Sukses

Sinyal The Fed Masih Naikkan Suku Bunga, Investor Asing Hindari Negara Berkembang

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed diperkirakan masih menaikkan suku bunga acuan. Bahkan meski inflasi di negeri Paman Sam itu mulai turun, tetapi belum bisa dipastikan apakah kondisi tersebut akan berlanjut hingga akhir tahun.

Inflasi di Amerika Serikat (AS) mulai terkendali. Inflasi AS per Juli 2022 turun menjadi 8,5 persen dari sebelumnya 9,1 persen. Hal ini membuat semua negara di dunia bisa bernafas lega.

"Ini jadi tantangan tersendiri untuk kita ketika keluarkan SBN, karena investor asing cenderung akan beralih ke pasar obligasi AS dan meninggalkan emerging market," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza Annisa dalam Diskusi Publik INDEF, Selasa (16/8/2022).

Dalam catatannya, yield SBN 10 tahun Indonesia masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan ASEAN. Secara keseluruhan yield obligasi pemerintah 10 tahun tertinggi dicatatkan oleh pasar negara berkembang atau emerging market. Seperti Brazil sebesar 11,95 persen, India 7,29 persen, termasuk Indonesia 7,08 persen.

"Jika kita bandingkan Indonesia itu 7,08 persen. dibandingkan dengan negara ASEAN alirannya seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, kita jauh lebih tinggi," imbuh Riza.

Sebagai perbandingan, yield SBN 10 tahun Indonesia tercatat sebesar 7,08 persen. Sementara yield obligasi pemerintah 10 tahun Malaysia yakni sebesar 3,97 persen, Philipina 5,95 persen, Singapura 2,6 persen, Thailand 2,35 persen, dan Singapura 2,6 persen.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

The Fed Gencar Naikkan Suku Bunga, Bank Indonesia Tak Mau Latah

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan, pihaknya tidak ingin asal ikut-ikutan menaikan suku bunga acuan seperti dilakukan banyak bank sentral negara lain.

Termasuk bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed), yang agresif menaikkan suku bunga acuannya hingga kisaran 2,25-2,5 persen.

Menurut Perry, fokus kebijakan moneter suatu negara, khususnya Indonesia didasarkan kepada inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi.

"Memang luar negeri kita pertimbangkan, termasuk kenaikan The Fed Fund Rate. Tapi dasar utama kebijakan suku bunga didasarkan, bagaimana perkiraan inflasi inti ke depan dan juga keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi," ujarnya dalam sesi konferensi pers hasil rapat KSSK, Senin (1/8/2022).

"Dengan demikian tidak secara otomatis kalau suku bunga negara lain, bank sentral lain, suku bunga BI di Indonesia juga naik. Semuanya tergantung kondisi di dalam negeri," tegasnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi Indonesia pada Juli 2022 sebesar 4,94 persen secara tahunan (year on year). Namun, inflasi inti pada bulan tersebut masih sesuai dengan target pemerintah di bawah 3 persen, yakni 2,86 persen secara year on year.

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 5 halaman

The Fed Tak Akan Liar

Perry memperkirakan, The Fed ke depan juga tidak akan terlalu liar lagi dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

"The Fed tidak akan seagresif yang kita perkirakan dengan risiko-risiko resesi yang terus meningkat," kata Perry.

Berdasarkan asesmen sejumlah kalangan, The Fed diperkirakan bakal kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). Perry menilai, perhitungan ini pun sudah jauh memperhitungkan berbagai risiko.

"Memang ada outward risk 75 BPS dengan risiko-risiko data resesi, likehood-nya bps," pungkas dia.

4 dari 5 halaman

Inflasi Indonesia Naik Pengaruh Harga Pangan Global

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, angka inflasi Indonesia memang mengalami kenaikan di Juli 2022. Kenaikan tersebut disebabkan oleh inflasi volatile food dampak kenaikan harga pangan global dan pasokan akibat faktor cuaca.

Untuk inflasi pada upminister prices dipengaruhi oleh kenaikan harga tiket angkutan udara. "Tekanan energi global yang sangat tinggi tidak tertransisikan dalam negeri, ini akibat dari kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga jual energi di domestik melalui kenaikan subsidi listrik dan energi BBM dan LPG dialokasikan APBN," ujar Sri Mulyani, Senin (1/8/2022).

Dengan langkah tersebut, lanjutnya dibandingkan dengan peers negara lain yang alami inflasi, maka inflasi Indonesia 4,94 persen yoy masih relatif moderat. negara-negara selevel dengan Indonesia seperti Thailand yang sudah mengalami inflasi hingga 7,7 persen, India di 7 persen, dan Filipina di 6,1 persen.

"Dari sisi fiskal APBN terus melanjutkan kinerja positif, pada akhir Juni mencapai Rp 1317,2 triliun angka ini adalah 58,1 prsen dari target APBN yang sudah direvisi ke atas melalui perpres," kata dia. 

Di sisi lain, belanja negara akan terus dilanjutkan untuk menopang ekonomi Indonesia. APBN akhir Juni 2022 masih surplus yaitu Rp 73,6 triliun atau 0,39 persen terhadap PDB.

"Pemerintah akan terus menjaga daya tahan ekonomi Indonesia termasuk dengan menggunakan instrumen fiskal melalui berbagai instrumen yang dimiliki termasuk belanja negara terutama subsidi dan kompensasi yang menjadi shock absorber dari gejolak harga pangan global dan energi," tambahnya.

5 dari 5 halaman

Tertinggi 7 Tahun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Juli 2022 mencapai 3,85 persen secara tahun kalender (Januari-Juli 2022), dan menyentuh 4,94 persen secara tahunan dibanding Juli 2021.

Jika dilihat ke belakang, Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, inflasi Juli 2022 jadi yang tertinggi sejak hampir 7 tahun terakhir.

"Ini merupakan inflasi tertinggi sejak Oktober 2015, dimana pada saat itu terjadi inflasi sebesar 6,25 persen secara year on year," ujar Margo dalam sesi konferensi pers, Senin (1/8/2022).

Bila dilihat menurun komponen, Margo melanjutkan, komponen harga bergejolak memberikan andil tertinggi pada bulan Juli 2022 kalau dihitung secara month to month, dengan andil 0,25 persen.

"Kalau dilihat dari komoditas penyebab utamanya berasal dari cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit," bebernya.

Kemudian komponen harga diatur pemerintah yang memberi andil sebesar 0,21 persen. "Kalau diteliti lebih mendalam, disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, dan tarif listrik," terang Margo.

"Sedangkan kenaikan tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya 3.500 VA ke atas dan pelanggan pemerintah mulai 1 Juli 2022 menyebabkan andil inflasi 0,01 persen," ujar dia.

Terakhir berasal dari komponen inti, dimana memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,18 persen. Komoditas pendorongnya antara lain berupa ikan segar, mobil, dan sewa rumah.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS