Sukses

Pertemuan WTO Ditunda karena Ancaman Varian Omicron, Kemendag: Prioritas Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) menunda konferensi tingkat menteri secara langsung di Jenewa, Swiss. Penundaan ini untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 varian Omicron.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (Dirjen PPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Djatmiko Bris Witjaksono membenarkan informasi tersebut.

“Betul, ditunda hingga waktu yang akan ditentukan lebih lanjut memperhatikan situasi dan kondisi pandemi,” kata Djatmiko kepada Liputan6.com, Minggu (28/11/2021).

Penundaan mengacu pada keputusan WTO dan sesuai dengan kebijakan yang diterapkan Pemerintah Swiss yang memperhatikan perkembangan terkait pandemi covid-19, yang memerintahkan semua negara anggota termasuk Indonesia agar memaklumi penundaan tersebut.

“Semua negara anggota termasuk Indonesia dapat memaklumi. Untuk rencana selanjutnya semua menunggu pembicaraan di WTO antara Dirjen WTO dan General Council,” jelas Djatmiko.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Larangan Pemerintah Swiss

Sebagai informasi, saat ini Pemerintah Swiss mengumumkan larangan semua penerbangan langsung dari Afrika selatan setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan varian baru virus yang berpotensi lebih berisiko bernama Omicron.

Berdasarkan pernyataan dari Kantor Kesehatan Masyarakat Federal Swiss, mulai Jumat, semua orang yang memasuki Swiss dari Afrika selatan, Hong Kong, Israel, dan Belgia harus menunjukkan tes Covid-19 negatif dan dikarantina selama 10 hari.

Selain itu, Pemerintah Swiss juga meminta agar negara-negara di seluruh Eropa menghentikan perjalanan udara dari Afrika selatan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang varian tersebut.

Anggota Uni Eropa setuju untuk segera memberlakukan pembatasan pada tujuh negara Afrika - Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambik, Namibia, Afrika Selatan dan Zimbabwe - ketika para ilmuwan bergegas untuk menentukan apakah jenis baru lebih berbahaya.