Sukses

Erick Thohir Sampaikan Kabar Gembira ke Nasabah PNM: November Cicilan Turun

Liputan6.com, Jakarta Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari BRI, PNM, dan Pegadaian dalam waktu dekat akan segera diresmikan. Itu artinya, akan memberikan berbagai kemudahan dan biaya pinjaman dana yang lebih murah dengan jangkauan yang lebih luas.

Menteri BUMN Erick Thohir mengaku senang menyampaikan kabar ini kepada ibu-ibu pelaku usaha.

“Insha Allah, di bulan November ini, cicilan akan turun. Saya senang memberitakan hal ini ke Ibu-Ibu karena artinya beban hidup akan semakin ringan. Semoga bisa membantu. Amin,” katanya, seperti dikutip dari akun Instagram resmi miliknya, Selasa (26/8/2021).

Ia menambahkan, jadi dalam waktu dekat Kementerian BUMN akan menyinergikan BRI, PNM, dan Pegadaian.

Selama ini ketiganya aktif dalam membantu pendanaan sektor ekonomi mikro dan kecil. Adanya sinergi ini akan membuat cicilan pinjaman produktif menjadi lebih ringan.

“Penggunaan pinjaman itu agar Ibu-Ibu kita bisa mengembangkan usaha dan bukan untuk membeli barang-barang konsumtif ya,” katanya.

Dengan demikian, ia berharap dengan adanya program ini, ibu-ibu pelaku usaha akan semakin banyak hadir di seluruh wilayah.

“Saya membayangkan lewat program ini akan lahir jutaan “Ibu-IbuPreneur” di seluruh Indonesia yang menopang ekonomi keluarga dan bangsa. Semangat Ibu-Ibu hebat!” tutup Menteri Erick.

Dalam cuplikan video yang diunggahnya, Erick menyapa ibu-ibu dan menyampaikan kabar baiknya. Ia juga berpesan agar para pedagang itu untuk disiplin dalam cicilan.

“Bismillah, mulai November cicilan ibu berkurang, tapi harus yang disiplin, dan kami sekarang berterima kasih kepada ibu-ibu, karena saat ini sudah ada 10,1 juta ibu-ibu yang tergabung dalam PNM Mekaar,” katanya.

 

2 dari 2 halaman

Sasar 18 Juta Pelaku Usaha

Sebelumnya pada satu kesempatan webinar, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM, Kementerian BUMN, Loto S Ginting menuturkan menurut data yang dimilikinya sekitar 45 juta di tahun 2018. 15 juta pelaku usaha diantaranya telah terlayani oleh sektor formal.

Sementara, 7 juta pelaku usaha lainnya meminjam ke kerabat, dan lima juta lainnya kepada rentenir. Sehingga sisanya belum terlayani sekitar 18 juta pelaku usaha.

“Ini yang jadi fokus utama holding Ultra Mikro, kita harapkan melalui mereka akses lembaga formal ini mereka bisa lebih terlindungi,” katanya dalam Webinar Holding BUMN Ultra Mikro, Upaya Pacu Pemulihan Ekonomi Nasional, seperti ditulis Sabtu (21/8/2021).

Ia menilai, bahwa sektor usaha ultra mikro ini memiliki tantangan yang relatif kompleks. Sedikitnya, ia merinci lima tantangan utama yang dihadapi oleh pelaku usaha ultra mikro.

Pertama, Kurangnya akses layanan keuangan formal seperti pinjaman, investasi, pembayaran, bahkan pemberdayaan). Kedua, biaya pinjaman yang cukup tinggi seperti biaya bunga yang dibebankan kepada masyarakat.

Ketiga, jaringan distribusi yang terbatas, dan keempat, rendahnya inklusi keuangan dan literasi keuangan.

“Kelima, membutuhkan waktu yang lama untuk naik kelas karena produk mereka relatif mungkin masih perlu ditingkatkan kualitasnya dan juga kapasitas produksinya terbatas akses dana,” tuturnya.

Kelima tantangan tersebut, dipandang Loto, membuat para pelaku usaha ultra mikro tersebut menjadi semakin terbatas untuk mengembangkan usahanya untuk naik kelas.