Sukses

Sifat Individualis Banyak Ditemukan pada Miliarder

Liputan6.com, New York City - Sifat individualis yang terkadang dicibir ternyata membawa sisi positif, yakni membawa kesuksesan. Pakar miliarder menyebut sifat invidualis berarti memiliki ide sendiri dan tak mudah ikut-ikutan pendapat orang.

Dikutip dari Business Insider, miliarder ternyata memiliki sifat individualis sejak usia dini. Mereka percaya kepada insting mereka sendiri meski ada yang meragukan ide mereka.

"Para miliarder adalah non-konformis yang menunjukan individualisme sejak usia dini ketika mereka mereka kerap melanggar aturan. Selama bertahun-tahun mereka belajar untuk memercayai insting mereka dan melawan arus, bahkan ketika orang sekitar berpikir mereka tidak waras dan menasihati mereka agar tidak coba-coba," ujar Rafael Badziag, seorang pakar psikologi kewirausahaan.

Badziag meneliti langsung 21 miliarder selama lima tahun dan menuliskan hasilnya di buku berjudul The Billion Dollar Secret: 20 Principles of Billionaire Wealth and Success (Rahasia Satu Miliar Dolar: 20 Prinsip Kekayaan dan Kesuksesan Miliarder).

Meski demikian, sifat individualis tersebut sebaiknya tidak menjadi penghambat kerja sama. Penulis Dr. Greg Reid yang mewawancara 100 orang terkaya menyebut kerja sama, bahkan dengan lawan bisnis, bisa membuat tambah kaya.

Trik bekerja sama dengan kompetitor bahkan digunakan oleh orang-orang kaya agar tetap kaya raya. "Berbagai bisnis seringnya dapat menolong satu sama lain," ujarnya.

Selain itu, para miliarder pun diminta jangan sampai enggan mencari pertolongan atau nasihat bila memerlukan. Rafael Badziag berkata tidak melakukan hal tersebut bisa berakibat seperti membuat kesalahan atau tenggelam oleh menumpuknya pekerjaan yang dilakukan.

2 dari 4 halaman

Siap Lengserkan Donald Trump, Miliarder Ini Maju Jadi Capres AS

Miliarder Tom Steyer (62) akhirnya menjadi miliarder pertama yang resmi maju menjadi kandidat presiden Amerika Serikat (AS). Pria ini juga terkenal ingin memakzulkan Presiden Donald Trump.

Lewat video berdurasi 4:04 menit, Steyer mengumumkan pencalonannya sebagai presiden dan berkata sistem demokrasi dan politisi sedang tidak sehat karena tidak mengutamakan rakyat. 

"Saya pikir rakyat percaya bahwa sistem telah menelantarkan mereka. Saya pikir rakyat percaya bahwa dunia korporat telah membeli demokrasi. Bahwa para politikus tidak peduli atau menghormati mereka," ujar Steyer.

Kepada NBC News, miliarder ini mengaku bukanlah boneka dari siapapun. Pria ini juga prihatin atas nasih AS di bawah kepresidenan Donald Trump.

"Saya sampai tak bisa tidur karena memikirkan di mana posisi kita sebagai negara," ujar Steyer.

Menurut Forbes, kekayaan Tom Steyer saat ini adalah USD 1,6 miliar atau Rp 22,6 triliun (USD 1 = Rp 14.136). Hartanya berhasal dari sektor keuangan, namun ia sudah beralih fokus ke dunia politik dan lingkungan sejak 2012.

Sang miliarder harus bersaing dengan Senator Elizabeth Warren, mantan Wakil Presiden Joe Biden, hingga penasihat spiritual Marianne Williamson, demi terpilih sebagai kandidat Partai Demokrat.

Pilpres AS akan berlangsung pada tahun depan. Presiden Donald Trump sudah menyatakan berminat untuk lanjut ke periode dua.

3 dari 4 halaman

Ada Pula Miliarder yang Ingin Donald Trump Terpilih Lagi, Kenapa?

Tak terasa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyelesaikan periode pertamanya pada tahun depan. Trump yang juga miliarder itu pun siap melanjutkan sebagai presiden pada periode kedua.

Terkait dana kampanye, Presiden Trump tampaknya tidak perlu pusing, sebab miliarder Bernie Marcus siap menjadi penyokong dana. Forbes mencatat kekayaannya mencapai USD 5,8 miliar atau sekitar Rp 91,6 triliun.

Dilansir Yahoo! Finance, sosok Bernie Marcus ternyata amatlah dermawan. Ia sudah menyumbang lebih dari USD 2 miliar kepada 300 organisasi.

Sang miliarder mengaku tidak tahu seberapa kaya dirinya dan berusaha menyumbang mayoritas hartanya selama ia hidup. Ia juga mendukung Presiden Trump agar terpilih lagi karena cara berpikir Trump yang seperti pebisnis dalam menghadapi masalah.

"(Trump) memiliki pendekatan common sense seorang pebisnis untuk dalam berbagai isu. Apakah saya setuju dengan segala hal yang ia lakukan? Tidak. Tetapi kenyataannya ia menghasilkan lebih banyak ketimbang yang lain," ujar Marcus.

Dibandingkan delapan atau enam tahun lalu, keadaan AS lebih baik ketimbang enam atau delapan tahun yang lalu. Kekuarangan Trump sebagai presiden, menurut Marcus, adalah caranya dalam berkomunikasi.

Bernie Marcus merupakan Co-Founder Home Depot yang bergerak di sektor ritel. Selain Marcus, miliarder tersohor lain yang mendukung Trump adalah bos industri judi Sheldon Adelson, bos WWE Vince McMahon, dan investor teknologi Peter Thiel.   

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Hong Kong Rusuh, Alibaba Batal Dapat Duit Rp 213 Triliun
Artikel Selanjutnya
12 Klub Premier League yang Dimiliki Miliarder