Sukses

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah di Posisi 14.365 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah pada awal perdagangan saham. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.365.

Pada pra-pembukaan perdagangan saham, Selasa (18/12/2018), IHSG turun 5,57 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.076,29. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG berubah haluan dengan menguat 8,07 poin atau 0,13 persen ke level 6.090,36.

Sebanyak 105 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 37 saham melemah sehingga menahan penguatan ke level yang lebih besar. Di luar itu, 93 saham diam di tempat.

Di awal sesi perdagangan, IHSG sempat bergerak di posisi tertinggi 6.096,34 dan terendah 6.076,22. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 8.955 kali dengan volume perdagangan 163,1 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 153 miliar.

Investor asing jual saham Rp 27 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.365.

Sebagian besar sektor saham pembentuk IHSG menguat. Hanya ada satu sektor yang tertekan yaitu pertambangan yang menurun 0,09 persen.

Sektor saham industri dasar menguat 1,33 persen dan mencatatkan kenaikan terbesar. Sektor saham manufaktur melonjak 0,47 persen dan sektor saham kontruksi naik 0,51 persen.

Saham-saham yang tercatat menguat antara lain saham AGRS menanjak 22,38 persen ke posisi Rp 350 per saham, saham GLOB mendaki 10,80 persen ke posisi Rp 390 per saham, dan saham ABBA menguat 9,62 persen ke posisi Rp 113 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham FORU merosot 6,54 persen ke posisi Rp 100 per saham, saham PKPK turun 5,45 persen ke posisi Rp 104 per saham, dan saham OCAP tergelincir 5,41 persen ke posisi Rp 175 per saham.

2 dari 3 halaman

Prediksi Analis

IHSG diprediksi menguat pada perdagangan saham Rabu ini. IHSG diperkirakan melaju positif dengan diperdagangkan pada level support dan resistance di 6.002-6.355.

Meski investor kini tengah menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, Analis memprediksi IHSG akan berada di zona hijau. Itu diperkuat dimana dalam jangka panjang, IHSG masih menunjukan pola uptrend (naik). 

"Jadi jika terjadi momentum koreksi, hal ini masih bisa dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target investasi jangka panjang. Adapun IHSG berpeluang naik di kisaran 6.002-6.355," jelas Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya di Jakarta.

Sementara itu, dari sisi eksternal, investor kini kecewa pada pidato Presiden Tiongkok Xi Jinping yang tidak menawarkan komitmen baru untuk membuka dan merangsang pertumbuhan ekonomi. Investor pun diperkirakan masih akan menunggu hasil pertemuan rapat The Fed hingga esok hari.

"Terutama hasil pertemuan The Fed mengenai outlook pertumbuhan ekonomi dan sikap pada suku bunga guna mengimbangi inflasi yang lebih cepat," sambung Head of Research Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat.

Di sisi lain, Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin J. Sebayang menyarankan agar investor lebih antisipatif pada pekan ini. Hal ini terutama terkait kemungkinan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan menaikan suku bunga acuannya merespon keputusan The Fed.

"Jadi dalam rangka memperkecil defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), investor harus antisipasi bahwa ada kemungkinan besar BI menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bpt) kembali pada 20 Desember ini," kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sempat Berkutat di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik ke 6.181,01
Artikel Selanjutnya
IHSG Dibuka Menguat ke 6.173,93