Deportasi Massal Trump Bakal Hapus Ratusan Ribu Penduduk AS, Ekonomi Terancam

Rencana deportasi massal dan kebijakan imigrasi ketat Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengurangi sekitar 320.000 penduduk AS dalam sepuluh tahun mendatang.

Diterbitkan 11 September 2025, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan imigrasi ekstrem yang dicanangkan Presiden Donald Trump, termasuk rencana deportasi massal, diproyeksikan bakal menekan pertumbuhan populasi Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari ABC News pada Kamis, (11/8/2025), laporan terbaru dari Congressional Budget Office (CBO) pada (10/9/2025) menyebut, langkah ini akan berdampak pada berkurangnya 320.000 penduduk AS dalam satu dekade mendatang.

Laporan ini juga memproyeksikan populasi AS kan tumbuh lebih lambat daripada proyeksi sebelumya.

CBO, lembaga nonpartisan, merilis laporan yang mengungkap dampak dari undang-undang belanja dan perpajakan yang diteken Trump pada Juli lalu.

Aturan tersebut mengalokasikan dana sekitar USD 150 miliar untuk agenda deportasi, termasuk pembiayaan untuk perpanjangan tembok perbatasan, pusat detensi, hingga penambahan ribuan staf penegak hukum.

Menurut CBO, dari total 320.000 orang yang akan keluar dari AS, 290.000 di antaranya merupakan hasil deportasi dari kebijakan tersebut. Sementara itu, 30.000 orang lainnya diperkirakan akan meninggalkan AS secara sukarela.

 

Dampak Demografi dan Ekonomi

Kombinasi antara penurunan laju imigrasi dan angka kesuburan yang rendah di AS memicu revisi proyeksi populasi. CBO memperkirakan, populasi AS pada tahun 2035 akan menjadi 4,5 juta lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Perkiraannya, AS akan memiliki 367 juta orang pada tahun 2055.

Proyeksi ini juga menunjukkan bahwa jumlah penduduk dalam rentang usia produktif, yaitu 25 hingga 54 tahun, akan lebih sedikit.

Meski tidak secara langsung membahas dampak ekonomi, CBO menggarisbawahi bahwa berkurangnya penduduk usia produktif berpotensi memengaruhi partisipasi angkatan kerja dan berdampak signifikan pada perekonomian dan anggaran negara.

Peringatan ini sejalan dengan kekhawatiran yang dilontarkan oleh anggota parlemen dari Partai Demokrat. Mereka menyebut, deportasi massal dapat memicu disrupsi ekonomi dan berujung pada kenaikan harga bahan pokok serta barang-barang lainnya.

Harapan ‘Baby Boom’ Jauh dari Kenyataan

Di Gedung Putih, Presiden Trump sempat menyuarakan harapannya agar terjadi "baby boom" di AS dan menggalakkan program untuk mendorong warga memiliki lebih banyak anak. Namun, temuan CBO menunjukkan hal sebaliknya.

Laporan tersebut secara tegas memproyeksikan, angka kematian di AS akan melampaui angka kelahiran pada tahun 2031, atau dua tahun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Fakta ini menegaskan bahwa rencana "baby boom" yang diimpikan pemerintah Trump belum menunjukkan indikasi positif.

"Kematian diproyeksikan melebihi kelahiran pada tahun 2031, dua tahun lebih awal dari yang diproyeksikan sebelumnya," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6