Harga Emas Dunia Sentuh Rekor Baru, Intip Prediksinya Pekan Ini

Harga emas kembali menjadi sorotan pekan ini setelah menembus level psikologis USD 4.000 per ons, melanjutkan reli yang kini memasuki minggu ke delapan berturut-turut.

Diterbitkan 13 Oktober 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Harga emas kembali menjadi sorotan pekan ini setelah menembus level psikologis USD 4.000 per ons, melanjutkan reli yang kini memasuki minggu ke delapan berturut-turut.

Harga emas dunia di pasar spot memulai perdagangan di posisi USD 3.890,51 per ons, lalu dengan cepat mencatatkan serangkaian harga tertinggi dan terendah yang lebih tinggi di sesi awal. Harga sempat naik ke USD 3.940 per ons, dan dua jam setelah pasar Amerika Utara dibuka, logam mulia itu sudah berada di atas USD 3.962.

Setelah sempat menyentuh triple top di sekitar USD 3.974 pada sesi Asia, harga emas terkoreksi hingga ke USD 3.945, sebelum kembali menguat berkat aksi beli agresif. Kemudian harga emas spot menembus USD 3.986, lalu sempat turun sebentar ke USD 3.965 sebelum kembali mendekati rekor tertingginya.

Prediski Analis 

Menurut survei mingguan Kitco News, separuh analis bullish di Wall Street kini bersikap lebih netral setelah harga melewati ambang USD 4.000, sementara optimisme investor ritel juga mulai berkurang.

Analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom, memperkirakan harga emas akan kembali naik. Sebaliknya, Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, menilai harga emas bisa terkoreksi setelah reli panjang

“Saya melihat harga emas lebih rendah, murni karena hukum gravitasi, dan emas kemungkinan tidak akan mengalami kenaikan mingguan kesembilan berturut-turut. Prospek bullish secara keseluruhan tidak berubah, tetapi pasar ini berisiko kehabisan tenaga kecuali terjadi koreksi,” ujar Hansen, dikutip dari Kitco News, Senin (13/10/2025).

Manajer Analisis Pasar di FXTM, Lukman Otunuga menyebutkan sinyal teknikal jangka pendek menunjukkan potensi koreksi bila harga turun di bawah USD 3.950.

“Ke depan, perkembangan seputar penutupan pemerintah AS dan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, dapat memengaruhi arah emas. Jika risiko politik AS tetap tinggi, hal ini dapat mendorong harga kembali ke atas USD 4.000,” jelas Otunuga.

 

Analis Optimis

Optimisme juga datang dari Rich Checkan, Presiden dan COO Asset Strategies International. Dirinya memprediksi harga emas akan kembali naik.

“Anda tidak perlu melihat jauh untuk tahu bahwa momentum saat ini berada di pihak optimis. Lihat saja pemulihan hari ini setelah aksi ambil untung kemarin sehari kemudian, seolah tak terjadi apa-apa,” tuturnya

Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik, mulai dari Timur Tengah hingga Ukraina, pelemahan dolar AS, serta potensi penurunan suku bunga di akhir bulan, semuanya menjadi faktor pendukung kenaikan emas.

Sementara itu, Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, bersikap lebih berhati-hati. Adrian memprediksi pergerakan harga emas tidak akan banyak berubah.

“Kita kemungkinan akan melihat sedikit fluktuasi di bawah USD 4.000. Kesepakatan damai Gaza memang memicu penurunan, tetapi sebenarnya emas sudah bergerak terlalu cepat bulan lalu.”

Menurut Day, jika penutupan pemerintah AS berakhir, dampaknya terhadap emas akan terbatas dan tidak bertahan lama, karena faktor-faktor tersebut bukan pendorong utama reli logam mulia tersebut sejak awal.

 

Hasil Survey Kitco

Sebanyak 17 analis berpartisipasi dalam survei emas mingguan Kitco News kali ini, dengan pandangan Wall Street yang terbagi rata antara optimistis dan netral. Delapan analis, atau sekitar 47%, memperkirakan harga emas akan naik pada pekan depan.

Dua analis lainnya (12%) memprediksi penurunan harga, sementara tujuh sisanya (41%) memperkirakan pergerakan harga emas akan cenderung mendatar.

Di sisi lain, hasil jajak pendapat daring Kitco yang melibatkan 295 responden menunjukkan bahwa optimisme investor ritel mulai menyamai para profesional. Sebanyak 202 pedagang ritel, atau 69%, memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan mendatang.

Sementara itu, 52 responden (18%) memprediksi penurunan, dan 41 responden lainnya (14%) memperkirakan harga emas akan bergerak stabil.

 

Sentimen Sepekan

Penutupan pemerintahan Amerika Serikat masih berlanjut, sehingga pekan depan diperkirakan hanya akan ada sedikit rilis data ekonomi. Meski demikian, pasar tetap akan mencermati laporan terbaru mengenai kondisi sektor manufaktur dari Federal Reserve New York dan Philadelphia. 

Para pelaku pasar juga akan memperhatikan pernyataan yang muncul dari pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang digelar di Washington pekan depan.

Pada Selasa, Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan mengikuti diskusi terarah dalam acara National Association for Business Economics. Sementara itu, pada Rabu pagi akan dirilis hasil Empire State Manufacturing Survey, disusul Philly Fed Manufacturing Survey pada Kamis. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6