Sukses

Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Kenaikan Harian Tertinggi Dalam Sejarah

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak meroket pada hari Kamis setelah Presiden Donald Trump mengatakan kepada CNBC bahwa Saudi dan Rusia akan mengurangi tekanan pada minyak. Ini sekaligus mengakhiri perang harga yang telah berkontribusi terhadap penurunan besar minyak mentah.

Dikutip dari CNBC, Jumat (3/4/2020), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 24,67 persen menjadi USD  25,32 per barel, untuk kenaikan persentase satu hari terbesar dalam sejarah.

Mengingat penurunan WTI 59 persen tahun ini. Tentu saja, sekarang menyumbang persentase pergerakan yang jauh lebih besar. Benchmark internasional, minyak mentah Brent melonjak 17,8 persen, atau USD 4,40, diperdagangkan pada USD 29,14 per barel.

Trump mengatakan kepada Joe Kernen CNBC Kamis bahwa ia berbicara kepada Presiden Putin kemarin dan Putra Mahkota Saudi Kamis dan mengharapkan mereka mengumumkan pengurangan produksi minyak 10 juta barel dan bisa mencapai 15 juta.

Presiden kemudian berkicau di twitter bahwa pengurangan produksi akan bagus untuk industri minyak & gas. Komentarnya datang sebelum pertemuan dengan para eksekutif industri energi yang dijadwalkan pada hari Jumat. Hal ini membuat harga minyak lebih dahulu mengalami kenaikan.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah dalam 18 Tahun

Harga minyak AS turun ke level terendah dalam 18 tahun pada penutupan perdagangan Senin karena permintaan melemah. Sedangkan Arab Saudi dan juga negara-negara anggota OPEC tengah berancang-ancang untuk meningkatkan produksi.

Dengan semain menyebarnya pandemi Corona, permintaan minyak mentah di dunia terus melemah. Sebagian besar orang-orang di dunia memilih untuk tinggal di rumah atau tidak bepergian yang sehingga menekan kebutuhan bahan bakar.

Mengutip CNBC, Selasa (31/3/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate di AS turun 6,6 persen atau USD 1,42 menjadi USD 20,09 per barel, level terendah sejak Februari 2002.

Di sesi perdagangan Selasa, harga minyak mentah berjangka juga merosot lebih dari 9 persen hingga diperdagangkan pada level USD 19,27 per dolar AS.

Sedangkan untuk harga minyak mentah Brent yang merupakan patokan dunia turun 8,7 persen menjadi USD 22,76 per barel, harga terakhir terlihat pada 2002.

Penurunan permintaan minyak mentah akibat pandemi Corona ini tepat di saat rencana pemotongan produksi OPEC berakhir. Mulai 1 April 14 negara produsen minyak mulai memompa produksi sebanyak yang mereka inginkan, dan Arab Saudi telah berjanji untuk meningkatkan produksinya sebanyak mungkin.

Mengingat gantaman yang besar dari sisi penawaran maupun permintaan, analis memproyeksikan bahwa meskipun harga minyak telah turun 55 persen pada Maret ini, masih akan terdapat penurunan yang lebih besar pada bulan depan.

"Dengan dampak Corona yang terus membebani permintaan global, kemungkinan kapasitas penyimpanan minyak mentah global akan meningkat pada 2020, menciptakan skenario mimpi buruk dan kemungkinan bahwa minyak mentah dapat menguji ambang USD 10 per barel," kata analis Raymond James John Freeman. 2 dari 2 halaman