 

 

ILO Beri Edukasi

Dia menuturkan, ILO telah memberikan edukasi kepada anggota koperasi agar peternak tidak membuang kotoran sapi ke sungai yang dapat mencemari lingkungan. Ia menyebut koperasi telah menyadari pentingnya pengelolaan limbah sehingga anggota kini mengolah kotoran menjadi biogas sebelum dibuang.

"Kami ke depan, kami bermitra dengan beberapa NGO yang lain yang memang spesialisasi untuk masalah-masalah environment seperti ini, sehingga mereka bisa membantu memberikan edukasi, dan nanti sebetulnya juga kita undang lembaga keuangan untuk membantu memberikan pembiayaan untuk membeli alatnya,” jelasnya lagi.

Untuk memperluas praktik ramah lingkungan itu, ILO akan bermitra dengan sejumlah NGO yang memiliki spesialisasi di bidang lingkungan. Ia menambahkan pihaknya juga akan mengundang lembaga keuangan untuk membuka akses pembiayaan pembelian alat biogas bagi peternak.

 

Dorong Penerapan Ekonomi Sirkular

ILO juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah menjadi biogas, pupuk, dan maggot sebagai sumber pendapatan tambahan. Ia menyatakan program dijalankan secara bertahap dengan memulai penguatan akses pembiayaan dan penerapan good farming practice.

Sebagai contoh, Djauhari menyebut Nestlé menerapkan standar kandang yang sejuk agar sapi tidak stres sehingga produksi susu meningkat. Ia menambahkan pengaturan komposisi pakan turut menentukan kualitas susu yang berdampak langsung pada harga jual produk.

“Dan juga makannya harus seperti ini campurannya, karena makannya itu langsung berdampak kepada kualitas susu. Kalau susunya lebih tinggi produknya, harganya lebih tinggi,” ujarnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6