Sukses

Streetscooter, Perusahaan Mobil Listrik Jerman Akhirnya Diambil Odin

Liputan6.com, Jakarta - Odin Automotive, perusahaan otomitif asal Luksemburg, mengumumkan telah menyelesaikan transaksi dengan perusahaan pos asal Jerman Deutsche Post DHL Group (DPDHL) pada 4 Januari 2022. Kesepakatan transaksi ini untuk mengakuisisi StreetScooter Engineering.

Aksi ini menyisakan tanda tanya atas rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) yang sebelumnya juga berencana untuk mengambil alih StreetScooter guna memperkuat ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di Tanah Air.

StreetScooter (StSE) sendiri merupakan produsen kendaraan listrik jenis komersial ringan atau electric light commercial vehicle (eLCV) untuk keperluan logistik.

Akuisisi tersebut membuat Odin jadi pemegang hak kekayaan intelektual StSE, lini produksi, dan anak perusahaan StreetScooter yang berdomisli di Swiss dan Jepang.

Melalui aksi tersebut, Odin kini resmi jadi pemilik produsen eLCV terbesar di Jerman serta mengamankan pengembangan sistem baterai dan manufakturnya. Grup usaha juga memegang tambahan pesanan kendaraan listrik milik DPDHL sebanyak 3.500 unit.

CEO dan Chairman Odin Automotive Stefan Krause mengklaim, proses akusisi ini menjadika StreetScooter Engineering yang berbasis di Aachen, Jerman sebagai pemimpin global baru dalam pengembangan, manufaktur dan penjualan eLCV.

"Akuisisi StreetScooter dari Deutsche Post jadi tonggak besar bagi kami. Selain memperoleh lini produksi mapan di bidang kendaraan listrik, kita juga memiliki sistem manajemen armada kendaraan listrik dengan pengalaman lebih dari satu dekade," ujar Krause dikutip dari keterangan resmi Odin Automotive, Kamis (6/1/2022).

Odin Automotive, sebuah perusahaan yang baru didirikan pada September tahun lalu. Perusahaan ini dikepalai Stefan Krause, mantan manajer BMW yang juga pemegang saham utama di Odin Automotive.

Tapi Krause tidak sendirian, ada juga Djamal Attamimi, investor Singapura yang juga jadi bagian dari grup usaha tambang batu bara, Toba Bara. Lalu ada Matthew Paul Richards, pengusaha Indonesia yang bergerak di bidang telekomunikasi bersama Trikomsel Oke.

Sedangkan IBC sendiri sampai berita ini ditulis belum memberikan keterangan apapun saat dihubungi oleh Liputan6.com.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Rencana IBC

Sebelumnya, Indonesia Battery Corporation (IBC) yang merupakan perusahaan patungan holding BUMN yang terdiri dari Mind Id, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk berencana untuk mengakuisisi StreetScootwr. 

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, akuisisi StreetScooter bakal semakin memperkuat hilirisasi industri di Indonesia. Langkah ini melengkapi upaya membentuk ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, karena pemerintah sebelumnya sudah bekerjasama denga LG dan CATL untuk membangun pabrik baterai berbahan dasar nikel.

"Sekarang gini, kalau kita semua menolak bangun hilirisasi baterai, ya enggak usah partner-an sama CATL, LG. Suruh saja mereka bikin sendiri, ngapain BUMN ikut ber-partner," ujar Erick Thohir.

Namun, IBC juga perlu mengeluarkan ongkos tak sedikit hingga mencapai USD 170 juta, atau sekitar Rp 2,43 triliun untuk mengakuisisi StreetScooter yang sebelumnya dimiliki Deutshce Post DHL Group.

Hal ini lantas ditentang Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menilai akuisisi StreetScooter terlalu mahal. Sebab, perhitungan harga kepemilikan sahamnya lebih dari 60 persen menggunakan future valuation, dengan alasan bisnisnya bakal bagus di masa mendatang.

"Anda tidak boleh membeli sesuatu atau mengarang future valuasinya ke depan. Dasarnya apa valuasi future? Ini barang baru," seru Ahok.

Daripada mengambil alih StreetScooter, Ahok mendorong IBC mengembangkan kendaraan listrik di dalam negeri. Seperti program mobil listrik nasional (Molina) yang diusung beberapa perguruan tinggi nasional.

"Lebih baik ngembangin anak-anak ITS (Institut Teknologi Sepuluh November). Kalau Anda enggak ngerti (cara ciptakan ekosistem kendaraan listrik), kenapa Anda enggak ngajak Wuling misalnya," tegas Ahok.