Sukses

Aman! Indonesia Diyakini Tak akan Resesi

Liputan6.com, Jakarta Indonesia dinilai tak akan masuk jurang resesi yang diprediksi akan terjadi pada 2023 mendatang. Hanya saja, Indonesia akan mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memandang ada kemungkinan tersebut. Dia memandang, kemungkinan paling dekatnya adalah tingkat inflasi yang lebih tinggi dari besaran pertumbuhan ekonomi.

Sebut saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara 5,0-5,2 persen di tahun 2023. Kemungkinan inflasinya bisa mencapai 5,5 persen, artinya ada angka lebih tinggi 0,5 persen.

"Perkiraannya banyak lembaga internasional paling rendah 5,0-5,3 persen, ini yang ditakutkan ini akan terjadi awan gelap ketika terjadi pertubuhan 5 persen tapi inflasi 5,5 persen ini yang dikaatakan tekor. Inflasi tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi meski tak resesi," kata dia dalam Inspirato Sharing Session Liputan6.com bertajuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi RI di Tengah Bayangan Resesi, Jumat (18/11/2022).

Mengutip kajian Bloomberg, Tauhid mengatakan poteni resesi terjadi di Indonesia hanya 3 persen. Meski, kabar terbaru ada Rusia yang masuk jurang resesi dan beberapa negara lain disinyalir ikut terjadi resesi ekonomi.

Meski kondisinya demikian, dia memandang kalau target yang ditaruh pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan cukup optimis. Apalagi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi besar terhadap PDB.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Tantangan

Namun, hal ini menghadapi beberapa tantangan. Misalnya tingkat belanja pemerintah yang dilakukan. Serta adanya tantangan dari penurunam angka inflasi di daerah.

"Hanya sayang prospek tahun depan di konsumsi pemerintah yang relatif rendah padahal anggaran besar, belanja besar namun pemanfaatan problem spending belum seluruhnya selesai tahun ini dan tahun depan," ujarnya.

"Ada PR di sektor pertanian dan tambang yang jauh lebih rendah dibanding rata-rata. Tahun depan masih andalkan konsumsi rumah tangga karena kontribusinya diatas 54 persen (terhadap PDB)," ujarnya.

Di sektor penekanan inflasi, menurut Tauhid, jadi aspek yang memerlukan upaya lebih besar dari pemerintah. Apalagi dengan adanya perkiraan inflasi yang bakal mencatatkan angka lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi.

"Saya kita ini jadi PR untuk bisa diturunkan, saya sepakat TPID punya peranan," ujarnya.

 

3 dari 4 halaman

Upaya Pemerintah

Indonesia tengah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang ciamik. Per kuartal III 2022, ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,72 persen secara tahunan.

Bahkan, angka ini disebut-sebut masuk dalam kategori terbaik diantara banyak negara lainnya yang tengah terseok-seok ekonominya. Tren positif ini nyatanya tak terhidar dari bayang-bayang ancaman.

Sebut saja adanya ancara resesi global yang disinyalir akan juga mempengaruhi ekonomi Indonensia. Lantas, apa yang bisa dilakukan pemerintah ditengah adanya bayang-bayang resesi?

Deputi I Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menyebut pemerintaah punya strategi dalam menghadapi ancaman tersebut. Nyatanya, kata dia, ada berbagai kondisi yang menguatkan ekonomi Indonesia sehingga bisa menjajuh dari jurang resesi.

"Indonesia punya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), kita tahu di Indonesia, inflasi dari sisi suplai, contohnya distribusi pangan, ini alasan kenaapa pemerintah melakukan extra effort, dengan mengendalikan inflasi pangan, inflasi kita tak setinggi negara lain," kata dia dalam Inspirato Sharing Session Liputan6.com bertajuk 'Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi RI di Tengah Bayangan Resesi', Jumat (18/11/2022).

Dengan pengendalian inflasi yang optimal, dia memandang hal itu bisa jadi acuan bagi bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga dengan lebih agresif. Harapannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik dibanding negara lain dalam menyikapi resesi.

"Sehingga target pertumbuhan 5,2 persen di 2023 kemungkinan bisa tercapai," ujar dia.

 

4 dari 4 halaman

Dipengaruhi Kondisi Geopolitik

Pada kesempatan itu, Iskandar juga menyebut kalau kondisi ekonomi global saat ini sangat tergantung dengan kondisi geopolitik. Disamping adanya kondisi ekonomi dan sosial akibat pandemi Covid-19.

Menurutnya, kondisi penyelesaian kondisi geopolitik sudah menjadi perhatian dalam KTT G20 Bali, pekan ini. Bahkan sudah masuk dalam deklarasi para pemimpin negara untuk segera menyelesaikannya.

"Kalau kondisi geopolitik bisa terkendali sebenarnya niscaya resesi yang ditakutkan dengan stagflasi tadi sangat ringan terjadi," ungkapnya.

"Jadi itu memang tergantung pada kondisi geopolitiknya. Memang betul kenaikan suku bunga berpengaruh memukul balik pertumbuhan tapi itu kan smoothing adjustment dalam rangka netralisisr demand yang berlebihan," tambah Iskandar Simorangkir.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS