Sukses

Inilah Deretan Negara Bangkrut Sebelum Sri Lanka

Liputan6.com, Jakarta Kabar mengejutkan datang dari negara tetangga. Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengungkapkan jika negaranya bangkrut.

Sri Langka bangkrut usai berbulan-bulan berjuang menghadapi kekurangan pasokan  makanan, bahan bakar dan listrik. Bahkan dia mengaku jika kemungkinan negaranya akan jatuh ke titik terendah.

"Ekonomi kita benar-benar runtuh," kata PM Ranil Wickremesinghe, dikutip dari Associated Press, Kamis (23/6/2022). 

Sri Lanka bangkrut saat harus menanggung beban utang yang sangat besar. Negara ini telah kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata. Kondisi diperparah adanya pandemi Covid-19, serta melonjaknya harga komoditas. 

Namun Sri Lanka tidak sendiri. Sebelum ini ada beberapa negara lain yang mengalami kebangkrutan dengan berbagai penyebab, salah satunya tumpukan utang.

Dirangkum Liputan6.com, berikut deretan negara bangkrut:

1. Argentina

Tragedi gagal bayar Argentina atas sejumlah utangnya pada kreditor Amerika Serikat (AS) membuat negara ini bangkrut.

Kebangkrutan telah beberapa kali melanda negara ini. Sebelumnya pada 2001, Argentina sempat gagal bayar hingga dinyatakan bangkrut. Imbas kondisi ini jutaan penduduknya jatuh miskin.

Kemudian kebangkrutan terjadi lagi pada 2014 usai kembali default. Meski, kemudian mendapat dana pinjaman dari IMF.

Meski pada akhirnya Argentina tetap tidak sanggup membayar utang negaranya senilai total Rp 600 triliun.

2. Zimbabwe

Pada 2008, Zimbabwe, salah satu negara di kawasan Afrika juga mencatatkan kisah kelam dalam sejarah perekonomiannya. Kala itu, salah satu negara miskin di Afrika ini terlilit utang sebesar USD 4,5 miliar.

Dengan kondisi ekonomi yang buruk, pemerintahnya juga harus berjuang mengatasi tingkat pengangguran yang semakin tak terkendali hingga mencapai 80 persen.

Sebelumnya, pada 2005, Zimbabwe bahkan dinobatkan sebagai negara dengan kemerosotan ekonomi tercepat dan terparah di dunia.

 

 

2 dari 3 halaman

Negara Lain

3. Yunani

Yunani secara resmi menyandang status bangkrut usai terlilit utang total sebesar USD 360 miliar atau setara Rp 5.216 triliun. Ini terjadi pada 2015.

Kebangkrutan negara ini menyebabkan jumlah tunawisma atau gelandangan naik 40 persen. Bahkan kala itu diperkirakan ada sekitar 20.000 orang yang tidak memiliki tempat tinggal di Athena dari jumlah penduduk total sebesar 660.000.

4. Venezuela

Pada 2014, Bank Sentral Venezula dirundung awan gelap kebangkrutan. Negara ini harus mengalami krisis akibat utang.

Sekitar 55 persen dari utang Venezuela berasal dari obligasi utam domestik dan luar negeri, tagihan treasury, dan pinjaman bank.

Pada bulan November 2017, The Economist memperkirakan utang Venezuela mencapai USD 105 miliar atau sekitar Rp 1.521 triliun dan cadangannya sebesar USD 10 miliar sekitar Rp 144 miliar triliun.

3 dari 3 halaman

5. Lebanon

Kebangkrutan Lebanon disampaikan langsung Wakil Perdana Menteri Lebanon, Saadeh al-Shami. Pada April 2022 lalu, dia mengaku jika negara dan bank sentral Lebanon telah bangkrut.

Negara ini memang telah bergulat dengan krisis ekonomi yang parah sejak 2019. "Negara telah bangkrut seperti halnya Banque du Liban. Kerugian telah terjadi dan kami akan berusaha untuk mengurangi kerugian bagi rakyat," jelas dia melansir laman Al-Jadeed.

Mata uang Lebanon telah kehilangan 90 persen nilainya, mengikis kemampuan orang untuk mengakses barang-barang dasar, termasuk makanan, air, perawatan kesehatan, dan pendidikan. Selain itu, pemadaman listrik yang meluas sering terjadi karena kekurangan bahan bakar.

6. Ekuador

 

Pada 1999, dengan kondisi perekonomian yang terus menerus dilanda krisis, para elit Ekuador justru semakin sering berspekulasi. Sejumlah komoditas menjadi langka dan membuat para elit menjarah kas negara.

Beberapa pejabat mendapat kucuran dana yang ditransfer dari pinjaman Bank Dunia hingga berjumlah jutaan dolar. Dana dari pinjaman tersebut mengalur ke sejumlah rekening luar negeri di Miami.

 Pada pertengahan 1999, kas negara Ekuador akhirnya habis. Negara di kawasan Amerika Selatan itu dinyatakan bangkrut.

Pada 2008, untuk kedua kalinya perekonomian Ekuador terjungkal dan terjebak ancaman kebangkrutan dalam sepuluh tahun terakhir. Ekuador saat itu terlilit utang sebesar US$ 10 miliar pada para pemegang obligasi, kreditor multilateral dan pada pemerintahan di sejumlah negara.

Pada 2008 lalu, Ekuador menyatakan tak mau membayar utang negara. Hal ini bukan karena tak mampu, tapi karena pemerintah saat itu tak ingin membayar utang dengan sengaja.

Saat gagal bayar utang pada 2008, Presiden Ekuador Rafael Correa menyebutkan utang negaranya sebagai bentuk pelanggaran moral dan tak bisa dilegitimasi. Utang negara di masa lalu disebabkan serangkaian aksi korupsi pemerintah sebelumnya.

Tahun ini, utang Ekuador tercatat mencapai 24,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Utangnya terus bertambah sejak gagal bayar enam tahun silam.

Meski demikian, menurut data IMF, pertumbuhan ekonomi Ekuador tercatat sehat dalam beberapa tahun terakhir. PDB-nya tumbuh 5,1 persen pada 2012 dan sekitar 4,2 persen tahun lalu. Pada 2014, PDB-nya diprediksi bertahan di level 4,2 persen.