Sukses

Pelanggan GMF Meningkat di 2019

Liputan6.com, Jakarta - Pasar internasional ternyata masih menjadi incaran dan peluang besar untuk PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) Tbk,. Terbukti, di tahun ini, perusahaan Garuda Group itu kedatangan aircraft atau maskapai asing yang bekerjasama dengannya.

Hal ini membuat optimis perbaikan kinerja di tahun ini. Direktur Utama GMF, Tazar Marta Kurniawan mengungkapkan, posisi GMF sebagai pemain utama dalam Maintenance, Repair and Overhaul atau MRO di Asia maupun dunia.

"Customer kami dari non group terus meningkat, terkhusus maskapai penerbangan internasional, ini yang akan jadi fokus kami kedepannta," ungkap Tazar, saat Public Expose GMF di Auditorium Garuda City Centre (GCC), Komplek Perkantoran Bandara Internasional Soekarno Hatta, Selasa (28/1/2020).

Untuk saat ini, komposisi pemeliharaan atau perbaikan pesawat milik Garuda dan non Garuda, posisi tertinggi dipegang 71 persen custumer internasional alias non Garuda Internasional. Sisanya sebanyak 29 persen pesawat milik Garuda Indonesia grup.

Tazar juga mengungkapkan, tahun ini performa GMF masih baik. Ditandai dengan kostumer atau brand maskapai asing ternama dunia, yang mempercayakan pemeliharaan pesawat terbangnya ke GMF.

 

2 dari 4 halaman

Daftar Maskapai Asing Pelanggan GMF

Antara lain Indigo, perbandingannya di tahun 2019 GMF menangani 28 unit pesawatnya, di tahun ini menjadi 30 pesawat. Lalu, Oman dengan jenis pesawat Airbus 330 dan 737 NG yang ditahun lalu sebanyak 16 pesawat, tahun ini GMF menangani 27 pesawat.

"Lalu loyal custumer kami dari Korea Selatan, seperti Korea Air, Jeju juga masih menjadi loyal kostumer kami," ujar Tazar.

Lalu dari Italia masuk Aitalia dengan pesawat Boeng 777 sebanyak 3 pesawat. Nepal satu pesawat, dsri Australia sebanyak 3 pesawat.

Terbaru, di tahun ini masuk 3 pesawat ATR jenis 72-600 dari negara Fiji. "Nantinya akan ditangani di hanggar Pondok Cabe," kata Tazar.

 

3 dari 4 halaman

Target Kinerja 2020

Dengan kata lain, Tazar mengklaim, pada sektor pemeliharaan airframe ini GMF tumbuh sebesar 24 persen.

Dan memasuki tahun 2020 ini, perseroan menargetkan pendapatan dapat tumbuh sekitar 5 persen, dengan laba bersih sekitar 10 persen.

Target kenaikan pendapatan ditahun ini juga akan diikuti langkah efisiensi, seperti mengoptimalkan kapabilitas yang dimiliki.

"Dan juga memaksimalkan penggunaan Part Manufacturing Approval (PMA)," ujar Tazar.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mulai Maret, Sriwijaya Air Tambah Penerbangan Langsung Jakarta-Belitung
Artikel Selanjutnya
RUU Omnibus Law: Syarat Kepemilikan Pesawat bagi Maskapai Diperlonggar