Sukses

Neraca Dagang Indonesia Surplus terhadap AS

Liputan6.com, Jakarta - Neraca Perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 1,33 miliar pada November 2019. Defisit tersebut disebabkan oleh defisit sektor migas sebesar USD 1,02 miliar dan defisit nonmigas sebesar USD 300 juta. Secara tahunan, Indonesia mencatatkan defisit sebesar USD 3,1 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, meski mengalami defisit, Indonesia masih mengalami surplus terhadap beberapa negara. Tiga negara terbesar mengalami defisit terhadap Indonesia antara lain Amerika Serikat, India dan Belanda.

"Terhadap Amerika Serikat, Indonesia surplus sebesar USD 8,5 miliar sepanjang 2019 dari Januari hingga November. Terhadap India surplus sebesar USD 6,7 miliar. Kemudian, terhadap Belanda surplus USD 2 miliar," ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Senin (16/12/2019).

Adapun 10 komoditas yang diekspor ke luar negeri antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, mesin dan perlengkapan elektrik, kendaraan dan bagiannya, besi dan baja, logam mulia dan perhiasan, karet dan barang dari karet, mesin dan peralatan mekanis, pakaian dan aksesorisnya serta alas kaki.

Sementara itu, Indonesia juga mengalami defisit terhadap 3 negara seperti China, Australia dan Thailand. Terhadap China, Indonesia mengalami defisit sebesar USD 16 miliar sepanjang 2019. Angka ini turun jika dibandingkan dengan periode tahun lalu sebesar USD 18 miliar.

"Selain China, Indonesia mengalami defisit terhadap Australia sebesar USD 2,4 miliar. Turun tipis bila dibandingkan dengan tahun lalu sebesar USD 2,8 miliar. Kemudian neraca dagang Indonesia juga defisit terhadap Thailand terhadap USD 3,5 miliar, turun dari tahun lalu sebesar USD 4,7 miliar," paparnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Neraca Dagang Indonesia Defisit USD 1,33 Miliar di November 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,33 miliar pada November 2019. Neraca perdagangan tersebut disebabkan oleh menurunnya ekspor menjadi USD 14,01 miliar dan impor sebesar USD 15,34 miliar.

"Total impor kita pada November 2019, sebesar USD 15,34 miliar. Jadi kalau kita bandingkan dengan ekspor maka defisit kita cukup dalam sebesar USD 1,33 miliar," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (16/12/2019).

Suhariyanto mengatakan, nilai neraca perdagangan pada November disumbang oleh defisit sektor migas sebesar USD 1,02 miliar dan non migas sebesar USD 0,3 miliar. Menurutnya, melambatnya ekspor karena perekonomian global yang melambat.

"Tantangan yang kita hadapi menjadi luar biasa dan harus ekstra hati-hati. Hal ini sebagian besar disebabkan perdagangan global melambat, ekonomi global melambat. Jadi kita harus ekstra hati-hati ke depan," jelasnya.

3 dari 4 halaman

Nilai Ekspor Indonesia

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-November 2019 mencapai USD153,11 miliar atau menurun 7,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 141,67 miliar atau menurun 5,71 persen.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas November 2019 terhadap Oktober 2019 terjadi pada bijih, terak, dan abu logam sebesar USD 239,6 juta (46,78 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada Iemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 131,2 juta (8,69 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-November 2019 turun 3,55 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 16,35 persen. Sementara ekspor hasil pertanian naik 3,50 persen.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
KUR Jadi Cara Pemerintah Dongkrak Level UMKM
Artikel Selanjutnya
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melemah karena Kinerja Ekspor Turun