Sukses

Ini Alasan Pemerintah Pede Ekonomi RI Tumbuh 7 Persen di Kuartal II 2021

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menjabarkan sejumlah alasan keyakinan pemerintah bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen atau lebih pada kuartal II 2021. Target tersebut bisa dicapai dengan berbagai upaya seperti insentif fiskal dan dorongan untuk berbelanja.

Susiwijono mengatakan ekonomi RI sangat terpukul pada kuartal II 2020 karena pandemi Covid-19. Namun seiring waktu kondisi perekonomian sudah berangsur membaik.

Apabila dilihat dari PDB berdasarkan harga konstan, pada kuartal I 2021 sebesar Rp 2.683 triliun.

"Kuartal I saja sudah segitu, siklusnya di kuartal II selalu akan lebih tinggi kecuali kemarin pas pandemi kita kontraksi betul di sana," kata Susiwijono pada Senin (17/5/2021).

Jika merujuk pada pencapaian tersebut, Susiwijono menilai tidak mungkin kuartal II 2021 akan menjadi lebih rendah. Sehingga jika asumsinya datar dengan catatan pada kuartal II 2020 yang rendah, maka pertumbuhan ekonomi 6,3 persen bisa dicapai pada kuartal II 2021.

Oleh sebab itu, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 tidak menutup kemungkinan bisa mencapai 7 persen. Hal ini didukung dengan serangkaian upaya pemerintah untuk mencapai target tersebut.

"Plus effort yang sekarang kita lakukan banyak sekali mulai dari insentif fiskal, mendorong spending maka akan lebih tinggi. Sehingga kita hitung akan tinggi dari yang normal 2019. Artinya kita hitung ada kemungkinan di kisaran 7 persen atau lebih," jelas Susiwijono.

2 dari 3 halaman

Pengusaha Yakin Ramadan dan Lebaran Dongkrak Ekonomi Kuartal II 2021

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid menyatakan, momen bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri menjadi salah satu faktor pemicu dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang positif, pada Kuartal II 2021.

Dia mengungkapkan, selain meningkatkan konsumsi masyarakat, Ramadan dan Idul Fitri juga mendorong pertumbuhan penggunaan sarana informasi, telekomunikasi, kesehatan, dan pertanian.

“Momen Ramadan dan Idul Fitri selalu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun ini, masyarakat menyambut Idul Fitri lebih antusias, dibandingkan tahun lalu. Saya yakin pertumbuhan ekonomi yang positif, pada Kuartal II tahun ini akan terwujud,” kata Arsjad di Jakarta, pada Senin (17/5/2021).

Selama bulan Ramadan, lanjut Arsjad, masyarakat cukup patuh menjalankan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Ditambah lagi, pemerintah juga menerapkan kebijakan yang memicu peningkatan konsumsi dan produktivitas, di antaranya peningkatan penyaluran likuiditas bagi sektor riil, penurunan suku bunga pinjaman korporasi, dan meningkatkan kinerja ekspor.

“Bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri juga memicu kenaikan omzet penjualan. Permintaan konsumen yang terus bertambah mendorong peningkatan produksi dan omzet penjualan. Ini berarti terjadi perputaran uang yang cukup besar sehingga menimbulkan efek domino. Ditambah lagi banyaknya program diskon yang ditawarkan pelaku usaha. Ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi kita,” jelas pengusaha yang juga mencalonkan Ketua Umum Kadin Indonesia, periode 2021-2026.

Arsjad juga sependapat dengan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut dan menunjukkan tren kenaikan pada Kuartal II-2021. Pemulihan tersebut tercermin pada sejumlah indikator, di antaranya PMI Manufaktur yang mencapai 54,6 dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mendekati angka normal yaitu antara 90-100.

“Saya sependapat dengan Menko Perekonomian Pak Airlangga Hartarto bahwa perekonomian nasional akan tumbuh berdasarkan V-curve. Pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II akan memasuki jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen,” ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera telah mendekati arah positif, yaitu minus 0,86 persen, Pulau Jawa minus 0,83 persen, dan Pulau Kalimantan minus 2,23 persen.

Sementara itu, sebagian wilayah Kawasan Tengah dan Timur Indonesia telah bertumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi di Pulau Sulawesi positif 1,2 persen, Maluku dan Papua 8,97 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: