Investor Masih Optimistis Harga Emas Naik Minggu Ini

Survei Kitco News menunjukkan mayoritas analis Wall Street memperkirakan harga emas akan tetap bergerak mendatar pada pekan ini. Namun investor ritel justru lebih optimistis.

Diterbitkan 18 Agustus 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas global menghabiskan sepekan kemarin dalam fase mencari arah setelah sempat terguncang oleh isu tarif Swiss pada pekan sebelumnya. Rilis data inflasi dan sentimen konsumen yang beragam membuat pelaku pasar enggan membuka posisi baru secara agresif.

Melansir Kitco News, Senin (18/8/2025), harga emas spot dibuka di USD 3.394,89 per ons pada awal pekan lalu. Namun tekanan jual mulai terasa seiring meredanya isu tarif tersebut, sehingga harga terkoreksi ke USD 3.373, bahkan sempat jatuh di bawah USD 3.350 pada Senin pagi.

Hingga pertengahan pekan, pergerakan emas cenderung sideways dalam rentang tipis sekitar USD 30. Emas menyentuh level terendah di USD 3.335 pada Selasa, lalu kembali naik ke USD 3.367 pada Rabu setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sesuai ekspektasi pasar.

Survei Kitco News menunjukkan mayoritas analis Wall Street memperkirakan harga emas akan tetap bergerak mendatar pada pekan ini. Namun investor ritel justru lebih optimistis emas bisa menguat pada minggu ini.

“Banyak hal bergantung pada hasil pertemuan hari ini antara Presiden Trump dan Putin,” kata Chairman and CEO of Adrian Day Asset Management Adrian Day.

 

Pesimistis atau Optimistis?

Adrian Day menilai emas berpotensi stabil jika bank sentral AS melanjutkan pelonggaran moneter, dengan pasar sudah mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September.

Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management memilih bersikap netral, mengingat dua agenda penting yang bisa menggerakkan pasar: pertemuan puncak Trump–Putin dan simposium Jackson Hole.

Nada lebih optimistis datang dari James Stanley (Forex.com), yang melihat emas berada di area support penting. Menurutnya, sikap dovish bank sentral di Jackson Hole bisa menjadi katalis positif bagi emas.

Ole Hansen dari Saxo Bank menambahkan, meski data inflasi produsen AS sempat menekan emas, tren jangka panjang tetap bullish.

“Narasi bullish jangka panjang pasar yang dibangun di sekitar pelonggaran kebijakan The Fed dan risiko stagflasi yang masih ada masih utuh,” jelasnya.

 

 

Hasil Survei Kitco

Hansen memperkirakan emas akan bergerak di kisaran USD 3.350 dengan rentang USD 200. Ia juga menyoroti permintaan ETF yang masih kuat, dengan kepemilikan naik ke level tertinggi dua tahun di 2.878 ton.

Sementara itu, Daniel Pavilonis dari RJO Futures menilai pergerakan teknikal emas masih sideways pasca lonjakan tarif Swiss. Namun ia percaya potensi penguatan tetap ada jika The Fed memulai pemangkasan suku bunga di tengah inflasi yang meningkat.

Dalam survei mingguan Kitco, 10 analis Wall Street memberikan pandangan mereka. Hanya satu analis (10%) yang memperkirakan harga emas naik pekan depan, satu analis memprediksi turun, dan delapan sisanya (80%) melihat emas tetap sideways.

Di sisi lain, jajak pendapat daring dengan 183 responden menunjukkan sentimen berbeda. Sebanyak 115 pedagang ritel (63%) yakin harga emas akan naik, 33 responden (18%) memperkirakan turun, dan 35 responden (19%) melihat harga akan stagnan.

 

Agenda Penting Pekan Ini

Fokus utama pasar pekan depan tertuju pada kebijakan Federal Reserve. Rangkaian data ekonomi AS akan rilis, mulai dari data perumahan, izin bangunan, hingga laporan manufaktur dan tenaga kerja.

Yang paling ditunggu adalah pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat. Pasar melihat arah kebijakan suku bunga The Fed dari pernyataan Powell sebagai kunci penentu arah emas ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6