Harga Emas Hari Ini 16 Juni 2025, Bakal Cetak Rekor Temahal Lagi?

Meskipun harga emas telah menembus level resistensi jangka pendek, para analis masih berhati-hati untuk menyatakan bahwa logam mulia ini akan mencetak rekor tertinggi baru

Diterbitkan 16 Juni 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kekacauan yang terjadi di Timur Tengah mendorong permintaan emas sebagai aset aman (safe haven) kembali meningkat, membuat harga emas melambung di atas USD3.400 per ons dan mencatat penutupan mingguan tertinggi dalam sejarah harga emas.

Meskipun harga emas telah menembus level resistensi jangka pendek, para analis masih berhati-hati untuk menyatakan bahwa logam mulia ini akan mencetak rekor tertinggi baru pekan depan.

Perang Iran Israel memang mendukung permintaan aset aman, namun reli harga yang dipicu oleh peristiwa geopolitik secara historis cenderung bersifat sementara.

“Konflik Israel/Iran mungkin akan mempertahankan harga di atas USD3.400, tetapi tidak akan mendorongnya lebih tinggi tanpa eskalasi lebih lanjut,” kata Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Ole Hansen, dikutip dari Kitco.com, Senin (16/6/2025).

Tren Harga Emas

Hansen mengatakan, selama tiga tahun terakhir, banyak peristiwa geopolitik yang sempat mengangkat harga emas, namun semuanya kesulitan untuk mempertahankan tren naik secara berkelanjutan.

Harga emas spot diperkirakan akan mengakhiri pekan di angka USD3.434,12 per ons, naik 3,75% dari Jumat lalu. Saat ini, emas mengungguli dolar AS, yang tengah kesulitan menarik arus investasi safe haven. Indeks dolar AS terakhir diperdagangkan di 98,13, turun 1% dibandingkan seminggu sebelumnya.

Kepala Strategi Pasar di MarketGauge, Michele Schneider, mengatakan investor sebaiknya bersiap menghadapi volatilitas pekan depan seiring para trader harian merealisasikan keuntungan dari reli baru-baru ini. Namun ia menambahkan bahwa, meskipun ada potensi gangguan jangka pendek, baik emas maupun perak tetap berada dalam tren naik jangka panjang.

 

Fokus Pasar Bergeser ke Federal Reserve

Sementara emas akan terus merespons perkembangan geopolitik, perhatian pasar juga akan beralih ke Federal Reserve, karena Ketua The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan berbicara usai pertemuan kebijakan moneter pekan depan.

Para ekonom secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap. Namun, spekulasi mulai meningkat bahwa Powell mungkin akan mulai memberikan sinyal pemangkasan suku bunga pada akhir tahun ini.

Data inflasi terbaru, ditambah tanda-tanda perlambatan ekonomi AS, memberi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Namun, meningkatnya ketidakpastian geopolitik bisa membuat sebagian pelaku pasar menahan ekspektasinya.

“Jika The Fed terdengar lebih dovish dari yang diantisipasi menyusul rilis data inflasi terakhir, hal ini bisa memberi kepercayaan baru bagi para investor emas,” kata Lukman Otunuga, Senior Market Analyst di FXTM.

 

Harga Emas Diprediksi Tembus USD 3.500

Perkembangan seperti ini bisa mendorong harga menembus rekor tertinggi USD3.500, terutama dengan dukungan geopolitik yang terus berlangsung.

Namun jika nada pertemuan tetap hawkish dan Powell menyuarakan kehati-hatian terhadap pemangkasan suku bunga, harga emas bisa kehilangan sebagian daya tariknya karena investor mulai meragukan pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Otunuga mengatakan, secara teknikal, tren harga masih bullish pada grafik harian. Penutupan mingguan yang solid di atas USD3.430 bisa menjadi sinyal pergerakan menuju rekor tertinggi di USD3.500 atau lebih. Namun jika harga turun di bawah USD3.430, emas bisa kembali ke kisaran USD3.400 hingga USD3.360.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6