Sukses

Kredit Bank Bakal Tumbuh hingga 12 Persen pada 2019

Liputan6.com, Yogyakarta - Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Ryan Kiryanto menyebutkan prospek ekonomi Indonesia 2019 diperkirakan tetap baik dengan stabilitas terjaga. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 5,0-5,4 persen pada 2019.

Namun demikian, Ryan menegaskan ada beberapa risiko yang harus dihadapi oleh Indonesia. Baik berasal dari eksternal maupun domestik.

Risiko eksternal di antaranya adalah ekonomi global dan volume perdagangan yang semakin melambat, ketegangan perdagangan yang berlanjut, geopolitikal terutama ketidakpastian Brexit dan harga komoditas yang turun.

"Perlambatan ekonomi global, perang dagang belum selesai dan perlambatan ekonomi China. Kombisani ini membuat kita hadapi risiko secara terbuka," kata dia dalam acara pelatihan wartawan Bank Indonesia, di Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019).

Kemudian, risiko dari sisi internal atau domestik adalah kondisi defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD). Kendati demikian, dia optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tercapai pada 2019.

"Kami optimis pertumbuhan ekonomi kita bisa di atas 5 persen, feeling saya 5,2 persen," ujar dia.

Sementara itu, inflasi dipastikan tetap terkendali dalam kisaran  3,5 persen plus minus satu persen. Kredit perbankan akan tumbuh mendekati batas 10-12  persen dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh dalam kisaran 8 - 10 persen.

"Sinergi kebijakan untuk memperkuat ekspor, kinerja sektor pariwisata, dan mengendalikan impor akan berdampak pada defisit CAD 2019 menuju 2,5 persen terhadap PDB," ujar dia.

 

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Ketidakpastian Global Berkurang

Sebelumnya, ekonomi global saat ini melambat. Amerika, Eropa dan China sama-sama mengalami perlambatan. Namun, kondisi tersebut membuat ketidakpastian di pasar keuangan menjadi berkurang.

Deputi Direktur Departeman Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), IGP Wira Kusuma mengatakan, melambatnya ekonomi global membuat ketidakpastian menurun karena beberapa faktor.

Salah satunya adalah Federal Funds Rate (FFR) atau suku bunga antarbank yang saat ini lebih dovish.

"Kalau kita lihat ketidakpastian pasar keuangan globalnya berkurang karena FFR itu lebih dovish sekarang," kata dia dalam acara pelatihan wartawan di Yogyakarta, Sabtu 23 Maret 2019. 

Kondisi tersebut membuat aliran modal ke emerging market (negara berkembang) terus meningkat. 

"Ketidakpastian global mendorong aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia meningkat. Inilah yang membantu financial account kita," ujar dia.

Selain itu, kebijakan moneter di advance country lainnya mengalami perubahan. "Menyebabkan likuiditas di emerging market termasuk Indonesia menjadi bertambah," kata dia.

Di sisi lain, geopolitik, perang dagang serta proses  brexit masih mempengaruhi kondisi perekonomian global.

"Itu dampak ke perekonomian domestik melalui trade channel dan dinamika pasar keuangan global pengaruhi perekonomian domestik melalui financing channel. Mulai dari ekspor melambat dan konsumsi tetap kuat," kata dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pertumbuhan Ekonomi Dunia Diprediksi Melambat Jadi 2,9 Persen
Artikel Selanjutnya
BI Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen di Kuartal III