Pengiriman Akhir Tahun Melonjak, IPC TPK Fasilitasi Layanan Tambahan

Antisipasi lonjakan pengiriman akhir tahun, IPC TPK resmi fasilitasi layanan adhoc CMA CGM untuk perkuat rute China-Indonesia dan cegah keterbatasan ruang muat.

Diterbitkan 23 Desember 2025, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memfasilitasi layanan tambahan (adhoc service) yang dibuka oleh shipping line CMA CGM, sebagai respons terhadap permintaan pengiriman barang akhir tahun yang meningkat.

Kehadiran layanan adhoc ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut dari China dan Intra Asia ke Indonesia. Seraya memitigasi risiko keterbatasan ruang muat (space constraint) yang kerap terjadi pada periode puncak akhir tahun.

Corporate Secretary IPC TPK Pramestie Wulandary menyampaikan, dukungan terhadap layanan baru merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membuka ruang kolaborasi yang efektif dengan berbagai shipping line.

"IPC TPK berkomitmen menjadi mitra strategis perusahaan pelayaran dengan menyediakan layanan terminal yang siap, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan pasar melalui kesiapan operasional dan layanan berbasis perencanaan," ujar Pramestie, Selasa (23/12/2025).

MV Hai Yun, kapal berbendera Singapura dengan panjang (Length Over All/LOA) 170 meter dan lebar (Beam) 28 meter, tercatat melakukan kegiatan bongkar muat sebanyak 742 boxes petikemas sebelum melanjutkan pelayaran menuju Singapura.

Kapal MV Hai Yun sandar di Terminal Operasi 3 IPC TPK Tanjung Priok dengan rute. Shanghai Jakarta Singapura pada 21 Desember 2025 pukul 15.00 WIB.

Proses sandar dan operasional kapal didukung dengan penerapan layanan berbasis perencanaan terpadu, termasuk berthing on arrival, guna meminimalkan waktu tunggu kapal.

 

Dukung Perdagangan Indonesia-China

Adapun layanan tambahan ini bakal semakin menopang pengiriman barang dari Indonesia ke China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia, dengan kontribusi mencapai 23,51 persen dari total ekspor nonmigas periode Januari-Oktober 2025, dengan nilai mencapai USD 52,45 miliar.

Pramestie menilai, kondisi ini menjadikan ketersediaan layanan pelayaran yang andal sebagai faktor penting dalam menjaga daya saing ekspor nasional.

"Dengan layanan seperti berthing on arrival dan pengelolaan operasi yang terintegrasi, IPC TPK siap mendukung kelancaran layanan pelayaran dan menjaga efisiensi logistik nasional. Ke depan, IPC TPK terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai shipping line melalui pelayanan yang andal dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan," tuturnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6