Stablecoin Ripple Resmi Dapat Izin Operasi di Jepang

Stablecoin RLUSD milik Ripple resmi mendapat izin beroperasi di Jepang. Langkah ini membuka peluang Ripple bersaing dengan USDT dan USDC di pasar Asia.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan teknologi blockchain Ripple resmi memperluas kehadiran stablecoin RLUSD ke Jepang setelah memperoleh persetujuan dari regulator keuangan negara tersebut. Langkah ini membuka jalan bagi RLUSD untuk masuk ke salah satu pasar aset kripto dengan regulasi paling ketat di Asia.

Dikutip dari Coindesk, Kamis (25/6/2026), Badan Jasa Keuangan Jepang atau Japan Financial Services Agency (JFSA) memberikan izin kepada RLUSD sebagai instrumen pembayaran elektronik baru berdasarkan Payment Services Act. Kategori tersebut diperuntukkan bagi stablecoin yang diterbitkan di luar Jepang, tetapi telah memenuhi standar regulasi yang berlaku di negara tersebut.

Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk memiliki nilai yang stabil. Dalam hal ini, RLUSD dipatok terhadap dolar Amerika Serikat sehingga nilainya diharapkan tetap mengikuti pergerakan mata uang tersebut.

Di Jepang, RLUSD akan dipasarkan melalui SBI VC Trade, unit bisnis aset digital milik grup keuangan SBI. Stablecoin tersebut akan tersedia bagi nasabah institusi maupun investor ritel melalui platform VCTRADE.

Persetujuan regulator Jepang menjadi pencapaian penting bagi Ripple. Pasalnya, Jepang dikenal memiliki aturan yang sangat ketat terhadap penerbitan dan penggunaan stablecoin, terutama yang berasal dari luar negeri.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Ripple Bidik Pasar Institusi, tetapi Masih Tertinggal dari USDT dan USDC

Meski berhasil memasuki pasar Jepang, skala RLUSD masih jauh lebih kecil dibandingkan stablecoin terbesar di dunia. Ripple menyebut kapitalisasi pasar RLUSD telah mencapai sekitar US$ 1,7 miliar sejak diluncurkan pada akhir 2024.

Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan Tether (USDT) yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 186 miliar, maupun Circle (USDC) dengan nilai sekitar US$ 74 miliar.

Ekspansi ke Jepang juga menjadi realisasi nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Ripple dan SBI pada Agustus 2025. Hubungan kedua perusahaan sebenarnya telah terjalin sejak 2016 melalui kerja sama di bidang pembayaran lintas negara dan pengembangan infrastruktur blockchain di Asia.

Dalam pernyataannya, Senior Vice President Stablecoins Ripple, Jack McDonald, mengatakan RLUSD akan memainkan peran penting dalam ekosistem keuangan digital.

"RLUSD akan berfungsi sebagai jembatan untuk pembayaran, tokenisasi, dan pengelolaan agunan (collateral management)," ujar Jack McDonald.

Ripple menegaskan RLUSD merupakan stablecoin yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan institusi, khususnya dalam penyelesaian transaksi (settlement) dan tokenisasi aset dunia nyata di blockchain. Stablecoin ini juga berbeda dengan XRP, aset kripto yang selama ini paling dikenal sebagai bagian dari ekosistem Ripple.

Masuknya RLUSD ke Jepang menjadi bagian dari strategi Ripple memperluas pasar di Asia, di tengah semakin banyak negara yang mulai menerapkan regulasi resmi terhadap stablecoin.