Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp 57.250 per Kg

Berikut daftar harga pangan termasuk cabai rawit merah pada Sabtu, (18/7/2026).

Diterbitkan 18 Juli 2026, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan seperti cabai rawit merah tembus Rp 57.250 per kilogram (kg) pada Sabtu pagi, (18/7/2026) pukul 09.00 WIB. Sementara itu, harga telur ayam ras mencapai Rp 20.550 per kg.

Demikian ditunjukkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, dikutip dari Antara, Sabtu pekan ini.

Selain itu, data PIHPS lainnya juga menunjukkan harga cabai merah besar mencapai Rp 47.450 per kg, cabai merah keriting Rp 46.500 per kg dan cabai rawit hijau Rp 53.000 per kg.

Di sisi lain, harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional lainnya yaitu bawang merah mencapai Rp 43.800 per kg dan bawang putih Rp 43.750 per kg.

Selanjutnya  beras kualitas bawah I di harga Rp 14.750 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.550 per kg. Kemudian beras kualitas medium I Rp 16.350 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp 16.150 per kg.

Beras kualitas super I di harga Rp 17.650 per kg, dan beras kualitas super II Rp 17.150 per kg. Daging ayam ras segar Rp 38.450 per kg, daging sapi kualitas I Rp 150.600 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 141.550 per kg.

Lalu harga komoditas yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.300 per kg, gula pasir lokal Rp 19.100 per kg.

Sementara itu, minyak goreng curah di harga Rp 20.550 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 24.200 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 23.450 per liter.

 

Purbaya: Inflasi Juni 2026 Dipicu Harga BBM dan Pangan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi Indonesia Juni 2026 akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Optimisme tersebut didasarkan pada kenaikan harga yang saat ini lebih banyak dipicu oleh komoditas yang bersifat fluktuatif, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah bahan pangan, bukan karena lonjakan permintaan masyarakat.

Menurut Purbaya, harga komoditas yang bersifat musiman pada akhirnya akan kembali normal. Apalagi, harga minyak dunia saat ini mulai mengalami penurunan yang diperkirakan akan diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia juga menegaskan, kondisi inflasi saat ini belum mencerminkan adanya permintaan masyarakat yang terlalu tinggi. Hal itu terlihat dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada pada level relatif stabil.

"Basically gitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya. 

 

Kenaikan Harga Hanya Sementara

Purbaya menilai stabilnya inflasi inti menjadi sinyal bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara dan tidak berasal dari sisi permintaan.

"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," kata Purbaya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama kelompok tersebut dengan andil 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6