Ilmuwan Spanyol Temukan Kandungan Gula di Ruang Angkasa

Ilmuwan mengidentifikasi ada kandungan gula di ruang angkasa.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Ruang antarbintang menjadi lebih manis setelah ditemukannya gula di ruang angkasa.

Dikutip dari AP News, Selasa (14/7/2026), gula yang diidentifikasi para astronom juga terdapat pada buah raspberry dan produk self-tanner (produk perawatan kulit yang dipakai untuk memberikan warna cokelat atau sawo matang).

Gula bernama erythrulose itu terdapat di dalam interstellar medium, atau awan tipis gas dan debu yang tersebar di antara bintang-bintang.

Selain memberi rasa manis pada teh dan donat, berbagai jenis gula juga bisa menjadi sumber energi bagi sel-sel tubuh dan bahkan menjadi bagian dari DNA. Para ilmuwan gencar untuk mencari tahu bagaimana gula terbentuk karena pemanis itu telah menjadi bahan kunci bagi kehidupan kita sekarang.

Para peneliti mengumpulkan data dari awan gas besar di dekat pusat Bima Sakti (Milky Way) menggunakan dua teleskop radio berbentuk piringan di Spanyol.

Mereka mengidentifikasi gula dalam bentuk gas dengan membandingkan sinyal teleskop dengan sampel di laboratorium. Ini merupakan jenis gula terbaru yang terdeteksi di ruang angkasa, di wilayah yang dilalui oleh kembaran Voyager milik NASA, pesawat ruang angkasa terjauh yang pernah melakukan perjalanan dari bumi.

Hasilnya dipublikasikan hari Senin di jurnal Nature Astronomy.

Selain itu, para ilmuwan menemukan senyawa kimia menarik di galaksi kita, salah satunya adalah bahan penyusun materi genetik dan bagian-bagian sel.

Sekitar 25 tahun yang lalu, mereka juga menemukan senyawa mirip dengan gula pasir di dekat pusat Bima Sakti dan butiran hitam dari asteroid Bennu diambil oleh pesawat ruang angkasa Osiris-Rex milik NASA menghasilkan gula lain, termasuk bahan penting untuk DNA.

Walaupun gula terbaru ini tidak signifikan untuk kehidupan, perasa manis itu dapat dengan mudah diubah menjadi bentuk yang dianggap penting untuk memulai kehidupan di bumi.

Senyawa ini juga merupakan gula paling kompleks yang sudah ditemukan sejauh ini, ucap astrofisikawan dari University of Arizona, Erika Hamden.

“Ini adalah contoh yang sangat murni dari benda-benda yang mengambang di galaksi,” kata Hamden, yang tidak ikut terlibat dalam penelitian baru tersebut.

Studi antarbintang ini bertujuan untuk memahami bagaimana kehidupan bermula. Beberapa pertanyaan muncul seperti, apakah komet atau batu ruang angkasa dari tempat yang jauh yang membawakan unsur-unsur penting kepada kita? Atau apakah komponen penting itu suda ada di sini sebelumnya, yang akhirnya membentuk tata surya?

Penemuan gula terbaru itu memberikan bukti kepada teori kedua. Para ilmuwan ingin mencari lebih banyak gula di ruang angkasa dan mempelajari tentang bagaimana mereka berubah menjadi bermacam bentuk.

Menemukan gula di suatu tempat berarti mereka juga bersembunyi di sudut terjauh galaksi bersama komponen penting lainnya, tutur seorang astrofisikawan di Pusat Astrobiologi Spanyol, Izaskun Jiménez-Serra.

“Bahan utama dalam terbentuknya kehidupan bisa jadi ada di wilayah lain di seluruh galaksi, membuka kemungkinan bagi kehidupan untuk berkembang di tempat lain di alam semesta,” ucapnya.