Tengok Prediksi Harga Emas 2026, Siap-Siap Tembus Segini

Simak prediksi harga emas di 2026.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 71% investor ritel memperkirakan harga emas akan diperdagangkan di atas level USD 5.000 per ons pada 2026. Optimisme ini sejalan dengan pandangan bank-bank besar dan para pakar yang menilai harga emas masih berpeluang melanjutkan tren penguatan, meski tidak sedramatis lonjakan pada 2025.

Pada 2025, harga emas melonjak hampir 65%, mengungguli hampir seluruh komoditas utama kecuali perak dan Platinum Group Metals (PGM), serta melampaui kinerja mayoritas kelas aset lainnya. 

Melansir laporan Kitco News, Minggu (4/1/2026), sejumlah analis industri menilai momentum tersebut masih berlanjut ke tahun berikutnya, sementara mayoritas investor ritel memperkirakan emas akan mencetak rekor tertinggi baru di atas USD 5.000 per ons pada 2026.

Pergerakan emas pada awal tahun sebelumnya sempat tidak stabil. Harga emas sempat naik mendekati USD 2.800 per ons pada akhir Oktober 2024, namun terpilihnya Donald Trump untuk masa jabatan kedua memicu reli aset berisiko, yang mendorong harga emas terkoreksi ke kisaran USD 2.500-an pada pertengahan November.

 

Hasil Survey Tahunan Kitco

Survei Emas Tahunan Kitco News mencerminkan keyakinan yang sangat kuat dari kalangan investor ritel terhadap potensi kenaikan harga emas. Optimisme serupa juga ditunjukkan oleh bank-bank besar dan para ahli industri yang memperkirakan harga emas secara umum akan lebih tinggi pada 2026.

Sebanyak 475 investor ritel ikut berpartisipasi dalam survei tersebut. Mayoritas responden memproyeksikan harga emas akan menembus rekor tertinggi baru di atas USD 5.000 per ons pada 2026, sementara hanya sekitar 10% yang memperkirakan harga akan kembali turun ke bawah USD 4.000.

Rinciannya, sebanyak 138 pedagang ritel atau sekitar 29% responden memperkirakan harga emas akan diperdagangkan di atas USD 6.000 per ons tahun depan, melampaui rekor tertinggi saat ini di atas USD 4.550 yang tercatat pada 26 Desember 2025. Kelompok terbesar, yakni 42% atau 197 investor, memperkirakan harga emas berada di kisaran USD 5.000–USD 6.000. Sementara itu, 19% responden memprediksi puncak harga berada di rentang USD 4.000–USD 5.000, dan 10% sisanya memperkirakan harga emas kembali turun ke kisaran USD 3.000–USD 4.000 per ons.

Dari sisi institusi, bank-bank Wall Street tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek emas pada 2026 setelah dua tahun kinerja yang sangat kuat. Meski demikian, tidak satu pun yang memproyeksikan pengulangan lonjakan persentase seperti yang terjadi pada 2025.

Goldman Sachs menilai emas sebagai komoditas paling menarik untuk 2026. Bank investasi tersebut berpandangan bahwa jika investor swasta ikut melakukan diversifikasi bersama bank sentral, harga emas berpotensi melampaui skenario dasar USD 4.900 per ons.

 

Emas Jadi Komoditas dengan Prospek Paling Positif

Dari seluruh komoditas yang dianalisis, Goldman Sachs menempatkan emas sebagai aset dengan prospek paling positif, terutama didorong oleh kuatnya permintaan dari bank sentral.

Goldman Sachs menyampaikan bahwa mereka memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan tetap solid pada 2026, dengan rata-rata sekitar 70 ton per bulan. Mereka menilai faktor geopolitik pasca pembekuan cadangan Rusia pada 2022, rendahnya porsi cadangan emas negara berkembang seperti China, serta tingginya minat bank sentral terhadap emas menjadi pendorong utama kontribusi signifikan terhadap kenaikan harga emas ke depan.

“Kami memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan tetap kuat pada tahun 2026, rata-rata 70 ton per bulan (mendekati rata-rata 12 bulan sebesar 66 ton, tetapi 4 kali lipat di atas rata-rata bulanan sebelum tahun 2022 sebesar 17 ton), dan akan berkontribusi sekitar 14 poin persentase terhadap prediksi kenaikan harga kami hingga 26 Desember karena tiga alasan,” kata mereka

Para analis Goldman Sachs juga melihat adanya risiko kenaikan tambahan terhadap proyeksi harga emas apabila diversifikasi semakin meluas ke investor swasta. Tren ini dinilai telah menciptakan persaingan antara investor dan bank sentral dalam kepemilikan emas batangan, yang selama beberapa tahun terakhir menopang pasar bullish.

Goldman Sachs mencatat bahwa porsi ETF emas dalam portofolio keuangan swasta AS masih relatif kecil, sehingga setiap peningkatan alokasi emas oleh investor dinilai berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap harga emas.

Dalam proyeksinya, Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan melemah ke kisaran USD 4.200 pada kuartal I-2026, kemudian kembali naik ke atas USD 4.400 pada kuartal II, sebelum mencetak rekor baru mendekati USD 4.630 pada kuartal III, dan berakhir di sekitar USD 4.900 pada kuartal IV-2026.

 

Tren Bullish Emas Berlanjut pada 2026

Sementara itu, J.P. Morgan memperkirakan tren bullish emas akan berlanjut pada 2026, didukung oleh fundamental yang tetap kuat. Bank tersebut menilai permintaan baru dari perusahaan asuransi besar di China serta komunitas kripto berpotensi mendorong harga emas menembus USD 5.055 pada akhir tahun.

Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global J.P. Morgan, menegaskan bahwa meskipun reli harga emas tidak bergerak secara linear, faktor-faktor struktural yang mendorong kenaikan harga belum berakhir. 

Meskipun reli harga emas ini belum, dan tidak akan, linear, kami percaya tren yang mendorong kenaikan harga emas ini belum berakhir,” kata Kaneva.

Ia memperkirakan tren jangka panjang cadangan resmi dan diversifikasi investor ke emas akan terus berlanjut, sehingga permintaan emas diproyeksikan mendorong harga mendekati USD 5.000 per ons pada akhir 2026.

Proyeksi J.P. Morgan didasarkan pada kuatnya permintaan investor yang berkelanjutan serta pembelian bank sentral yang diperkirakan rata-rata mencapai 585 ton per kuartal sepanjang 2026. Bank tersebut juga melihat potensi tambahan bagi pertumbuhan kepemilikan emas, terutama dari perusahaan asuransi China dan sektor kripto sebagai sumber permintaan baru.

 

Level Harga Emas

Di sisi lain, para ahli strategi komoditas UBS memperkirakan harga emas akan mencapai USD 5.000 per ons pada September 2026. UBS menilai peningkatan ketidakpastian politik atau ekonomi, khususnya menjelang pemilihan paruh waktu AS, berpotensi mendorong harga emas hingga USD 5.400.

UBS telah menaikkan target harga emas menjadi USD 5.000 per ons untuk tiga kuartal pertama 2026, sebelum memperkirakan harga turun ke sekitar USD 4.800 per ons pada akhir tahun. Proyeksi tersebut lebih tinggi USD 500 dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar USD 4.300 per ons.

UBS memperkirakan permintaan emas akan tetap meningkat pada 2026, didorong oleh imbal hasil riil yang rendah, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global, serta ketidakpastian kebijakan domestik di Amerika Serikat, khususnya terkait pemilihan paruh waktu dan tekanan fiskal.

UBS juga menegaskan bahwa jika risiko politik atau keuangan meningkat, harga emas berpotensi melonjak hingga USD 5.400 per ons, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6