Harga Minyak Jatuh Lebih dari 2%, IEA Prediksi Kelebihan Pasokan

Harga minyak dunia melemah akibat potensi surplus pada 2026 dan meredanya konflik di Timur Tengah serta Ukraina yang mengurangi ketegangan geopolitik.

Diterbitkan 18 Oktober 2025, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia cenderung stabil pada penutupan perdagangan Jumat (17/10/2025), namun mencatat penurunan mingguan lebih dari 2%. Pelemahan harga minyak ini terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan adanya potensi kelebihan pasokan (glut)

Selain itu, harga minyak mentah juga turun karena adanya kabar bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menggelar pertemuan baru membahas konflik Ukraina.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (18/10/2025), harga minyak mentah Brent naik tipis USD 0,23 atau 0,38% menjadi USD 61,29 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik USD 0,08 atau 0,14% ke USD 57,54 per barel.

Pertemuan antara Trump dan Putin dijadwalkan berlangsung di Hongaria dalam dua pekan ke depan, menyusul tercapainya gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas di Gaza.

Langkah ini juga bertepatan dengan kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy ke Gedung Putih, di mana ia meminta tambahan bantuan militer, termasuk rudal jarak jauh Tomahawk buatan AS. Sementara itu, Washington menekan India dan China agar menghentikan pembelian minyak Rusia.

Menurut Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, meredanya ketegangan di Timur Tengah dan Ukraina telah mengurangi risiko geopolitik secara signifikan.

“Kita melihat perdamaian di Timur Tengah, Iran yang kini lebih netral, dan pergeseran di Ukraina — risiko pasar berkurang secara luar biasa,” ujarnya.

 

IEA Prediksi Surplus Pasokan, Stok Minyak AS Tembus Rekor

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga tertekan oleh meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan China yang menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta penurunan permintaan energi.

“Situasi ini benar-benar menggerus kepercayaan pasar,” kata Jorge Montepeque, Direktur Pelaksana di Onyx Capital Group, yang memperkirakan ekonomi AS akan terdampak dalam waktu dekat.

Di sisi lain, kebakaran di kilang BP Whiting, Indiana, pada Jumat dini hari diperkirakan hanya akan berdampak pada pasar Midwest, meski harga bensin di wilayah Great Lakes berpotensi melonjak hingga 20 sen per galon, menurut analis Patrick DeHaan dari GasBuddy.

 

Produksi AS Tertinggi sepanjang Sejarah

Tekanan tambahan datang dari laporan IEA yang memperkirakan surplus pasokan minyak pada 2026. Data terbaru dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat 3,5 juta barel menjadi 423,8 juta barel — jauh di atas perkiraan analis yang hanya 288.000 barel.

Kenaikan stok ini disebabkan turunnya kapasitas kilang akibat perawatan musiman, sementara produksi minyak AS mencapai 13,63 juta barel per hari, tertinggi sepanjang sejarah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6