Bertemu Elon Musk Cs, Xi Jinping: Pintu China Bakal Terbuka Lebih Lebar

Saat bertemu CEO perusahaan AS termasuk Elon Musk, Presiden China Xi Jinping menuturkan, China menyambut AS untuk meningkatkan kerja sama.

Diterbitkan 14 Mei 2026, 21:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden China Xi Jinping mengatakan pintu bisnis di China akan terbuka lebar. Ia menuturkan hal itu kepada CEO perusahaan Amerika Serikat (AS) termasuk CEO Tesla Elon Musk yang ikut bersama Presiden AS Donald Trump ke China.

“Xi mengatakan, perusahaan-perusahaan AS sangat terlibat dalam reformasi dan keterbukaan China, dan kedua belah pihak telah memperoleh manfaat dari hal ini,” berdasarkan laporan dari media yang didukung pemerintah, Xinhua, dikutip dari CNBC, Kamis (14/5/2026).

Xi menuturkan, pintu China akan terbuka lebih lebar. Ia mengatakan, China menyambut AS untuk meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan dengan China. Ia juga mengungkapkan keyakinannya kalau perusahaan-perusahaan AS akan menikmati prospek lebih luas di China.

CEO Tesla Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Apple Tim Cook termasuk di antara CEO perusahaan teknologi terkemuka yang ikut Trump ke China. Xinhua melaporkan, Trump mengenalkan masing-masing dari mereka kepada Xi Jinping satu per satu.

“Para pengusaha AS mengatakan kalau sangat mementingkan pasar China, dan berharap untuk memperdalam operasi bisnis di China dan memperkuat kerja sama dengan China,” demikian terungkap dalam laporan media.

Melalui unggahan di platform X dahulu bernama Twitter, Gedung Putih tampaknya membalas sentimen seputar akses pasar.

“Kedua pihak membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara, termasuk memperluas akses pasar bagi bisnis Amerika Serikat ke China dan meningkatkan investasi China,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan di platform X.

Partner and Co-Chair of Digital Practice at the Asia Group, George Chen menuturkan, komentar Xi Jinping merupakan pernyataan yang kuat kepada perusahaan-perusahaan dunia untuk terus berinvestasi di China.

“Saya pikir pernyataan Xi Jinping tentang keterbukaan bukan hanya untuk propaganda. China memang perlu tetap menarik bagi investasi asing,” ujar dia.

Fokus pada AI

Baik China dan Amerika Serikat mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan pesat.

AS telah berupaya memutus akses China dari berbagai teknologi yang dapat memajukan AI negara tersebut, termasuk chip Nvidia. China telah memperkuat rantai pasokan teknologi domestiknya dengan perusahaan semikonduktor lokal yang mengisi kekosongan tersebut.

Model AI buatan China dari perusahaan seperti Alibaba telah mampu bersaing dengan beberapa teknologi yang dirilis oleh perusahaan-perusahaan terkemuka di AS.

Pada Kamis, Reuters melaporkan Washington telah memberikan lampu hijau kepada Nvidia untuk memasok beberapa perusahaan teknologi di China dengan H200, salah satu produknya yang lebih canggih.

Nvidia telah dikenai pembatasan ekspor ke China, tetapi ada beberapa laporan selama setahun terakhir yang menunjukkan bahwa AS akan mengizinkan perusahaan tersebut untuk menjual chip ke negara tersebut. Namun, tampaknya hal itu belum terwujud karena China dilaporkan telah mendesak perusahaan-perusahaan lokal untuk membeli semikonduktor dalam negeri.

 

Kerja Sama AS-China

Ketika ditanya oleh Joe Kernen dari CNBC tentang laporan mengenai Nvidia H200, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan: "Ini berita baru bagi saya."

"Saya tahu ada banyak tarik ulur, dan kita harus melihat hasilnya. Itu adalah fungsi departemen perdagangan,” ia menambahkan.

Huang, yang baru bergabung dalam perjalanan ke China, menyebut pertemuan di Beijing sebagai “salah satu pertemuan puncak terpenting dalam sejarah,” dalam komentarnya kepada wartawan. Namun, ia menolak berkomentar tentang penjualan chip Nvidia di China. Ia malah mengatakan, Trump dan Xi menunjukkan sikap yang ramah.

"Upacara pagi ini sangat menggembirakan. Presiden Xi sangat menginspirasi, sangat ramah, dan Presiden Trump juga sangat menginspirasi dan sangat ramah,” kata Huang.

Bessent mengatakan kepada CNBC, China dan AS akan bekerja sama dalam protokol keamanan tentang “praktik terbaik untuk AI guna memastikan aktor non-negara tidak mendapatkan akses ke model-model ini.”

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6