Sukses

OJK: Sering Terjadi Miss-Selling di Industri Jasa Keuangan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) angkat suara terkait maraknya masalah yang merugikan nasabah atau konsumen di institusi jasa keuangan. Hal ini bisa terjadi lantaran nasabah yang tergiur imbak hasil besar sekaligus juga karena marketing lembaga keuangan yang terkadang miss selling.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, masyarakat cenderung tergiur dengan produk jasa keuangan yang menawarkan imbal hasil yang tinggi. Kondisi tersebut jadi peluang terjadinya produk gagal bayar.

Selain itu, Wimboh menuturkan kerap terjadi miss-selling atau penjualan produk yang tidak tepat. Sebagai contoh, ia menyebutkan ada calon nasabah mengira produk yang ditawarkan oleh jasa keuangan adalah produk bank, sehingga tertarik untuk membeli. Namun, ternyata produk tersebut adalah asuransi unitlink yang menggabungkan layanan proteksi dengan investasi.

Ia mengatakan nasabah kerap terjebak pada produk tersebut karena pemasarannya dilakukan di kantor cabang bank dengan iming-iming imbal hasil tinggi hingga lebih dari 10 persen.

"Kadang marketing juga pintar, daripada ditarik lebih baik pindah ke sini, ya mau. Ini adalah unitlink, akhirnya begitu underlying-nya jeblok tidak bisa deliver bunga 10 persen, even pokoknya tidak bisa deliver," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Economic Outlook 2021: Memacu Pertumbuhan di Tengah Pandemi, Selasa (24/11/2020).

Untuk itu, Wimboh mengaku OJK tengah memperbaiki ekosistem tersebut. Di saat bersamaan, OJK juga akan meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Untuk menghindari miss-selling, OJK juga akan mengimplementasikan market conduct. Dimana setiap produk yang dikeluarkan oleh lembaga jasa keuangan harus jelas baik dari sisi jenis produk, risiko, cara penjualan, dan sebagainya.

"Semua kami lakukan. Apalagi sekarang dengan teknologi, OJK akan melakukan reformasi berkaitan dengan proses bisnis di OJK, semua melakukan pengawasan dengan digital, semua laporan digital bahkan semua produk di-post di website dan komunikasi dengan OJK menggunakan digital," kata Wimboh.

 

2 dari 3 halaman

OJK Ingin Startup Indonesia Tak Hanya Jago Kandang

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan di era disrupsi 4.0 ini, semakin banyak startup yang berkembang dan berlomba menyasar pasar internasional demi memperluas bisnis mereka.

Karena ketatnya persaingan tersebut, Wimboh meminta agar pemain start up lokal bisa berkiprah di mancanegara.

"Indonesia dilirik karena penduduknya banyak, jangan kita menjadi pasar, tapi jadi player. Startup kami minta keluar kandang, jangan jago kandang saja, kami monitor mereka dan ruang masih besar," ujar Wimboh dalam webinar OJK Mengajar, Kamis (19/11/2020).

Wimboh bilang, teknologi akan menjadi backbone pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan karena memiliki ruang peluang yang masih luas.

Kemudian, potensi permintaannya besar karena penduduknya banyak dan sekarang ini ada beberapa daerah yang sudah bisa dijangkau teknologi.

"Apalagi di masa pandemi, pertemuan fisik mestinya dihindari. Ini juga bagi UMKM bisa bangkit secara cepat dengan pembinaan di daerah," ujar Wimboh.

Sebenarnya sudah ada beberapa start up yang melebarkan sayapnya ke Filipina dan Thailand. Kendati, angkanya tentu harus ditingkatkan lagi. Dirinya juga mendorong agar generasi mudah bisa menjadi seorang entrepreneur untuk menyokong ekonomi Indonesia.

"Jangan semua cita-cita jadi pegawai, kami dorong jadi entrepreneur. Tujuannya membantu masyarakat Indonesia mendapat produk keuangan yang murah, nyaman, aman, dan cepat," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: