Sukses

Imbas Lockdown Covid-19, Airbnb Terpaksa Angkat Kaki dari China

Liputan6.com, Jakarta - Airbnb menutup persewaan domestiknya di China, di mana kebijakan nol-Covid-19 dan lockdown untuk menekan penularan Virus Corona berlangsung.

Dilansir dari BBC, Selasa (24/5/2022) sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa semua daftar untuk rumah di China akan dihapus dari situs web Airbnb pada musim panas mendatang. 

Airbnb mengungkapkan, penginapan di China hanya menghasilkan 1 persen dari pendapatannya selama beberapa tahun terakhir.

Perusahaan itu saat ini justru fokus pada warga China yang bepergian ke luar negeri ke destinasi lain.

Sebagai informasi, Airbnb mendirikan bisnisnya di China pada tahun 2016.

Sejak itu, sekitar 25 juta tamu atau pengguna Airbnb telah memesan penginapan di China melalui persewaan rumah online.

Tetapi sumber yang mengetahui keputusan perusahaan membeberkan bahwa operasi sewa domestik untuk pelancong yang mengunjungi China saat ini rumit dan mahal untuk dijalankan bahkan sebelum pandemi.

Misalnya, rincian tamu dikirim ke pemerintah China sesuai dengan undang-undang dan peraturan setempat, dan perusahaan telah menghadapi persaingan yang kuat dari platform persewaan lokal.

Sebelum pandemi Covid-19, pelancong China yang menuju ke luar negeri telah meningkat tiga kali lipat dalam waktu kurang dari satu dekade, dengan 155 juta perjalanan pada 2019, menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB.

Tetapi sejak tahun 2020, China memberlakukan beberapa pembatasan Covid-19 terberat di dunia, membuat perjalanan ke dan di sekitar negara itu sangat sulit.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Aktivitas Ekonomi China Anjlok di April 2022 Imbas Lockdown Covid-19

Aktivitas ekonomi di China mendingin tajam pada April 2022 karena meluasnya lockdown Covid-19 berdampak besar pada konsumsi, produksi industri, dan lapangan kerja. 

Penurunan ini juga menambah kekhawatiran ekonomi dapat menyusut pada kuartal kedua.

Dilansir dari Channel News Asia, penjualan ritel di China pada April 2022 menyusut 11,1 persen dari tahun sebelumnya - kontraksi terbesar sejak Maret 2020, menurut data dari Biro Statistik Nasional.

Angka itu memburuk dari penurunan 3,5 persen yang sudah terjadi di bulan Maret 2022 dan meleset dari perkiraan untuk penurunan 6,1 persen.

Layanan makan di luar dihentikan di beberapa provinsi China, dan penjualan mobil pada bulan April juga turun 47,6 persen dari tahun sebelumnya karena pembuat mobil memangkas produksi di tengah kekosongan showroom dan kekurangan suku cadang.

Ketika langkah-langkah anti-virus mengganggu rantai pasokan dan melumpuhkan distribusi, produksi industri China turun 2,9 persen dari tahun sebelumnya, terutama lebih buruk dari kenaikan 5,0 persen pada Maret 2022 dan di bawah ekspektasi untuk pertumbuhan 0,4 persen.

Angka tersebut juga merupakan penurunan terbesar sejak Februari 2020.

Lockdown Covid-19 di China juga membebani pasar kerja, yang diprioritaskan oleh para pejabat negara itu untuk stabilitas ekonomi dan sosial.

Tingkat pengangguran berbasis survei nasional China naik menjadi 6,1 persen pada April 2022 dari 5,8 persen, tertinggi sejak Februari 2020 ketika berada di 6,2 persen.

Sebagai informasi, lockdown penuh atau sebagian diberlakukan di sejumlah kota di China pada bulan Maret dan April, termasuk penutupan yang berkepanjangan di pusat komersial Shanghai.

Lockdown yang berlangsung hingga berminggu-minggu ini membuat pekerja dan konsumen tidak bisa keluar melakukan aktivitas di luar rumah dan mengganggu rantai pasokan.

3 dari 3 halaman

Pebisnis AS dan Eropa Menjerit Terkena Dampak Lockdown Covid-19 di China

Kelompok-kelompok yang mewakili bisnis dari negara Barat di China mendesak Beijing untuk melonggarkan pembatasannya terkait Covid-19, ketika lockdown yang ketat berdampak pada pendapatan dan investasi mereka.

Selain itu, semakin banyak perusahaan asing di China yang terpaksa mempertimbangkan mengalihkan operasi mereka di Shanghai karena diberlakukannya lockdown Covid-19 - sejak akhir Maret 2022.

Dilansir dari CNN Business, lebih dari 50 persen bisnis Amerika telah menunda atau mengurangi investasi mereka di China sebagai akibat dari wabah Covid-19 baru-baru ini, menurut sebuah survei yang diterbitkan oleh American Chamber of Commerce di China.

Survei yang dilakukan dari 29 April hingga 5 Mei 2022 ini, melibatkan 121 perusahaan AS di China. Survei ini juga merinci dampak lockdown Covid-19 di Shanghai pada perusahaan-perusahaan Amerika.

Sebanyak 58 persen responden telah memangkas proyeksi pendapatan 2022 di China. 

Selain itu, hampir setengahnya mengatakan pekerja asing secara signifikan lebih kecil kemungkinannya atau menolak pindah ke China karena kebijakan nol Covid-19.

"Kami memahami China memilih untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan di atas segalanya, tetapi langkah-langkah saat ini menekan kepercayaan bisnis AS di China," kata Colm Rafferty, ketua American Chamber of Commerce di China, dalam sebuah pernyataan yang menyertai hasil survei.

"Perusahaan anggota kami mendesak pemerintah untuk mencapai keseimbangan yang lebih optimal antara pencegahan pandemi, pembangunan ekonomi, dan keterbukaan negara," tambahnya.