Trump Kembali Ancam China, Ini Dampaknya ke Harga Emas Dunia

Kenaikan harga emas dunia terjadi meski pasar utama seperti AS dan Jepang tengah libur nasional. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan emas lebih didorong oleh faktor fundamental global dibandingkan aktivitas transaksi jangka pendek.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 09:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan signifikan pada awal pekan ini. Berdasarkan data perdagangan di pasar Asia-Oceania, harga emas sempat menembus level tertinggi di USD 4.060 per troy ons, sebelum terkoreksi tipis ke posisi USD 4.047 per troy ons.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, pergerakan harga emas masih berada dalam tren naik seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.

Ibrahim menyebutkan bahwa level support emas berada di USD 3.999, sementara resisten diperkirakan menuju USD 4.100. Artinya, secara teknikal peluang kenaikan harga masih terbuka lebar.

Ia menilai pelaku pasar memilih berhati-hati sambil menunggu arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang belum menunjukkan kepastian.

"Ada kemungkinan besar bahwa harga emas kalau seandainya terkoreksi itu di level USD 3.999 itu support-nya. Kemudian resistenya kemungkinan akan menuju level di USD 4.100," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (14/10/2025).

Kenaikan harga ini terjadi meski pasar utama seperti AS dan Jepang tengah libur nasional. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan emas lebih didorong oleh faktor fundamental global dibandingkan aktivitas transaksi jangka pendek.

Menurut Ibrahim, penguatan ini juga menjadi sinyal bahwa investor global mulai kembali ke aset lindung nilai setelah melihat risiko geopolitik dan ekonomi yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

 

Ketegangan Baru AS–China Picu Lonjakan Harga Emas

Salah satu pemicu utama kenaikan harga emas berasal dari ketegangan dagang terbaru antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan kembali melontarkan ancaman untuk mengenakan tarif impor 100% terhadap produk asal Tiongkok, khususnya komoditas yang berkaitan dengan tanah jarang (rare earth).

Langkah tersebut disebut sebagai bentuk protes terhadap dominasi Tiongkok dalam rantai pasok bahan baku strategis dunia. Namun, kebijakan semacam itu justru memperburuk hubungan dagang kedua negara yang sebelumnya sudah sempat mereda.

"Walaupun Tiongkok, Amerika pun juga masih terus mengharapkan ada negosiasi. Tiongkok pun juga melakukan penyerangan balik terhadap biaya impor yang diterapkan oleh Trump. Sehingga membuat ketegangan baru untuk perang dagang sesi Amerika dan Tiongkok," ujarnya.

 

Logam Mulia Diproyeksi Naik Tajam

Seiring penguatan harga emas dunia, permintaan terhadap logam mulia di pasar domestik juga meningkat signifikan. Ibrahim memperkirakan harga emas batangan di dalam negeri berpotensi menembus Rp 2,1 juta per gram dalam waktu dekat, bahkan bisa mencapai Rp 2,35 juta bila tren penguatan berlanjut hingga akhir bulan.

"Ya pada saat harga emas dunia naik logam mulia pun juga naik. Saya menargetkan bahwa dalam minggu ini logam mulia ya kemungkinan besar ini akan menyentuh di level Rp 2,1 juta. Ya bisa lebih dari Rp 2,1 juta kemungkinan besar bisa Rp 2,35 juta akan tercapai karena target dalam bulan ini itu adalah Rp 2,5 juta," ujarnya.

Ia menilai, selain faktor global, pelemahan indeks dolar AS juga memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Nilai tukar dolar yang terus menurun akibat ketidakpastian ekonomi Amerika membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor non-dolar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6