Sukses

Gubernur BI Paparkan 4 Sektor Potensial untuk Investasi di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengajak investor global untuk segera berinvestasi di Indonesia karena prospek ekonomi Indonesia sangat cerah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid dan stabilitas makro ekonomi yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global, kondusif untuk iklim investasi di Indonesia.

Perry menuturkan, terdapat empat sektor potensial untuk berinvestasi di Indonesia. Empat sektor itu antara lain sektor manufaktur, pariwisata, perikanan dan infrastruktur.

"Untuk mendukung tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk pengembangan empat sektor potensial di Indonesia, BI terus melakukan bauran kebijakan serta melakukan sinergi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Perry dalam Indonesia Infrastructure Investment Forum (IIIF) di London, Inggris, seperti dikutip dari laman Setkab, yang ditulis Kamis (4/7/2019).

Perry mengatakan, peluang investasi di sektor manufaktur fokus pada tiga komoditas ekspor Indonesia antara lain otomotif, tekstil dan alas kaki.

Sementara peluang investasi untuk sektor pariwisata difokuskan pada pengembangan prioritas tujuan pengembangan dan branding pariwisata Indonesia yaitu Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, Joglo Semar, Bali, Jakarta, Banyuwangi, Bromo dan Kepulauan Riau.

Adapun untuk sektor perikanan, peluang investasi terbuka khususnya di Indonesia kawasan timur untuk pengembangan budidaya dan industri pengolahan pendukungnya mengingat besarnya potensi sumber daya alam Indonesia.

"Peluang investasi di sektor infrastrutur level nasional, mengacu kepada daftar proyek strategis nasional yang diterbitkan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) terdiri dari 223 proyek dan tiga program," kata dia.

Untuk mendukung pembangunan proyek infrastruktur, Perry menuturkan, BI terlibat dalam Strategi Nasional Pendalaman Pasar Keuangan sebagai implementasi reformasi struktural pada pembiayaan infrastruktur.

Selain itu terus mengembangkan instrumen hedging di pasar valuta asing untuk meningkatkan pembiayaan inovatif dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur.

 

2 dari 4 halaman

IIIF 2019

IIIF 2019 menjadi ajang promosi peluang investasi di empat sektor tersebut dan dihadiri pelaku usaha, kalangan investor, institusi keuangan, dan asosiasi pengusaha khususnya di negara setempat.

Penyelenggaraan IIIF 2019 merupakan kerja sama antara KBRI London, Indonesia Investment Promotion Center (IIPC), London, Kantor Perwakilan Luar Negeri (KPw LN) Bank Indonesia London, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan.

Pelaksanaan IIIF 2019 jadi wujud program lingkage investor relation unit/IRU-regional investor relation unit/RIRU-Global Investor Relation Unit/Giru yang merupakan upaya integrasi kegiatan hubungan investor di tingkat regional, nasional dan internasional.

Linkage IRU-RIRU-GIRU tersebut ditujukan untuk mensinergikan upaya dan peran kementerian/lembaga dan Bank Indonesia (BI) dalam mengelola persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia untuk mendorong aliran investasi ke Indonesia, antara lain melalui kegiatan promosi terpadu.

3 dari 4 halaman

Pendalaman Pasar Keuangan RI Kalah dari Thailand dan Malaysia

Sebelumnya, calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan saat ini pasar keuangan Indonesia masih tergolong dangkal. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara peer.

"Fakta yang ada menunjukkan bahwa sektor keuangan kita relatif dangkal bila dibandingkan peer group," kata dia,  saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi XI Gedung DPR di Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.

Salah satu fakta yang dia sebutkan adalah rasio kredit terhadap PDB yang masih rendah, yakni sebesar 37 persen. Ini lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai 85 persen dan Malaysia yang mencapai 115 persen.

"Untuk pasar modal, kapitalisasi pasar saham terhadap PDB hanya sebesar 46 persen, sementara di Thailand dan Malaysia mencapai 96 persen dan 110 persen," jelas dia.

Demikian pula rasio outstanding obligasi terhadap PDB. Indonesia hanya 19 persen sementara di Thailand dan Malaysia mencapai sekitar 80 persen dan 100 persen.

Menurut dia, pendalaman sektor keuangan sangat penting untuk mendukung perekonomian Indonesia. "Pendalaman sektor keuangan menjadi sangat penting bukan hanya untuk mendukung terjadinya stabilitas ekonomi namun juga untuk mendukung pembiayaan pembangunan ekonomi," ujarnya.

"Terbatasnya sumber dana pemerintah dan domestik menyebabkan penggunaan sumber dana dari sektor swasta dan luar negeri sangat menjadi penting," tandasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini