Sukses

Rem Laju Inflasi, Mendag Wanti-Wanti Pemda Subsidi Angkutan Pangan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan meminta kepala daerah untuk mensubsidi biaya angkutan pangan di daerahnya. Tujuannya, mengerem laju inflasi pangan.

Menurutnya, komponen terbesar yang mempengaruhi tingginya harga pangan adalah biaya logistik atau biaya angkut. Maka, subsidi biaya angkut dipandang bisa jadi solusi meredam inflasi.

Kemarin juga ratas dipimpin oleh pak Presiden langsung, agar para Bupati, kepala daerah juga care, paling tidak untuk mengerem laju inflasi itu dia kalau masih terus kegiatannya bergerak, kita harus bantu subsidi angkutannya," ujarnya kepada wartawan di Kementerian Perdagangan, Rabu (10/8/2022).

Dalam rapat terbatas itu, Mendag Zulkifli menekankan peran dari pemerintah daerah. Utamanya membantu akses logistik pangan.

"Diminta kepala-kepala daerah memperhatikan ini, kalau memang masih (tinggi harga pangan), karena yang paling mahal yang paling tinggi naiknya itu angkutan, makanya kepala daerah bisa mensubsidi angkutan," paparnya.

Terkait anggaran subsidi, ia mengacu pada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Artinya, tidak akan mengambil dana dari pemerintah pusat.

"Ada APBD kan, kan ada dana seperti kita, (dana) cadangan," ungkapnya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Harga Pangan Turun

Lebih lanjut, ia menuturkan harga sejumlah bahan pangan telah mengalami penurunan. Harapannya, harga tak kembali naik dan mempengaruhi tingkat inflasi.

Untuk diketahui, inflasi indonesia tercatat 4,9 persen, dengan sektor pangan yang berkontribusi cukup besar 1,92 persen.

"Inflasi kita 4,9 (persen) tapi sekarang sudah mulai ya, harga-harga bisa di cek ya (sudah turun)," kata dia.

Mendag Zulkifli menerangkan harga ayam sudah turun dari Rp 42.000 per kilogram menjadi Rp 36.000 per kilogram. Harga bawang dari Rp 80.000 per kilogram menjadi Rp 30.000 perkilogram.

"Cabai merah keriting, rawit, segala macam dari Rp 130.000 sekarang sudah Rp 70.000 perkilo, telur dari Rp 32.000 (per kilogram) sekarang sudaj Rp 27.000 perkilo," bebernya.

"Jadi mudah-mudahan ini jangan sampai naik lagi," tambah Mendag.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Tingkat Inflasi Juli 2022

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju inflasi tahunan pada Juli 2022 tembus 4,94 persen secara year on year (YoY). Inflasi pangan jadi pemicu utama kenaikan, yang memberikan andil 1,92 persen terhadap inflasi tahunan.

Adapun secara komponen, inflasi harga pangan bergejolak atau volatile foods per Juli 2022 mencapai 11,47 persen

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai, angka inflasi pangan itu terlampau besar, sehingga mengancam langsung kesejahteraan rakyat.

"Kita pecah kalau inflasi pangan 11,47 persen. Mustinya inflasi pangan itu tidak boleh lebih dari 5 persen, paling tinggi 6 persen. Inflasi pangan itu masalah perut, masalah rakyat, dan itu langsung ke sejahtera," tegasnya dalam kick off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8/2022).

Perry menegaskan, inflasi pangan bukan hanya masalah ekonomi saja. Itu juga turut jadi masalah sosial yang kerap digoreng untuk kepentingan politik.

"Jadi mohon inflasi ini layaknya kita terus ingin menegakkan kemerdekaan kita, mensejahterakan rakyat, kita harus turunkan paling tinggi 6 persen, kalau bisa 5 persen," pintanya.

Menurut dia, bila inflasi pangan bisa mencapai 5 persen, dampak sosialnya akan sangat-sangat besar. Pasalnya, inflasi pangan memakan 20 persen dari komposisi pengeluaran masyarakat.

"Bagi rakyat bawah, itu bisa 40-50 persen. Yang tinggi, yang kaya-kaya mungkin lebih kecil. Tapi, masyarakat bawah inflasi pangan bisa 60 persen dari bobot pengeluaran mereka," ujar Perry.

 

4 dari 4 halaman

Tertinggi 7 Tahun Terakhir

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Juli 2022 mencapai 3,85 persen secara tahun kalender (Januari-Juli 2022), dan menyentuh 4,94 persen secara tahunan dibanding Juli 2021.

Jika dilihat ke belakang, Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, inflasi Juli 2022 jadi yang tertinggi sejak hampir 7 tahun terakhir.

"Ini merupakan inflasi tertinggi sejak Oktober 2015, dimana pada saat itu terjadi inflasi sebesar 6,25 persen secara year on year," jelas Margo dalam sesi konferensi pers, Senin (1/8/2022).

Bila dilihat menurun komponen, Margo melanjutkan, komponen harga bergejolak memberikan andil tertinggi pada bulan Juli 2022 kalau dihitung secara month to month, dengan andil 0,25 persen.

"Kalau dilihat dari komoditas penyebab utamanya berasal dari cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit," bebernya.

Kemudian komponen harga diatur pemerintah yang memberi andil sebesar 0,21 persen. "Kalau diteliti lebih mendalam, disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, dan tarif listrik," terang Margo.

"Sedangkan kenaikan tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya 3.500 VA ke atas dan pelanggan pemerintah mulai 1 Juli 2022 menyebabkan andil inflasi 0,01 persen," ujar dia.

Terakhir berasal dari komponen inti, dimana memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,18 persen. Komoditas pendorongnya antara lain berupa ikan segar, mobil, dan sewa rumah.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS