Sukses

Waspada, Pengguna Mobil Pribadi saat Mudik Lebaran 2023 Bakal Melonjak

Liputan6.com, Jakarta Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Budi Setiyadi, mewaspadai atas potensi pergerakan mudik Lebaran 2023 dengan mobil pribadi bakal makin melonjak.

Potensi ini sangat mungkin terjadi, lantaran biaya mudik dengan mobil pribadi jauh lebih ekonomis dibanding pesawat. Lalu juga produsen otomotif kini makin gencar mengeluarkan produk-produk mobil terbarunya.

"Kalau setiap tahun berapa tambahan kendaraan dan mobil di jalan tol banyak cc di bawah 1.500. Artinya, banyak yang tertarik menggunakan mobil. Kalau keluarganya ada 4 dan 5 kan lebih ekonomis dibanding pesawat," kata Budi Setiyadi dalam sesi teleconference, Selasa (17/5/2022).

Di sisi lain, Budi juga menyoroti kapasitas jalan tol maupun non-tol untuk menghadapi lonjakan pemudik tahun depan. Meski sudah terbangun Jalan Tol Trans Sumatera dan Tol Trans Jawa, ia menilai kapasitas jalan pertumbuhannya tidak signifikan dibandingkan volume kendaraan.

"Kalau jalan dari Lampung ke Aceh terhubung, maka kapasitas penyebrangan jadi terbatas sekali. Ini nanti kita lakukan pembahasan untuk mengantisipasi pertumbuhan mobil-mobil yang tinggi, tapi kapasitas jalan Jakarta ke Jawa Timur juga terbatas," tuturnya.

Selain itu, kebijakan lalu lintas seperti skema satu arah (one way) maupun ganjil genap juga perlu dievaluasi lagi. Walaupun sukses mereduksi kepadatan saat musim mudik kemarin, Budi sanksi kebijakan serupa bisa kembali efektif untuk tahun depan.

"Antisipasi ke depan, kalau menggunakan penanganan model sekarang mungkin enggak cukup. Makanya bersamaan ada one way, ganjil genap dan pembatasan kendaraan barang," ujar dia.

"Tahun 2023 apa yang akan dilakukan, minimal membatasi penggunaan roda 4 dan 2. Apakah nanti angkutan umum dibanyakin, nanti kita libatkan kesiapan kita jauh hari untuk 2023," tandasnya.

 

2 dari 3 halaman

Cetak Rekor Arus Balik, 170.078 Kendaraan Kembali ke Jabotabek via Tol

Rekor arus balik tertinggi di sepanjang sejarah jalan tol di Indonesia kembali terjadi pada hari Sabtu, 7 Mei 2022, atau H+4 arus balik Lebaran 2022 ini. Volume lalu lintas kembali ke Jabotabek dari arah Timur (Surabaya, Solo, Semarang, Cirebon dan Bandung) mencapai 170.078 kendaraan.

Angka ini naik 159 persen dari normal 2021, dan mengalahkan rekor tertinggi sebelum pandemi, yang terjadi pada Lebaran 2019 sebesar 166.444 kendaraan atau naik 2,2 persen.

Lalin mudik dari arah Timur merupakan lalin kumulatif arus balik di Jalan Tol Jakarta-Cikampek melalui dua gerbang tol yaitu GT Cikampek Utama untuk pemudik dari arah Jalan Tol Trans Jawa dan GT Kalihurip Utama untuk pemudik dari arah Jalan Tol Cipularang, dengan rincian sebagai berikut:

- GT Cikampek Utama, dengan jumlah 124.761, naik sebesar 272 persen dari normal 2021 sebesar 33.535 kendaraan

- GT Kalihurip Utama, dengan jumlah 45.317 kendaraan, naik sebesar 41 persen dari normal 2021 sebesar 31.968 kendaraan

 

3 dari 3 halaman

Kondisi Lalu Lintas Terkendali

Heru menambahkan H+5, Minggu, 8 Mei 2022, masih akan terjadi kenaikan lagi, mengingat Jasa Marga memang sudah memprediksi sejak awal, bahwa puncak arus balik akan terjadi pada hari ini.

Meski lonjakan volume di Jalan Tol Jakarta-Cikampek luar biasa, namun kondisi lalu lintas dapat dikendalikan.

“Ini yang membedakan dari 2019” tutur Heru. “Pada tahun 2019 untuk mengurai lalin sebesar ini dibutuhkan waktu hingga 24 jam untuk menguras kepadatan luar biasa yang terjadi di berbagai segmen Jalan Tol Jakarta-Cikampek," kata Heru dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/5/2022).

“Tahun ini dengan perencanaan yang lebih matang, dan koordinasi yang jauh lebih intensif, relatif tidak terjadi kepadatan yang berarti di Jalan Tol Jakarta-Cikampek," lanjut dia.

Heru menambahkan bahwa Jalan Layang MBZ sepanjang 38 km yang saat ini digunakan, juga mendukung kelancaran perjalanan tahun ini.

Pada tahun 2019 Jalan Layang MBZ masih dibangun. Saat ini dengan adanya Jalan Layang MBZ menambah kapasitas Jalan Tol Jakarta-Cikampek sebesar 4 lajur untuk kedua arahnya. Hal ini menambah kapasitas Jalan Tol Jakarta-Cikampek eksisting, dari 6 lajur dua arah, menjadi 10 lajur.