Harga Emas Masih Perkasa, Bagaimana Proyeksinya Sepekan ke Depan?

Kepala Strategi Pasar di SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menilai harga emas kemungkinan akan mengalami jeda setelah kenaikan besar.

Diterbitkan 20 Oktober 2025, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanpa adanya rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang memengaruhi pasar, harga emas terus mencatat penguatan sepanjang pekan kemarin. Sentimen positif itu dipicu oleh kekhawatiran terhadap tarif dan ketegangan perdagangan yang masih berlangsung.

Namun, tren penguatan tersebut berbalik arah secara tiba-tiba menjelang akhir pekan atau Jumat kemarin, yang mengejutkan sejumlah investor baru yang kemudian memilih keluar dari pasar.

Emas spot membuka pekan ketiga Oktober 2025 di level USD 4.022,44. Sepanjang perdagangan, pergerakannya sangat agresif: harga menembus USD 4.100 pada Senin siang, naik ke atas USD 4.200 menjelang penutupan pasar Rabu, kemudian melesat melewati USD 4.300 hanya 15 menit sebelum penutupan Amerika Utara pada Kamis.

Puncaknya terjadi pada Jumat, ketika harga hanya berjarak kurang dari USD 20 dari level psikologis USD 4.400 per ons. Lantas bagaimana proyeksi pergerakan emas pada pekan keempat Oktober 2025?

Melansir Kitco News, Senin (20/10/2025), berdasarkan survei Emas Mingguan Kitco, pandangan pelaku pasar Wall Street semakin terpecah setelah lonjakan harga yang signifikan diikuti koreksi jangka pendek, sementara sentimen investor di Main Street tetap stabil menjelang pekan perdagangan berikutnya.

Kepala Strategi Pasar di SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menilai harga emas kemungkinan akan mengalami jeda setelah kenaikan besar.

“Emas telah mengalami kenaikan yang luar biasa dan mungkin akan berhenti sejenak. Perak dan Platinum mengalami koreksi hari ini, yang menunjukkan momentum kenaikan logam mulia mungkin melambat,” ujarnya.

Sementara itu, analis pasar senior Barchart.com, Darin Newsom, tetap optimistis terhadap arah harga emas. Menurutnya, hingga Jumat pagi, AS masih lebih dekat dengan otokrasi daripada demokrasi. Seluruh dunia menyadari hal ini dan terus membeli emas.

 

Potensi Koreksi

Pandangan berbeda disampaikan oleh Kepala Strategi Mata Uang Forexlive.com, Adam Button, yang memperkirakan potensi koreksi.

“Saya ingin sekali melihat koreksi ke USD 4.000. Reli ini sudah berlangsung lama, dan semacam retracement yang nyata akan membangun basis yang lebih kuat untuk menguji USD 5.000,” katanya.

Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan, menyebut tren kenaikan masih jelas terlihat meskipun terjadi aksi jual di awal sesi.

“Saya sebenarnya senang melihat sedikit aksi jual pagi ini, tetapi trennya masih jelas lebih tinggi. Melemahnya dolar AS, pemangkasan suku bunga yang sudah diantisipasi sepenuhnya, dan disfungsi pemerintah di AS, semuanya menunjukkan harga emas yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, menilai pergerakan emas kemungkinan akan berfluktuasi setelah reli panjang. Ia menilai, jeda singkat dan konsolidasi harga justru sehat bagi pasar tanpa mengubah prospek jangka panjang yang masih positif.

Sementara itu, James Stanley dari Forex.com menilai koreksi pada Jumat justru memberi ruang untuk penguatan baru di awal pekan depan.

“Ada pullback yang cukup signifikan pada hari Jumat menjelang penutupan, dan saya pikir itu akan meredam banyak aksi ambil untung, tetapi saya mencari support dalam pullback yang akan muncul di awal minggu depan,” ujarnya.

Bob Haberkorn, Pialang Komoditas Senior di RJO Futures, mengatakan penurunan harga emas pada Jumat lebih disebabkan oleh tekanan dari pasar perak.

 

Hasil Survey Kitco

Pekan ini, sebanyak 15 analis ikut serta dalam Survei Emas Kitco News. Hasilnya menunjukkan bahwa pandangan Wall Street terhadap emas sedikit melemah. Dari jumlah tersebut, sembilan analis atau sekitar 60% memperkirakan harga emas akan menguat dalam sepekan ke depan. Sementara itu, empat analis atau 27% memperkirakan harga akan turun, dan dua sisanya, setara 13%, memperkirakan pergerakan harga akan bergerak datar.

Di sisi lain, jajak pendapat daring Kitco yang melibatkan 265 responden menunjukkan bahwa sentimen bullish dari investor Main Street masih stabil, meski harga emas bergerak fluktuatif. Sebanyak 180 investor ritel atau 68% memprediksi harga emas akan naik minggu depan, sementara 48 responden atau 18% memperkirakan penurunan, dan 37 lainnya atau 14% memperkirakan harga akan bergerak konsolidatif.

 

Sentimen Sepekan

Dengan kondisi pemerintahan federal Amerika Serikat yang masih ditutup, pasar saat ini mengandalkan data dari sektor swasta, termasuk laporan penjualan rumah dan data manufaktur yang akan dirilis pekan depan.

Meski begitu, sejumlah data inflasi resmi tetap akan dipublikasikan karena Biro Statistik Tenaga Kerja memanggil kembali sebagian pegawainya untuk merilis laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) September. Data ini diperlukan untuk menghitung penyesuaian biaya hidup tahunan bagi penerima Jaminan Sosial sebelum 1 November.

Adapun pada Kamis, pasar akan menantikan data penjualan rumah yang sudah ada untuk September, disusul pada Jumat dengan publikasi laporan IHK September dan data S&P Flash PMI.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6