Sukses

Imbas Covid-19, PM Li Keqiang Peringatkan Segera Stabilkan Ekonomi China

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri China Li Keqiang menyerukan dilakukannya lebih banyak langkah penstabilan, ketika strategi nol-Covid-19 mulai mengganggu pertumbuhan dan menurunkan ekonomi terbesar kedua di dunia.

China, manjadi salah satu negara ekonomi besar yang terikat pada kebijakan tes Covid-19 massal dan lockdown ketat untuk meredam klaster penuklaran Virus Corona, tetapi pembatasan ketat telah menghancurkan bisnis.

Dalam beberapa hal, tantangan sekarang "lebih besar daripada ketika pandemi melanda pada tahun 2020", kata Li Keqiang pada pertemuan Dewan Negara pada Rabu (25/5), dikutip dari Channel News Asia, Jumat (27/5/2022).

"Kita saat ini berada pada titik kritis dalam menentukan tren ekonomi sepanjang tahun," ujar Li Keqiang, menurut laporan Xinhua.

"Kita harus memanfaatkan jendela waktu dan berusaha membawa ekonomi kembali ke jalur normal," lanjut dia.

Li Keqiang juga mengatakan para pejabat di China harus memastikan ada pertumbuhan "wajar" pada kuartal kedua, memicu kekhawatiran bahwa target negara itu untuk ekspansi tahunan sekitar 5,5 persen mungkin tidak terpenuhi.

Pernyataan Li menjadi seruan terbaru dari para pejabat dan pemimpin bisnis China tentang keseimbangan antara upaya pencegahan Covid-19 dan memulihkan ekonomi di negara itu.

Pada Senin kemarin (23/5), bank sentral dan regulator perbankan China mendesak lembaga keuangan untuk meningkatkan pinjaman, mengutip tekanan terhadap ekonomi imbas Covid-19.

Desakan itu terjadi ketika penjualan ritel China anjlok hingga 11,1 persen di bulan April 2022 sementara produksi pabrik turun 2,9 persen - penurunan terburuk sejak awal krisis Covid-19.

2 dari 4 halaman

Pemulihan Ekonomi China Diprediksi Lamban Karena Covid-19

Sejumlah ekonom memprediksi ekonomi China tidak akan pulih dengan cepat dari wabah terbaru Covid-19. Para ekonomi ini memprediksi pemulihan ekonomi di China bakal berlangsung lamban. 

“Untuk China, cerita utama di sini adalah kita telah melihat cahaya di ujung terowongan. Dislokasi rantai pasokan terburuk di China dari penguncian Covid tampaknya akan berakhir," ujar Robin Xing, kepala ekonom China Morgan Stanley, dikutip dari CNBC International.

"Tapi kami juga berpikir jalan menuju pemulihan kemungkinan akan lambat dan bergelombang," kata Xing.

Selama akhir pekan, distrik pusat kota Shanghai kembali melarang warga meninggalkan kompleks apartemen mereka untuk melakukan tes Covid-19 massal.

Lebih banyak wilayah di ibu kota Beijing juga meminta warga bekerja dari rumah ketika jumlah kasus harian lokal meningkat - mencapai 83 kasus pada Minggu (22/5/2022) - tertinggi untuk wabah terbaru di kota itu.

Ketika pandemi Covid-19 pertama kali melanda China pada tahun 2020, negara itu sempat bangkit dari kontraksi kuartal pertama menjadi tumbuh pada kuartal kedua.

Tahun ini, China menghadapi varian Covid-19 yang jauh lebih menular, pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah secara keseluruhan, dan lebih sedikit stimulus pemerintah.

Namun sekitar seminggu lalu, Shanghai mengumumkan rencana untuk keluar dari lockdown — dan dibuka kembali sepenuhnya pada pertengahan bulan Juni 2022.

“Banyak wilayah dan kota telah memperketat pembatasan pada tanda pertama kasus lokal," terang Meng Lei, ahli strategi ekuitas China di UBS Securities, dalam sebuah catatan pekan lalu.

"Studi kasus kami di Shanghai, Jilin, Xi'an, dan Beijing menunjukkan gangguan logistik dan rantai pasokan adalah titik nyeri terbesar yang memengaruhi dimulainya kembali produksi," ungkapnya. 

"Oleh karena itu, dimulainya kembali pekerjaan kemungkinan akan dilakukan secara bertahap daripada terjadi dalam semalam," lanjut dia.

3 dari 4 halaman

UBS Pangkas Ramalan Pertumbuhan Ekonomi China Gara-gara Lockdown Covid-19

Bank investasi multinasional yang berbasis di Swiss, UBS memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi China tahun ini hingga 120 basis poin menjadi 3 persen, karena pembatasan ketat Covid-19 di negara itu menghambat sebagian besar aktivitas bisnis.

Dilansir dari Channel News Asia, Rabu (25/5/2022) pemangkasan itu datang sehari setelah JP Morgan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi China hingga setahun penuh menjadi 3,7 persen dari 4,3 persen.

Menurut UBS, kontraksi yang lebih dalam dari perkiraan sekarang kemungkinan terjadi pada ekonomi China di pada ini karena lockdown Covid-19.

Diketahui bahwa lockdown Covid-19 di kota-kota besar di China telah mengganggu berbagai rantai pasokan global dan mendorong penurunan pada perekonomian negara itu.

"Pembatasan yang masih ada dan kurangnya kejelasan tentang strategi keluar dari kebijakan Covid-19 saat ini kemungkinan akan mengurangi kepercayaan perusahaan dan konsumen dan menghambat pelepasan permintaan yang terpendam," kata analis UBS, Tao Wang.

Shanghai pada Sabtu lalu (21/5) mendorong rencana untuk memulihkan sebagian jaringan transportasinya dalam langkah besar pelonggaran lockdown Covid-19 selama berminggu-minggu, sementara pusat keuangan Beijing masih memberlakukan pembatasan karena wabah yang telah berlangsung selama sebulan.

Namun, Wang mengatakan pelonggaran pembatasan Covid-19 di China tidak akan secepat pada tahun 2020, mengingat sifat penyebaran varian Omicron yang cepat.

4 dari 4 halaman

Goldman Sachs Pangkas Ramalan PDB China Jadi 4 Persen Karena Covid-19

Goldman Sachs sebelumnya juga memangkas perkiraan mereka untuk PDB China menjadi 4 persen setelah data untuk bulan April menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi karena Covid-19 membatasi aktivitas bisnis. 

Perkiraan PDB China baru ini bahkan lebih jauh di bawah target pertumbuhan sekitar 5,5 persen yang diumumkan pemerintah China untuk tahun ini di bulan Maret 2022.

"Mengingat kerusakan ekonomi terkait Covid-19 pada kuartal kedua, kami sekarang memperkirakan pertumbuhan China menjadi 4 persen tahun ini (dibandingkan 4,5 persen sebelumnya),” tulis analis Hui Shan dan tim di Goldman dalam sebuah laporan, dikutip dari CNBC International.

"Data yang lemah menyoroti ketegangan antara target pertumbuhan China dan kebijakan nol-Covid-19 yang merupakan inti dari prospek pertumbuhan China," beber analis Goldman.