Melihat Sorgum sebagai Strategi Pangan dan Energi

Direktur Utama PT Berkah Inti Daya Eri Prabowo mengungkapkan sejumlah manfaat sorgum sebagai komoditas pangan.

Diterbitkan 20 Januari 2026, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Berkah Inti Daya mengambil langkah strategis dengan mengembangkan sorgum sebagai komoditas pangan dan energi biomassa setelah sebelumnya mengalami kegagalan dalam memasarkan sorgum sebagai beras. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan sekaligus penguatan energi terbarukan berbasis biomassa.

Direktur Utama PT Berkah Inti Daya, Eri Prabowo, mengatakan perusahaannya sempat menghentikan operasional pabrik beras sorgum yang berlokasi di Blora karena rendahnya minat masyarakat. 

“Lima tahun lalu kami mengembangkan sorgum menjadi beras, tapi karena memang kurang diterima oleh masyarakat, akhirnya kami tutup,” ujarnya dalam forum diskusi, di CORE Indonesia, Selasa (20/1/2026).

Namun, kegagalan tersebut justru menjadi titik balik bagi perusahaan. Eri menjelaskan PT Berkah Inti Daya bangkit kembali dengan konsep dan strategi baru, yakni memanfaatkan sorgum sebagai bahan biomassa. 

"Kami bangkit lagi dari bencana ke strategi, yaitu biomass. Offtaker-nya jelas, pembelinya PLN Energi Primer Indonesia, dengan volume besar dan jangka panjang," ujar dia.

Ia menyampaikan, sorgum juga memiliki masa panen yang relatif cepat. Untuk kebutuhan biomassa, tanaman ini bisa dipanen dalam waktu sekitar 70 hari tanpa menunggu bulir. 

Sementara untuk menghasilkan bulir sorgum sebagai bahan pangan, waktu panen sekitar 100 hari.

"Kami sudah tanam beberapa hektar di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, untuk memasok biomassa ke PLTU Pelabuhan Ratu milik PLN,” ujar Eri.

Dari sisi ekonomi, Eri menyebut sorgum sangat menjanjikan. Produksi beras sorgum bisa mencapai 4 ton per hektare, sedangkan batang kering untuk biomassa mencapai sekitar 30 ton per hektare.

"Dengan nilai kalori 3.000 GAR, biomassa sorgum dihargai PLN sekitar Rp 500 ribu per ton. Artinya, satu hektare bisa menghasilkan sekitar Rp 15 juta per panen,” ungkapnya.

 

Biaya Produksi

Ia menambahkan biaya produksi sorgum relatif lebih rendah dibanding padi. Selain biomassa dan beras, sorgum juga memberikan sumber pendapatan lain seperti pakan ternak dan penjualan benih. 

“Ini yang saya sebut sebagai game changer. Dari satu tanaman, kita bisa dapat dua sampai empat sumber pendapatan,” kata Eri.

Meski saat ini harga beras sorgum di pasar daring bisa mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram, Eri optimistis ke depan sorgum akan lebih diterima masyarakat. Pengalaman di lapangan juga menunjukkan antusiasme petani cukup tinggi. 

“Petani di Pelabuhan Ratu menunggu kapan bisa tanam lagi, karena harga bagus dan sistem plasmanya jelas, hasil panen langsung kami serap,” ujarnya.

Kota Bandung Jadi Pusat Pengembangan Sorgum Nasional

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menyampaikan, pemerintah pusat menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu pusat pengembangan sorgum nasional. 

Klaimnya, Pemerintah Kota Bandung dinilai serius dalam mengembangkan sorgum sebagai sumber pangan dan energi alternatif. 

“Alhamdulillah, pengembangannya cukup berhasil. Bandung bahkan dijadikan pusat pengembangan sorgum nasional,” katanya lewat siaran pers, Sabtu, 21 Juni 2025.

Gin Gin menjelaskan, sorgum tengah dikembangkan sebagai solusi pangan berkelanjutan, terutama bagi masyarakat perkotaan.

 

Pengembangan Sorgum

Pengembangan sorgum di Kota Bandung, katanya, kini menjadi salah satu model percontohan nasional. 

“Sorgum ini bisa jadi alternatif pangan sekaligus sumber energi terbarukan. Sekarang sedang dikembangkan, dan bisa dilihat langsung ke lokasi sebelah (merujuk kebun sorgum di Seinfarm),” jelas Gin Gin.

Gin Gin mengungkapkan, meskipun Kota Bandung memiliki keterbatasan lahan, semangat petani urban tidak pernah surut. “Kita masih memiliki banyak petani urban yang sangat aktif, bahkan bisa dikatakan lebih keren dari petani biasa,” tuturnya.

DKPP Kota Bandung menyiapkan bantuan kepada kelompok tani, seperti benih, sarana produksi, dan dukungan teknis lainnya.

“Petani adalah penopang tatanan negara. Maka kita harus terus dukung, termasuk melalui inovasi seperti sorgum ini,” ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6