Erick Thohir Buka-bukaan soal Isu BUMN Selamatkan Sritex

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengungkapkan bahwa saat ini belum ada keputusan atau rencana di antara perusahaan pelat merah untuk berpartisipasi dalam penyelamatan Sritex yang dinyatakan pailit.

Diterbitkan 26 Mei 2025, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengungkapkan bahwa saat ini belum ada keputusan atau rencana di antara perusahaan pelat merah untuk berpartisipasi dalam penyelamatan Sritex yang dinyatakan pailit.

Erick menerangkan, BUMN juga tidak ikut dalam proses kepailitan produsen tekstil yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah itu.

“Oh, enggak, saya bilang itu kan (Sritex) ada proses kepailitan sendiri," kata Erick kepada media di sela-sela Indonesia Sharia Forum (ISF) 2025 di Jakarta, Senin (26/5/2025).

Tetapi Erick juga tidak mengesampingkan bahwa BUMN akan melihat peluang membantu Sritex. Namun, langkah tersebut bisa dilakukan jika ada aset perusahaan yang menarik.

“Kalau BUMN diberi kesempatan untuk melakukan bantuan, misalnya kita melihat aset (Sritex) ada yang menarik ya kita coba," ucapnya.

Meskipun demikian, Erick menekankan, saat ini keputusan terkait aset Sritex merupakan wewenang Tim Kurator.

Diwartakan sebelumnya, total liabilitas PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex sampai 30 September 2024 tercatat sebesar USD 1,61 miliar atau sekitar Rp 26,35 triliun (asumsi kurs Rp 16.318,35 per USD).

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2023 yang tercatat USD 1,60 miliar. Peningkatan utang terutama berasal dari liabilitas jangka panjang, khususnya pinjaman bank yang mencapai USD 829,67 juta, serta munculnya utang pemegang saham baru senilai USD 9,36 juta.

Dengan total liabilitas yang melampaui nilai aset, rasio utang terhadap aset perusahaan kini berada di atas 270%, mempertegas kondisi permodalan yang kritis. Hal ini berkontribusi terhadap memburuknya defisiensi modal menjadi USD 1,02 miliar, dari USD 954,83 juta di akhir tahun lalu.

 

Daftar Bank Pemberi Utang ke Sritex

Melansir keterbukaan informasi Bursa, berikut ini daftar lengkap utang bank jangka panjang Sritex per 30 September 2024:

1. PT Bank Central Asia Tbk – USD 72.916.624

2. State Bank of India, Singapore Branch – USD 43.859.679

3. PT Bank QNB Indonesia Tbk – USD 38.029.462

4. Citibank N.A., Indonesia – USD 37.321.548

5. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk – USD 35.935.862

6. PT Bank Mizuho Indonesia – USD 35.235.417

7. PT Bank Muamalat Indonesia – USD 27.410.250

8. PT Bank CIMB Niaga Tbk – USD 26.693.888

9. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah – USD 26.184.083

10. PT Bank Maybank Indonesia Tbk – USD 25.275.801

 

Daftar Kreditur Lainnya

11. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk – USD 23.807.159

12. Bank of China (Hong Kong) Limited – USD 23.617.176

13. PT Bank KEB Hana Indonesia – USD 22.147.252

14. Standard Chartered Bank – USD 20.304.734

15. Taipei Fubon Commercial Bank Co., Ltd. – USD 20.000.000

16. Woori Bank Singapore Branch – USD 19.923.100

17. PT Bank DBS Indonesia – USD 18.891.820

18. PT Bank Permata Tbk – USD 18.123.985

19. PT Bank China Construction Indonesia Tbk – USD 14.942.325

20. PT Bank DKI – USD 9.848.000

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6