Iran-Israel Memanas, Pasar Ekonomi RI ke Timur Tengah Berisiko Terganggu

Adapun risiko perang Iran Israel terganggunya arus distribusi barang asal Indonesia, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah. Begini penjelasannya.

Diterbitkan 17 Juni 2025, 17:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ekonom memperkirakan bahwa Indonesia diperkirakan akan menghadapi hambatan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% tahun ini.

Hal ini menyusul pelemahan pada prospek perekonomian global setelah pecahnya ketegangan militer antara Iran dan Israel di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran tentang gangguan di Selat Hormuz, di mana dekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.

“Tentunya Indonesia pertumbuhannya akan lebih sulit lagi menyentuh angka 5%. Diproyeksi tumbuh hanya 4,7% di 2025 untuk ekonomi Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira kepada Liputan6.com di Jakarta, Selasa (17/6/2025).

Adapun risiko perang Iran Israel terganggunya arus distribusi barang asal Indonesia, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah.

“Padahal banyak pelaku usaha Indonesia mulai membuka peluang ekspor ke negara-negara Timur Tengah. Tapi karena adanya Israel-Iran kan kapal kargo, kemudian pesawat pengangkut kargo itu akhirnya mengalihkan rutenya, membuat biaya logistik jadi lebih mahal, asuransi pengiriman juga menjadi lebih mahal. Akhirnya harga di level konsumen yang ada di Timur Tengah kurang kompetitif,” papar Bhima.

Dampak ke APBN

Bhima juga mengingatkan dampak terhadap Anggaram Pendapatan Belanja Negara (APBN), karena harga minyak mentah mulai meningkat.

“Harga minyak mentah langsung naik 7% ketika terjadi eskalasi konflik Israel-Iran. Di sisi lain permintaan untuk barang-barang dari industri pengolahan melemah. Hal ini yang (menimbulkan risiko) perdagangan global menurun,” jelasnya.

Rupiah Perkasa Kisaran Rp16.200 di Tengah Ketegangan Iran-Israel

Sementara itu, nilai tukar Rupiah (IDR) mengalami penguatan di awal pekan pada Senin, 16 Juni 2025.

Rupiah ditutup menguat 39 point terhadap Dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat melemah 7 point dilevel Rp16.265 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.310.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.220 - Rp16.270,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (16/6/2025).

Penguatan Rupiah terjadi meski Timur Tengah dikejutkan oleh serangan baru oleh Israel dan Iran selama akhir pekan.

 

Pasar Berfokus pada Pertemuan Bank Sental Besar Dunia

Ketegangan Iran-Israel telah memicu kekhawatiran tentang gangguan di Selat Hormuz, di mana dekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau sekitar 18 hingga 19 juta barel per hari (bpd) minyak, kondensat, dan bahan bakar, melewati selat tersebut.

 “Fokus minggu ini adalah pada serangkaian pertemuan bank sentral, dimulai dengan Bank Jepang pada hari Selasa. Federal Reserve akan memutuskan suku bunga pada hari Rabu, sementara Bank of England, Bank Nasional Swiss, dan Bank Rakyat China juga akan memutuskan suku bunga akhir minggu ini,” papar Ibrahim.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6