Sukses

Menko Airlangga Ingatkan Surplus Neraca Perdagangan 30 Bulan Beruntun Tetap Perlu Diwaspadai

Liputan6.com, Jakarta Kondisi perekonomian dunia saat ini masih dibayangi dengan ketidakpastian serta ancaman resesi global pada tahun 2023. Hal ini dipengaruhi oleh belum berakhirnya pandemi Covid-19, eskalasi konflik geopolitik, tekanan inflasi, pengetatan likuditas global, serta dampak perubahan iklim.

Berbagai skenario dari lembaga internasional juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi pada kisaran 2,8 persen-3,2 persen (yoy) untuk tahun 2022 dan kembali terkoreksi pada kisaran 2,3 persen-2,8 persen (yoy) untuk tahun 2023.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mampu mencatatkan kinerja impresif hingga triwulan III-2022 yakni sebesar 5,72 persen (yoy) atau 1,81 persen (qtq). Kondisi ini ditunjang dengan pulihnya berbagai sektor utama serta kinerja leading indicators, baik konsumsi maupun produksi, yang masih tumbuh positif dan lebih baik dibanding beberapa negara lain.

Presiden Joko Widodo mengajak seluruh rakyat optimis dalam menghadapi ekonomi ke depan. Potensi besar Indonesia dalam sumber daya alam, sumber daya manusia, pasar Indonesia dan ASEAN, serta letak strategis Indonesia merupakan bekal penting dalam membangun strategi ekonomi negara.

“Saya mau garis bawahi bahwa sebetulnya mengorkestrasi ekonomi Indonesia adalah stabilisasi fiskal, moneter, dan sektor riil. Jadi kalau tiga itu bisa semuanya dalam harmoni, ekonomi kita akan tahan,” ungkap Menteri Koordiantor Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada kesempatan tersebut.

Neraca Perdagangan Indonesia yang surplus selama 30 bulan berturut-turut tetap perlu diwaspadai, karena sangat bergantung pada tingkat permintaan global dan harga komoditas ekspor ke depan. Kondisi perekonomian di China dan negara-negara Eropa saat ini juga menjadi hal yang harus terus mendapatkan perhatian.

Kondisi inflasi yang sempat dipicu oleh kenaikan harga BBM di bulan September lalu, relatif telah terkendali dan turun menjadi 5,42 di bulan November. Tingkat inflasi Indonesia juga terhitung lebih baik dari banyak negara lainnya seperti United Kingdom (11,1 persen), Uni Eropa (10 persen), dan Amerika Serikat (7,7 persen).

“Artinya dengan tantangan yang sama, Indonesia bisa mengelola lebih baik angka-angka tersebut, walaupun di Indonesia kenaikan harga energi “dibeli” oleh Pemerintah. Yang di past through ke publik itu terbatas,” ujar Menko Airlangga.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Target Investasi

Menko Airlangga juga mendorong agar target investasi senilai Rp1.400 triliun pada tahun depan dapat direalisasikan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional yang saat ini juga mendapat tekanan dari adanya depresiasi rupiah terhadap dollar AS, kenaikan suku bunga di negara maju, dan perlambatan pertumbuhan pada sektor manufaktur.

Dengan berbagai kondisi perekonomian global tersebut, Pemerintah telah merespons dengan berbagai kebijakan secara terukur dan penuh kehati-hatian.

Diantaranya dengan melakukan restrukturisasi kredit bagi UMKM, penyesuaian tingkat upah pekerja, serta melanjutkan reformasi struktural melalui UU Cipta Kerja.

“Tentu bagi pengusaha salah satu cara mencari jalan keluar adalah melakukan peningkatan produktivitas. Kalau produktivitas dan efisiensi ditingkatkan, tentu kenaikan dari upah ini bisa dikompensasi. Dan ingat, kenaikan upah ini yang pertama dari 3 tahun, tidak terjadi dalam 2 tahun terakhir. Sehingga tentunya ini  sudah waktunya. Tenaga kerja harus  kita apresiasi karena sudah berjuang bersama dan sudah mempunyai punya resiliensi yang tinggi,” pungkas Menko Airlangga.

 

3 dari 4 halaman

Menko Airlangga Sentil Pengusaha yang Tak Sejalan dengan Pemerintah, Siapa Dia?

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menghadiri CEO Forum 2022 di Istana Negara pada Jumat pagi ini. Forum yang mengumpulkan para pimpinan perusahaan di Indonesia ini dibuka dengan penampilan orkestra yang dipimpin Addie MS.

Airlangga mengatakan, harmonisasi musik yang dimainkan dalam orkestra besutan Addie MS ini berjalan dengan rapi sehingga bisa dinikmati para tamu undangan. Ia pun ingin mengelola ekonomi Indonesia seperti yang diakukan oleh Addie MS dalam orkestra. Meskipun alat musik berbeda beda tetapi bisa berjalan bersama dan menciptakan harmoni yang indah. 

Sayangnya, tidak semua pengusaha manut dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Ada beberapa yang berjalan tak mengikuti harmoni yang ada. 

"Kalau kita kelola ekonomi maunya kita kaya konduktor Addie MS, semua nurut. Tapi di ekonomi, CEO ini sering lakukan improvisasi sendiri-sendiri, jadi nadanya beda-beda," katanya sambil bergurau di acara Kompas 100 CEO Forum 2022 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/12).

Airlangga melanjutkan, orkestrasi dalam ekonomi sebenarnya meliputi 3 hal, stabilitas fiskal, moneter dan sektor riil. Bila ketiganya berjalan dengan baik, maka bisa menghasilkan harmoni dan ekonomi bisa bertahan dalam kondisi apapun.

"Kalau itu harmoni, ekonomi kita ini akan bertahan," kata dia.

Hanya saja dia menyadari kondisi ekonomi global di depan masih suram. Masih dipenuhi berbagai badai yang siap menghantam. Meski begitu dia meyakini sektor otomotif percaya diri tetap bisa bergerak dan berjalan.

"Kalau otomotif ini lebih confident karena kalau gelap atau badai kita masih bisa tim ekonomi bisa (bikin) lebih terang. Kalau otomotif tinggal nyalain lampu kuning beres Pak," katanya.

4 dari 4 halaman

Jokowi ke Kepala Daerah: Perhatikan Inflasi dari Jam ke Jam, Ini Momok Semua Negara

Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta kepala daerah untuk rutin mengecek pergerakan angka inflasi di wilayah masing-masing. Dia menekankan bahwa tingkat inflasi saat ini menjadi momok semua negara.

Hal ini disampaikan Jokowi saat menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah tahun anggaran 2023 di Istana Negara Jakarta, Kamis (1/12/2022).

"Untuk pemerintah, gubernur, bupati dan walikota, saya minta perhatikan dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing," kata Jokowi sebagaimana disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (1/12/2022).

"Ini penting sekali. Ini momok semua negara. Inflasi. Sekali lagi, perhatikan pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing," sambungnya.

Dia menyampaikan bahwa tingkat inflasi di Indonesia saat ini masih cukup terkendali yakni, di angka 5,8 persen. Inflasi di Indonesia lebih baik dibandingkan rata-rata inflasi dunia diatas 10 persen, dan bahkan ada yang mencapai lebih dari 75 persen.

"Di tengah situasi ekonomi dunia yang sedang bergolak, Alhamdulillah ekonomi kita termasuk yang terbaik, bahkan Managing Director dari IMF mengatakan bahwa di tengah dunia yang gelap, Indonesia adalah titik terang. Ini adalah kerja keras kita semuanya," ujarnya.

Selain itu, kata dia, kinerja ekonomi Indonesia juga cukup menggembirakan. Jokowi menyebut ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 tumbuh sebesar 5,44 persen.

Sedangkan, ekonomi nasional di kuartal ketiga tumbuh lebih baik yaitu, di angka 5,72 persen. Tak hanya itu, dia menuturkan volume perdagangan dalam negeri juga terus tumbuh hingga mencapai 58 persen.

"Dan kita mengalami surplus perdagangan dunia selama 30 bulan terakhir berturut-turut. Ini juga sesuatu yang harus kita syukuri," jelas Jokowi.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS