Lapor ke Airlangga, Tito Beberkan Penyebab Inflasi Juni 2026

Pemerintah sedang berkoordinasi untuk menangani inflasi di sektor transportasi seperti angkutan udara.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melaporkan angka inflasi Juni 2026 ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Pemerintah turut mencari cara untuk stabilisasi harga bagi komponen penyumbang inflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengalami inflasi 3,34 persen secara tahunan di Juni 2026. Angka tersebut diakui Tito masih dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah yakni 1,5-3,5 persen. Dia turut mengamini ada kenaikan jika dinilai secara bulanan (month to month).

"Memang ada tren naik, dengan penyumbang utamanya adalah sektor transportasi, dan kemudian terutama angkutan udara, mungkin liburan anak-anak kemarin ya, libur sekolah," ujar Tito, ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Selain itu, ada kontribusi inflasi dari bawang putih, minyak goreng, hingga beras. Dia mengatakan, sejumlah cara tengah diramu untuk menjaga harga stabil di masyarakat sehingga tidak menyumbang inflasi. 

"Sekarang lagi dikoordinasikan langkah-langkah untuk menangani masalah angkutan udara. BBM jenis bensin di Juli diturunkan harganya, mudah-mudahan akan berpengaruh juga untuk menurunkan inflasi," tuturnya.

Dia menjelaskan, langkah koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), hingga Perum Bulog. 

Atur Pasokan

Mendagri Tito juga telah memerintahkan jajarannya di daerah untuk mengatur tingkat inflasi. Ada beberapa daerah yang didata mengalami kenaikan harga. 

Dia meminta ada penambahan pasokan bahan-bahan yang mengalami kenaikan di berbagai daerah. Diantaranya wilayah Indonesia Timur dan sebagian Aceh. 

"Kalau saya sudah memberikan arahan kepada semua daerah, kalau target saya daerah-daerah yang tinggi-tinggi, di daerah Timur umumnya tinggi, di Aceh juga tinggi, langkah-langkahnya menambah suplai," ujarnya.

"Juga ada masalah ombak untuk distribusi gelombang di beberapa daerah tertentu, (diusulkan) menggunakan kapal yang lebih besar," imbuh Tito.

 

Inflasi Juni 2026

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 3,34 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada Juni 2026. Salah satu penyebab utamanya yakni kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi selama dua kali pada bulan tersebut. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjabarkan, terjadi inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan pada Juni 2026, atau kenaikan IHK dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. 

"Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 3,34 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi 1,79 persen," jelas dia, Rabu (1/7/2026).

Ateng menyampaikan, kelompok pengeluaran inflasi bulanan terjadi pada transportasi sebesar 2,29 persen. Kelompok transportasi memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen. 

Penyumbang Inflasi

Inflasi pada kelompok transportasi disumbang oleh kenaikan bensin, tarif angkutan udara, dan juga pelumnas atau oli mesin. Adapun inflasi pada komoditas bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM nonsubsidi. 

"Kita tahu bersama pada tanggal 1 Juni 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax Turbo, tapi juga penurunan harga pada Dexlite dan Pertamina Dex. Kemudian, pada tanggal 10 Juni terjadi kenaikan harga pada Pertamax," bebernya. 

"Sementara kenaikan untuk tarif transportasi udara didorong oleh kenaikan permintaan, seiring dengan adanya periode libur sekolah pada bulan Juni ini," dia menambahkan. 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6