Sukses

Chappy Hakim: Aturan Penumpang Pesawat 70 Persen Perlu Ditinjau Ulang

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Penerbangan dari Pusat Studi Air Power Indonesia, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, menilai penerapan kebijakan pembatasan jumlah penumpang di pesawat sebanyak 70 persen perlu ditinjau ulang.

“Pemerintah dapat segera melakukan pembenahan dan penyesuaian aturan serta menetapkan sasaran jangka pendek untuk mengatasi ini semua, dalam konteks pembenahan aturan sudah selayaknya harus mencakup protokol kesehatan yang harus dipatuhi tanpa syarat,” kata Chappy dalam webinar Resiliensi Kinerja dan Strategi Pemulihan Bisnis Sektor Transportasi Udara Pada Saat dan Pasca Pandemi covid-19, Rabu (23/9/2020).

Namun, menurutnya pola kepatuhan terhadap ketentuan protokol kesehatan hendaknya tidaklah menjadi hambatan bagi upaya membangkitkan lagi gairah penumpang dalam menggunakan kembali jasa angkutan transportasi udara.

Misalnya tentang pembatasan 70 muatan pesawat perlu ditinjau ulang tanpa mengabaikan standar protokol kesehatan yang berlaku, lalu kelengkapan High-Efficiency Particulate Air (HEPA) atau penyaring partikel udara dalam kabin pesawat patut pula menjadi rujukan bagi ketentuan persentase jumlah penumpang yang dapat diijinkan terbang.

Kemudian mengenai subsidi relaksasi keringanan pajak dan sejumlah fasilitas yang akomodatif bagi dunia bisnis penerbangan. Lalu keringanan keringanan lain yang dapat menjadi stimulus dalam bisnis transportasi udara, sudah seharusnya pula turut dikembangkan.

Kata Chappy, pada titik inilah mungkin saja penerapan metode national single window policy sudah dapat mulai diterapkan dalam urusan birokrasi di bidang penerbangan sipil nasional.

“Penanganan ini yang dalam lingkungan teknologi tidak punya pilihan lain dari sebuah mekanisme standar yang berorientasi kepada komando terpadu atau unified command and control,” pungkasnya.

2 dari 4 halaman

Dua Studi Laporkan COVID-19 Bisa Menyebar di Dalam Pesawat

Sebelumnya, insiden penyebaran COVID-19 di dalam pesawat masih terus ditelusuri peneliti. Namun belum lama ini, sebuah tim peneliti dari Vietnam melacak sekelompok kasus yang terkait dengan penerbangan yang tiba di Hanoi dari London pada 2 Maret lalu.

Seperti dilansir CNN, seorang wanita muda dan saudara perempuannya melakukan perjalanan Vietnam-Eropa untuk mengunjungi Milan dan Paris sebelum menuju London--tepat saat virus corona sedang merebak di sana.

 

"Seorang wanita pengusaha berusia 27 tahun dari Vietnam, yang kami identifikasi sebagai kasus indeks kemungkinan, telah berada di London sejak awal Februari," tulis Nguyen Cong Khanh dari Institut Nasional Higiene dan Epidemiologi di Hanoi dan rekannya.

"Pada 22 Februari, kasus pertama, saudara perempuannya kembali ke Milan, Italia, dan kemudian melakukan perjalanan ke Paris, Prancis, untuk Fashion Week tahunan sebelum kembali ke London pada 25 Februari," tulis mereka di jurnal Emerging Infectious Diseases.

Wanita tersebut kemudian naik penerbangan ke Hanoi pada 1 Maret. Namun ketika wanita itu meninggalkan London, ia mengalami sakit tenggorokan dan batuk saat naik penerbangan pulang ke Vietnam. Dan saat itu tidak ada yang memperhatikan.

Pada saat ia turun dari penerbangan di Hanoi 10 jam kemudian, 15 orang lain yang berada di pesawat bersamanya terinfeksi, lapor peneliti pada hari Jumat (18/9).

"Dia duduk di kelas bisnis dan terus mengalami sakit tenggorokan dan batuk selama penerbangan," para peneliti menambahkan. Dia pergi ke rumah sakit tiga hari setelah mendarat dan dinyatakan positif terkena virus.

Petugas kesehatan lalu melacak 217 penumpang dan awak yang telah berada dalam penerbangan bersamanya dan menemukan 12 penumpang kelas bisnis, dua penumpang kelas ekonomi dan satu petugas juga terinfeksi. Para peneliti mengatakan tidak ada cara lain di antara 15 orang lainnya yang mungkin tertular selain paparan pasien yang sakit dalam penerbangan.

"Rute penularan yang paling mungkin selama penerbangan adalah transmisi aerosol atau droplet dari kasus 1, khususnya untuk orang yang duduk di kelas bisnis. Kami menyimpulkan bahwa risiko penularan SARS-CoV-2 di dalam pesawat selama penerbangan panjang memang benar adanya dan berpotensi menyebabkan bertambahnya jumlah orang yang tertular, bahkan dengan pengaturan seperti pada kelas bisnis yang tempat duduknya lebih luas sekalipun," tulis Nguyen Khanh.

Insiden ini menunjukkan bagaimana virus corona dapat menyebar di dalam pesawat, dan menunjukkan kalau hanya memberi sedikit jarak tidak akan melindungi mereka sepenuhnya.

Adapun insiden lainnya yang mirip yaitu pada penerbangan Boston-Hongkong. Namun penumpangnya diduga menginfeksi dua pramugrari--ini sebelum maskapai penerbangan diharuskan memakai masker.

3 dari 4 halaman

Studi lain

Sedangkan pada insiden kedua, dari pasangan suami-istri yang melakukan penerbangan dari Boston ke Hong Kong dan juga menempati kelas bisnis pada 9 Maret. Mereka berdua menunjukkan gejala setelah mereka tiba dan didiagnosis dengan virus corona.

Setelah dilakukan pelacakan kontak, ditemukanlah dua pramugrari yang juga positif tertular virus. "Satu-satunya lokasi di mana keempat orang berada dalam jarak dekat untuk waktu yang lama adalah di dalam pesawat," tulis Deborah Watson-Jones dari London School of Hygiene & Tropical Medicine dan rekannya dalam laporan kedua di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS dan jurnal Prevention's Emerging Infectious Diseases.

Selama COVID-19 masih berlangsung dan mengancam seluruh penduduk dunia maka tidak ada salahnya bagi setiap penumpang untuk menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi dan membuat penerbangan aman. 

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: