Kurs Dolar Perkasa, Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp 16.777

ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah mendorong penguatan kurs dolar. Dampaknya, rupiah harus melemah ke Rp 16.777.

Diterbitkan 22 Desember 2025, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin ini. Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat mata uang rupiah melemah ke level Rp 16.777 pada penutupan perdagangan sore ini.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 27 poin sebelumnya sempat melemah 40 poin di level Rp 16.777 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.750," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).

Adapun sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah diantaranya, kekhawatiran atas ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah juga mendorong harga minyak, setelah laporan akhir pekan mengatakan Israel berencana untuk memberi pengarahan kepada AS tentang serangan baru terhadap Iran.

Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada akhir Desember, dan diperkirakan akan mendorong tindakan lebih lanjut terhadap Iran karena kekhawatiran atas rudal balistik dan program nuklir Teheran.

"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah dapat mengganggu beberapa produksi minyak di wilayah tersebut, meskipun masih belum jelas apakah rencana untuk tindakan lebih lanjut terhadap Iran akan dilanjutkan," ujarnya.

Kemudian faktor lainnya yakni yang menambah ketidakpastian geopolitik global, laporan akhir pekan mengatakan AS sedang bersiap untuk menaiki kapal tanker ketiga di lepas pantai Venezuela, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas.

"Washington, di bawah Trump, telah meningkatkan pengawasannya terhadap Venezuela, menuduh negara itu menggunakan uang minyak untuk mendanai pengiriman narkoba dan imigrasi ilegal ke Amerika Serikat. Trump pekan lalu memerintahkan blokade kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang bepergian ke dan dari negara itu, dan juga telah meningkatkan kemungkinan kampanye darat terhadap negara Amerika Selatan tersebut," ujarnya.

Adapun Minggu ini, agenda ekonomi AS akan padat pada tanggal 23 Desember, karena minggu yang lebih pendek akibat liburan Natal. Para pedagang akan mencerna data rata-rata 4 minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP, angka pertumbuhan untuk kuartal ketiga, Pesanan Barang Tahan Lama bulan Oktober, dan data Produksi Industri untuk bulan Oktober dan November.

 

Faktor Internal

Sementara itu, di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni ekonom menilai perekonomian Indonesia ke depan masih akan menghadapi tantangan besar, baik dari sisi global maupun domestik. Namun, harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap ada meskipun dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, baik dari ekternal maupun internal Indonesia.

"Sebagai informasi saja, berbagai lembaga internasional, termasuk IMF, memproyeksikan kondisi ekonomi global 2026 tidak lebih baik dibandingkan 2025. Perlambatan ekonomi mitra dagang utama Indonesia, meningkatnya ketidakpastian perdagangan internasional, serta dinamika geopolitik global perlu diantisipasi secara serius," ujar Ibrahim.

Dari sisi domestik, melemahnya daya beli kelas menengah, risiko inflasi pangan, serta penurunan investasi asing di luar sektor hilirisasi. Ia juga mengingatkan dampak signifikan bencana di Sumatera terhadap perekonomian nasional.

Misal, faktor bencana di Sumatera cukup signifikan mempengaruhi capaian pertumbuhan ekonomi. Kalau kita lihat pengalaman tsunami Aceh 2004 itu kontraksi ekonominya sampai 2009, apalagi kalau bencananya di tiga provinsi, perlu lebih serius diatasi.

"Dengan kondisi tersebut diatas diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,1 persen. Untuk mencapai pertumbuhan di atas 5 persen, perlu adanya penguatan sektor manufaktur dan jasa, peningkatan efektivitas stimulus, serta perbaikan tata kelola fiskal," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6