Sukses

Harga Tanah Naik 4 Kali Lipat, Milenial Susah Beli Rumah di Kaltim?

Liputan6.com, Jakarta - Harga tanah di Kalimantan Timur tercatat naik hingga empat kali lipat pasca ketetapan Pemerintah memindahkan Ibu Kota baru.

Seperti diketahui, Pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kabupaten Penajem Paser Utara dan sebagian ke Kabupaten Kutai Kertanegara.

Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, meski harga tanah naik drastis, milenial tetap memiliki porsi untuk memiliki rumah di Kaltim.

"Meskipun harga tanah sudah 4 kali lipat tapi saya kira masih lebih murah dibandingkan harga di jakarta. Selain itu dengan lahan yang nantinya begitu luas dan kebanyakan dikuasai Pemerintah, maka sangat besar peluang bagi Pemerintah menyediakan perumahan murah untuk milenials," tuturnya kepada Liputan6.com, Kamis (12/9/2019).

Piter menjelaskan, pembangunan Ibu Kota Baru justru menurut dapat menjadi sarana atau stimulus untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik ditengah perlambatan ekonomi global.

"Membangun ibu kota baru menurut saya kita butuhkan sebagai sarana untuk memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus membalance perekonomian," ujarnya.

"Jadi tantangannya adalah bagaimana membiayainya. Skema KPBU adalah solusinya. Tapi ini harus disupport dengan kebijakan moneter dan fiskal yg kondusif, yaitu kebijakan moneter dan fiskal yang lebih longgar. Termasuk diantaranya kebijakan perpajakan yg lebih longgar," lanjut dia.

2 dari 3 halaman

Pertamina Usung Konsep City Gas di Ibu Kota Baru

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) akan menerapkan konsep kota gas (city gas) untuk pemenuhan energi di ibu kota baru pengganti Jakarta. Dengan konsep ini bisa mengoptimalkan penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina akan mengoptimalkan penggunaan gas di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kedua kabupaten tersebut ditetapkan sebagai ibu kota baru yang akan menggantikan Jakarta.

Gas dipilih jadi prioritas bahan bakar karena letak ibu kota baru berdekatan dengan sumur yang menjadi sumber pasokan gas. "Potensi sumber daya alam yang ada itu bisa dioptimalkan," kata Nicke, di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Untuk mengembangkan infrastruktur energi di ibu kota baru, Pertamina akan menerapkan konsep city gas dengan membangun jaringan pipa di wilayah tersebut.

"Nanti itu akan seperti Kota Bontang, ini sudah menjadi city gas," ujarnya.

Di kesempatan terpisah, Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Mansury mengungkapkan, Pertamina memiliki lahan banyak di Kalimantan Timur, sehingga siap mendukung pemindahan ibu kota negara ke Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.

"Pertamina siap dukung karena lahan kita banyak sekali‎," imbuhnya.‎

Menurutnya, Kalimantan ‎Timur merupakan basis produksi Pertamina, baik dari sisi produksi migas dengan dioperatorinya beberapa blok migas maupun dari sisi produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan adanya Kilang Balikpapan.

"Memang selama ini Balikpapan Kalimantan Timur salah satu basis produksi kita, dari sisi kilang kita punya lahan di Kalimantan Timur, basis produksi upstream dan midstream,"‎ tuturnya.

Dengan adanya pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur, dia yakin akan meningkatkan geliat ekonomi di wilayah tersebut, sehingga membutuhkan infrastruktur penyediaan energi.

Namun ‎Pahala belum bisa memaparkan rencana pembangunan infrastruktur energi di ibu kota baru, sebab Pertamina masih melakukan pemetaan bentuk ibu kota baru.

"Belum kalau dari kita, saat ini kita masih ingin memahami dulu sebetulnya bentuknya seperti apa," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: