Sukses

Bos Uniqlo: Perempuan Cocok Jadi CEO

Liputan6.com, Tokyo - Tadashi Yanai menginginkan seorang perempuan untuk penerusnya sebagai CEO Uniqlo. CEO perempuan dinilai Tadashi lebih teliti dan tak gampang menyerah.

"Pekerjaan itu lebih cocok untuk seorang perempuan, (mereka) lebih tahan banting, berorientasi kepada detail, dan punya pandangan estetika," ujar Tadashi Yanai seperti dikutip Forbes.

Siapapun yang terpilih menjadi CEO Uniqlo, maka ia akan memimpin perusahaan yang tahun lalu meraup operating profit sebesar USD 2,3 miliar atau Rp 32,5 triliun (USD 1 = Rp 14.152).

Penjualan Uniqlo di Jepang juga naik 9,9 persen pada Agustus 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Uniqlo juga sedang terkena dampak negatif dari cekcok politik antara Jepang dan Korea Selatan.

Salah satu perempuan yang berpotensi menjadi CEO Uniqlo adalah Maki Akaida. Ia diangkat menjadi CEO operasi bisnis Uniqlo di Jepang pada Juni lalu, Nikkei Asian Review mencatat Akaida sebelumnya adalah senior vice president di Fast Retailing, induk Uniqlo.

Tadashi Yanai dan keluarganya memiliki saham sebesar 44 persen di Uniqlo. Kekayaan Yanai kini mencapai USD 30,4 miliar (Rp 430,1 triliun) dan menjadikannya sebagai orang terkaya di Negeri Sakura.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Uniqlo Derita Kerugian karena Aksi Boikot Korea Selatan

Uniqlo, merek fesyen asal Jepang harus menanggung dampak negatif akibat perseteruan politik antara Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Hubungan kedua negara memanas hingga akar rumput dan berujung boikot.

Cekcok dimulai ketika Pemerintahan Shinzo Abe dituduh "memberatkan" proses perizinan produk Korsel dari lima hari menjadi 15 hari.

Pihak Korsel meyakini itu adalah langkah Abe karena tak terima keputusan mengganti rugi biaya wanita penghibur Korsel yang ditindas Jepang pada masa kolonial di awal abad 20. 

Produk Jepang pun kena boikot, mulai dari bir Asahi dan Sapporo sampai baju Uniqlo. Jubir induk Uniqlo pun mengakui hal itu.

"Kami bisa mengkonfirmasi bahwa ada dampak penjualan di Korea," ujar juru bicara Fast Retailing, induk Uniqlo di Jepang seperti dikutip dari Reuters, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Laporan Forbes juga menyebut pembeli Uniqlo di Korea Selatan sedang makin sedikit, padahal sedang ada diskon. Antreannya yang biasa mengular pun terpantau sepi.

Uniqlo memiliki hampir 190 toko di Korsel yang menghasilkan penjualan 140 miliar yen per tahun atau Rp 18,8 triliun (1 yen = Rp 134). Penjualan Uniqlo di Jepang menyumbang 6,6 persen revenue perusahaan.

Nikkei Asian Review melaporkan Korea Selatan juga siap mencabut Jepang dari daftar putih mereka. Langkah ini dinilai balasan sebagai karena Jepang turut mencabut Korsel dari daftar putih pada awal Agustus.

Namun, pihak Jepang malah tidak terima dan berkata tindakan Korea Selatan melanggar hukum internasional.

3 dari 3 halaman

Presiden Moon Ajak Berdamai

Presiden Korsel Moon Jae In pun akhirnya menyampaikan pernyataan diplomatis agar kedua negara berdamai. Korsel berkata siap berdialog jika Jepang mau.

"Bila Jepang memilih jalan dialog dan kooperasi, kami akan dengan senang hati bergandengan tangan," ujar Moon dalam pidatonya seperti dikutip The Japan Times.

"Merenungkan masa lalu bukan berarti bergantung pada masa lalu tetapi menjadi lebih kuat dari apa yang terjadi dan maju menuju masa depan," tambah Moon.

Pidato itu dipersiapkan dalam rangka menandakan liberalisasi dari kolonialiasi Jepang pada 1910-1945.

Jepang dan Korsel juga sama-sama sekutu AS di Asia Timur. Presiden Moon berharap Jepang dan Korsel bisa berperan bersama dalam membuat kedamaian dan kesejahteraan di Asia Timur sembari merenungkan masa lalu kedua negara.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS