Liputan6.com, Jakarta - Sejarah bom atom Nagasaki menjadi babak paling kelam dalam Perang Dunia II. Pada 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir kedua setelah Hiroshima, menghancurkan Nagasaki dalam hitungan detik dan menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Bom berjuluk "Fat Man" itu awalnya menyasar Kokura, namun cuaca buruk membuat pesawat Bockscar mengalihkan sasaran ke Nagasaki. Ledakan dahsyat meluluhlantakkan kawasan industri dan permukiman, meninggalkan luka fisik serta trauma bagi para penyintas.
Kini, setiap 9 Agustus, Jepang menggelar upacara Peringatan Bom Atom Nagasaki di Taman Perdamaian tepat pukul 11.02 waktu setempat. Simak ulasan lengkapnya tentang sejarah bom atom Nagasaki yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (8/8/2026).
Advertisement
Latar Belakang Perang Dunia II dan Proyek Manhattan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1158580/original/018909600_1456897205-bom_nagasaki.jpg)
Menjelang pertengahan tahun 1945, Perang Dunia II di kawasan Pasifik memasuki fase paling brutal. Jepang menolak menyerah meski sudah terdesak, sementara pasukan Sekutu menghadapi kerugian besar dalam pertempuran demi pertempuran di berbagai pulau.
Di sisi lain, Amerika Serikat sejak tahun 1942 telah menjalankan Proyek Manhattan, sebuah program rahasia untuk mengembangkan senjata nuklir pertama di dunia. Proyek ini melibatkan ribuan ilmuwan, termasuk fisikawan ternama seperti J. Robert Oppenheimer, dan menghabiskan dana serta sumber daya yang sangat besar.
Setelah uji coba pertama berhasil di gurun New Mexico pada Juli 1945, pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk menggunakan senjata baru ini guna mempercepat berakhirnya perang. Hiroshima menjadi kota pertama yang dijatuhi bom atom pada 6 Agustus 1945. Namun, Jepang tetap belum menunjukkan tanda-tanda menyerah, sehingga rencana penjatuhan bom kedua pun disiapkan hanya dalam hitungan hari.
Advertisement
Detik-Detik Peristiwa 9 Agustus 1945
Pada pagi hari 9 Agustus 1945, pesawat pengebom B-29 bernama Bockscar lepas landas dari Pulau Tinian membawa bom nuklir berjenis implosi plutonium yang dijuluki "Fat Man". Target utama misi ini sebenarnya adalah Kota Kokura, yang dikenal memiliki fasilitas militer penting. Namun, kondisi cuaca yang berkabut dan berawan tebal menutupi pandangan pilot, sehingga sasaran dialihkan ke target cadangan, yakni Kota Nagasaki.
Tepat pukul 11.02 waktu setempat, bom tersebut dijatuhkan dan meledak di atas wilayah Urakami, salah satu kawasan padat penduduk yang juga menjadi pusat industri persenjataan Mitsubishi. Ledakan dengan kekuatan setara sekitar 21 kiloton TNT ini jauh lebih besar dibandingkan bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Meskipun begitu, kontur perbukitan di sekitar Nagasaki sedikit meredam sebaran kerusakan dibandingkan Hiroshima yang berada di dataran terbuka.
Dampak Bom Atom bagi Kota Nagasaki
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3535453/original/057491600_1628496252-AP21221151095606.jpg)
Dampak ledakan sungguh mengerikan. Diperkirakan sekitar 40.000 hingga 75.000 orang tewas seketika akibat ledakan, panas ekstrem, dan radiasi yang menyebar dengan cepat. Ribuan bangunan hancur total, termasuk Katedral Urakami yang saat itu menjadi katedral Katolik terbesar di Asia Timur.
Selain korban jiwa yang langsung berjatuhan, banyak penyintas mengalami luka bakar parah, kebutaan sementara, hingga penyakit akibat paparan radiasi yang baru muncul beberapa tahun kemudian, seperti leukemia dan berbagai jenis kanker.
Generasi penyintas ini dikenal dengan sebutan "hibakusha", istilah dalam bahasa Jepang yang berarti orang yang terkena dampak bom. Banyak dari mereka harus menanggung stigma sosial dan diskriminasi selama bertahun-tahun, terutama saat mencari pekerjaan atau pasangan hidup, karena kekhawatiran masyarakat terhadap efek radiasi yang dianggap dapat menurun ke keturunan mereka. Trauma psikologis akibat kehilangan keluarga dan menyaksikan kehancuran kota juga membekas hingga akhir hayat para penyintas.
Advertisement
Proses Pemulihan dan Rekonstruksi Nagasaki
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4913568/original/026235200_1723192065-20240809-Peringatan_79_tahun_Bom_Atom-AFP_1.jpg)
Setelah Jepang resmi menyerah pada 15 Agustus 1945, proses pemulihan Nagasaki dimulai secara perlahan. Pemerintah Jepang bersama bantuan internasional bekerja keras membangun kembali infrastruktur kota yang hancur, mulai dari perumahan, fasilitas kesehatan, hingga sistem transportasi. Meski membutuhkan waktu bertahun-tahun, Nagasaki perlahan bangkit dan bertransformasi menjadi kota pelabuhan yang modern sekaligus tetap menjaga jejak sejarahnya.
Salah satu langkah penting dalam proses pemulihan adalah pembangunan Taman Perdamaian Nagasaki (Nagasaki Peace Park) yang berdiri tidak jauh dari titik pusat ledakan atau hypocenter. Di taman ini terdapat Patung Perdamaian Nagasaki yang menjadi ikon kota, menggambarkan sosok pria dengan satu tangan menunjuk ke langit sebagai simbol ancaman nuklir, dan tangan lainnya terentang mendatar sebagai simbol perdamaian abadi.
Peringatan Bom Atom Nagasaki di Masa Kini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5310584/original/095279900_1754735124-Untitled.jpg)
Setiap tahun pada tanggal 9 Agustus, Peringatan Bom Atom Nagasaki digelar secara resmi di Taman Perdamaian. Acara ini biasanya dihadiri oleh perwakilan pemerintah Jepang, delegasi dari berbagai negara, para penyintas hibakusha yang masih hidup, serta warga sekitar. Rangkaian acara diawali dengan mengheningkan cipta tepat pukul 11.02 waktu setempat, mengikuti detik-detik ledakan bom terjadi puluhan tahun silam.
Wali Kota Nagasaki biasanya membacakan Deklarasi Perdamaian yang berisi seruan kepada dunia internasional untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir dan menjaga perdamaian dunia secara berkelanjutan. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk mengedukasi generasi muda mengenai bahaya senjata nuklir melalui museum bom atom, pameran foto, serta kesaksian langsung dari para penyintas yang masih bersedia berbagi cerita.
Advertisement
Pelajaran dari Sejarah Bom Atom Nagasaki
Sejarah bom atom Nagasaki mengajarkan banyak hal penting bagi umat manusia. Peristiwa ini menjadi pengingat nyata betapa mengerikannya dampak senjata nuklir, tidak hanya bagi generasi yang mengalaminya secara langsung, tetapi juga bagi generasi berikutnya yang harus menanggung dampak jangka panjang, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.
Nagasaki, bersama Hiroshima, hingga kini menjadi simbol gerakan perdamaian dunia dan kampanye anti senjata nuklir. Berbagai organisasi internasional terus menggunakan kisah kedua kota ini sebagai landasan moral untuk mendorong perjanjian pelucutan senjata nuklir. Dengan memahami sejarah kelam ini, diharapkan generasi masa kini dan mendatang dapat lebih menghargai perdamaian serta berupaya mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Pertanyaan Seputar Sejarah Bom Atom Nagasaki
Mengapa Nagasaki dijadikan target, bukan Kokura?
Kokura merupakan target utama, tetapi kondisi cuaca berkabut dan berawan tebal pada hari itu menutupi pandangan pilot pesawat Bockscar. Karena visibilitas yang buruk membuat penargetan visual tidak memungkinkan, misi dialihkan ke target cadangan, yaitu Kota Nagasaki, yang saat itu cuacanya relatif lebih cerah.
Berapa jumlah korban jiwa akibat bom atom Nagasaki?
Diperkirakan sekitar 40.000 hingga 75.000 orang tewas seketika akibat ledakan, panas ekstrem, dan radiasi. Jumlah korban terus bertambah dalam bulan dan tahun-tahun berikutnya akibat luka bakar parah, penyakit radiasi, serta berbagai komplikasi kesehatan jangka panjang seperti kanker.
Apa itu hibakusha?
Hibakusha adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk menyebut para penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Banyak dari mereka mengalami dampak kesehatan jangka panjang serta menghadapi stigma sosial selama bertahun-tahun akibat kekhawatiran masyarakat terhadap efek radiasi.
Kapan dan di mana Peringatan Bom Atom Nagasaki diadakan?
Peringatan ini digelar setiap tanggal 9 Agustus di Taman Perdamaian Nagasaki, tepat pukul 11.02 waktu setempat, mengikuti waktu terjadinya ledakan bom pada tahun 1945. Acara ini dihadiri pejabat pemerintah, penyintas hibakusha, dan delegasi dari berbagai negara.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4012159/original/035865800_1651313935-20220430-_Gerbang_Tol_Cikampek-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4529326/original/039044100_1691417008-IMG_4489.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1802978/original/038406000_1513333656-800px-Nagasakibomb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411723/original/069752100_1479709693-Jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262853/original/066200900_1781850563-107139155-1666426301839-gettyimages-1243511682-AFP_32K492Z.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317410/original/067619500_1786010704-IMG_20260806_153815_639.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1881704/original/035883300_1518159850-Kim-Yo-Jong-1.jpg)