Zero ODOL Diterapkan, 4,7 Juta Ton Angkutan Barang Dapat Beralih ke Kereta Api

Angkutan logistik dengan kereta api dapat mendorong pengalihan pengiriman dari moda truk ke kereta api.

Diterbitkan 19 November 2025, 20:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan penanganan truk lebih dimensi dan muatan atau over dimension and over load (ODOL) bisa mengalihkan 4,7 juta ton angkutan barang ke kereta api. Angkutan logistik dengan kereta api pun digadang mampu menghemat pengeluaran pengusaha.

Direktur Utama PT KAI Logistik, Fredi Firmansyah, memandang kebijakan Zero ODOL pada 2027 bisa mengalihkan angkutan barang dari truk. Dengan begitu, potensi penggunaan truk ODOL pun bisa berkurang.

"Regulasi tersebut diperkirakan dapat mendorong pengalihan pengiriman dari moda truk ke kereta api sekitar 4,7 juta ton, sehingga berpotensi meningkatkan market share kereta api sebesar 1,33 persen," kata Fredi dalam keterangan resmi, Rabu (19/11/2025).

Dia menghitung, kereta api juga dinilai mampu mengurangi beban biaya logistik. Utamanya untuk pengiriman jarak menegah dan panjang dari 750-1.500 kilometer (km). Kapasitas angkut yang besar menjadikan kereta api sebagai pilihan yang semakin relevan di tengah tuntutan industri terhadap ketepatan waktu dan konsistensi pelayanan. 

"Melalui satu rangkaian perjalanan, kereta api mampu mengangkut hingga 1.080 ton, setara dengan 60 truk berkapasitas 20 ton sehingga memberikan nilai ekonomis signifikan bagi pelaku usaha yang mengandalkan pengiriman dalam jumlah besar," beber dia.

Pengiriman logistik dengan kereta api, disebut Fredi, memberikan jaminan beberapa hal. Mulai dari perjalanan terjadwal dan tepat waktu, efisiensi energi dan biaya pada jarak menengah hingga panjang, standar keselamatan yang menjadi prioritas utama, hingga sistem pelacakan 24 jam serta perlindungan asuransi untuk setiap pengiriman. 

Konektivitas

Fredi menyebut, pada sisi konektivitas, KAI Logistik telah hadir di sejumlah titik strategis yang berdekatan dengan pelabuhan utama. Seperti Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Pelabuhan Tanjung Mas di Semarang, serta Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.

Konektivitas ini memperkuat integrasi layanan multimoda antara kereta api, truk, dan angkutan laut, sehingga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pelanggan dalam mengoptimalkan rantai pasoknya.

"Kombinasi aspek operasional, lingkungan, dan keselamatan inilah yang menjadikan kereta api sebagai moda yang relevan dalam menghadapi kebutuhan logistik modern," kata dia.

Kereta Api Lebih Efisien

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono mengungkapkan angkutan logistik menggunakan kereta api jauh lebih efisien dibandingkan truk. Baik dari sisi konsumsi bahan bakar hingga sumbangan emisi karbon yang dihasilkan.

Pada konteks angkutan logistik, satu rangkaian kereta mampu mengangkut setara dengan 30 truk. Jumlah tersebut bisa diasumsikan setara dengan angkuta 1.000 orang dalam satu kali jalan.

"Dari data, satu trainset itu bisa setara dengan mengangkut muatan 30 truk. Kalau orang, itu bisa 1.000 penumpang per rangkaian," ungkap AHY dalam ALFI Convex 2025, di ICE BSD, Rabu (12/11/2025).

 

Hemat Bahan Bakar

Dia turut menyampaikan bukti efisiensi lainnya. Yakni, soal ketepatan waktu dari kereta yang mencapai 99 persen. Ini mengacu pada masa lebaran 2025 lalu.

"Kemudian, hemat energi, lebih ramah terhadap lingkungan, mengapa? Karena konsumsi bahan bakar ini untuk kereta (logistik), dalam satu liter kereta itu 199 kilometer. Sedangkan untuk truk, satu liter itu 56 kilometer. Jadi, kereta 3 sampai 4 kali lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar," beber dia.

AHY merujuk pada laporan Asian Transport Outlook 2024. Laporan itu menunjukkan sektor kereta api tidak berkontribusi pada emisi CO2. "Karena lagi-lagi yang paling signifikan kontribusi emisinya adalah di sektor darat, dan juga sektor laut, Darat itu 8,89 persen, dan sektor laut 5 persen," kata dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6