Sukses

Menkeu Sampaikan Rancangan Ekonomi Makro RAPBN 2022 ke DPR

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022 dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis (20/5/2021).

Sri Mulyani mengatakan, tema kebijakan fiskal yang ditetapkan untuk tahun depan ialah Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural.

"Dokumen ini akan digunakan sebagai bahan Pembicaraan Pendahuluan dalam penyusunan RAPBN Tahun 2022," ujar Sri Mulyani di hadapan anggota DPR.

Meski di tengah situasi yang tidak pasti, Sri Mulyani mewanti-wanti agar pemerintah merancang kebijakan fiskal yang fleksibel dan responsif namun tetap akuntabel dan hati-hati.

Memang, sejak pandemi Covid-19 melanda, Indonesia merasakan keterpurukan ekonomi yang besar dan berdampak terhadap masyarakat, dimana kerugian negara mencapai Rp 1.356 triliun.

"Sebagian aktivitas ekonomi harus terhenti. Akibatnya, perekonomian Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi 2,1 persen, jauh lebih rendah dari target sebelumnya 5,3 persen," kata Sri Mulyani.

Untuk itu, Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) disusun untuk menangani dampak pandemi dengan sangat cepat, responsif dan komprehensif.

Realisasi PEN 2020 mencapai Rp 579,8 triliun dan dan PEN berhasil memperkuat sistem kesehatan di dalam menangani pasien Covid-19, memberikan perlindungan sosial pada puluhan juta rumah tangga yang rentan dan miskin dan membantu puluhan juta UMKM dan koperasi sehingga mampu bertahan.

"Program PEN juga sangat vital dalam mendukung korporasi dan pemda serta sektor yang terdampak pandemi," kata Sri Mulyani.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Tantangan Berat Sri Mulyani Pulihkan Ekonomi dari Pandemi Covid-19

Pemerintah menyadari masih terdapat beberapa tantangan dalam melakukan pemulihan ekonomi Indonesia, baik di tahun ini maupun di 2022 akan datang. Berbagai tantangan itu datang baik dari internal maupun eksternal.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut, tantangan dalam negeri ke depan adalah bagaimana pemerintah mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan sekaligus memulihkan kembali kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sejauh ini APBN sudah bekerja keras dalam dua tahun berturut-turut menghadapi pandemi Covid-19.

"Masih ada faktor-faktor eksternal dan domestik yang sangat mempengaruhi kondisi ekonomi kita di tahun ini dan tahun depan dan ini pasti akan mempengaruhi desain APBN kita ke depan," ujarnya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2021, Selasa (4/5).

Dia menambahkan, faktor eksternal kemungkinan yang bisa mempengaruhi kinerja APBN kita adalah adanya perubahan kebijakan fiskal moneter di negara maju.

Ini dikhawatirkan menimbulkan spillover apakah itu dalam bentuk inflasi, suku bunga global dan kemudian berujung kepada volatilitas nilai tukar dan capital flow yang mengalami volatilitas juga.

"Disparitas pemulihan ekonomi dunia juga akan menyebabkan perubahan atau dinamika antar negara termasuk dari sisi stimulus maupun kemampuan untuk memperoleh vaksin," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Pemulihan Ekonomi Dunia

Di sisi lain pemulihan dari beberapa negara besar dalam perekonomian seperti China, Amerika Serikat dan sekarang mulai dengan Eropa akan membuat harga komoditas akan mengalami peningkatan yang sangat kuat.

Hal ini seperti yang terjadi 2009 dimana akan memunculkan boom komidtas yang mungkin harus diantisipasi posiitf maupun negarifnya.

"Kita lifat ekonomi domestik kita, pemulihan ekonomi kita masih belum merata antar sektor-sektor yang mungkin lebih mudah pulih dan yang lebih sulit pulih juga antar daerah," jelasnya,

Bendahara Negara itu melanjutkan sektor industri keuangan harus terus dijaga. Karena mereka masih di dalam posisi untuk mendukung pemulihan, namun mereka juga melihat adanya kinerja dari sektor usaha yang perlu untuk diwaspadai. Dan yang terakhir, tentu mencermati perubahan teknologi, terutama teknologi digital dan perubahan iklim.

"Dua faktor ini akan terus mempengaruhi dan men-shape kondisi perekonomian Indonesia yang terbuka dan size nya cukup besar, geografis besar, populasinya besar. Ini lah yang harus menjadi perhatian bagi kita semua policy maler di pusat dan di daerah," jelasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS